Djogdja Memang Istimewa

Saya tiba di Jogja tanpa gegap gempita. Tidak ada target besar, tidak pula agenda ambisius. Hanya satu niat sederhana: berjalan, menyusup, dan membiarkan kota ini bekerja dengan caranya sendiri. Sejak awal, Jogja memang tidak pernah meminta siapa pun untuk tergesa-gesa.

Seharian ini saya menyusuri berbagai jalan dan tikungan. Jalan-jalan kecil yang mungkin tak tercatat di peta wisata, tetapi justru menyimpan denyut kehidupan yang paling jujur. Di Jogja, tikungan bukan kesalahan arah. Ia adalah cara kota ini mengajari manusia bahwa hidup tidak selalu harus lurus dan cepat.

Ritual pertama yang saya lakukan adalah makan. Bukan sembarang makan, melainkan kembali ke warung langganan: *Sate Tjokro*, dekat Gembira Loka. Sate, tongseng, dan tengkleng di sana bukan sekadar urusan rasa. Ia adalah ingatan kolektif. Di meja-meja seperti inilah masa lalu tidak terasa jauh. Ia duduk bersama kita, diam-diam, sambil ikut mengunyah.

Setelah tubuh kenyang, saya memberi ruang untuk jeda. Rehat di sebuah homestay di kawasan Kesatrian, di belakang Keraton. Jogja selalu tahu kapan manusia perlu berhenti. Namun berhenti di kota ini bukan berarti diam. Dari sana, langkah justru bergerak ke arah yang lebih sunyi: Imogiri Pajimatan, Bantul.

Sowan kepada para leluhur bukan romantisme tradisi. Ia adalah etika hidup orang Jawa. Sebuah kesadaran bahwa sebelum kita menjadi apa pun hari ini, ada jejak panjang yang lebih dulu ada. Di Imogiri, waktu tidak berisik. Ia mengalir pelan, mengingatkan bahwa manusia boleh melangkah jauh, tetapi jangan pernah memutus akar.

Sore hari, saya kembali ke denyut kota. Angkringan di Jalan Gamelan menjadi tempat berlabuh. Angkringan di Jogja bukan sekadar ruang kuliner murah. Ia adalah universitas rakyat. Masjid sosial kaum akar rumput. Di sana, semua orang setara—mahasiswa, tukang parkir, dosen, seniman, hingga pelancong asing.

Saya duduk sebagai penulis yang memilih diam. Mendengar. Mencatat dalam kepala. Teh ginastel dengan gula batu dan wedang uwuh membuat waktu melunak. Percakapan mengalir tanpa skrip. Guyon maton parikeno terdengar ringan, tetapi kerap menyimpan kebijaksanaan yang tak pernah masuk buku pelajaran.

Dari angkringan pula saya melihat Jogja sebagai ruang perjumpaan dunia. Di Plengkung Wijilan, Gudeg Yu Djum dan Mbak Is dinikmati warga dari berbagai pelosok negeri. Tak sedikit pula warga asing, berbusana kasual, didampingi pemandu, ikut nimbrung mencicipi panganan tradisional. Jogja tidak kehilangan diri saat dunia datang. Ia tidak memamerkan tradisi; ia menghidupinya.

Sebagai penulis yang berasal dari Klaten, kembali ke Jogja selalu memanggil memori yang lebih luas. Kota ini terhubung dengan Solo dan Semarang—poros JOGLO SEMAR—yang membentuk watak banyak orang di Jawa Tengah dan DIY. Dari masa Noroyono hingga hari ini, ada benang merah yang tak putus: kesederhanaan yang teguh dan kesabaran yang berakar.

Di titik ini saya sampai pada satu kesimpulan sederhana. Jogja bukan kota tujuan. Ia adalah cara berjalan. Cara memandang hidup tanpa tergesa-gesa. Cara berdamai dengan waktu. Maka, sore itu saya lupakan kopi dan sego sadukan khas kota pahlawan. Mood saya beralih ke sego kucing dan teh ginastel. Sederhana, tetapi cukup.

Di tengah dunia yang serba cepat mengejar segalanya, Jogja mengajarkan satu keberanian yang makin langka: berjalan pelan, tanpa kehilangan arah. Sebuah pelajaran hidup yang tampak sederhana, tetapi justru paling sulit dipraktikkan.

Urip iku urup.
Setiap tulisan adalah cahaya,
dan semoga catatan kecil ini menjadi sedekah
yang menyalakan kebaikan bersama.

Dr. Agus Andi Subroto
Dekan FHB ITB Yadika Pasuruan
Ketua DPD AFEBSI Jatim
Angkringan Jalan Gamelan Jogja, 2 Januari 2026