Sindiran Halus Ala Haedar

SURAKARTA-Sejarah hari ini mencatat bagaimana Haedar Nashir kembali mengingatkan tentang perlunya menjaga bangsa ini dalam. Kerangka keadaban, berikut naskah lengkap yang disampaikan pada Pembukaan Muktamar ke 48 Muhammadiyah,

“Alhamdulillah pada hari ini Sabtu 19 November 2022 M bertepatan 24 Rabiul Akhir 1444 H Muhammadiyah dan Aisyiyah dapat melaksanakan pembukaan Muktamar ke-48. Muktamar di Surakarta ini tertunda karena musibah Covid-19, semoga pandemi dapat berakhir meski saat ini belum sepenuhnya berakhir.” Ujar guru besar sosiologi ini

Izinkan kami secara khusus menyampaikan terimakasih atas kehadiran Bapak Presiden RI dan Ibu Negara dalam pembukaan Muktamar. Sekaligus kami mengucapkan Selamat kepada Bapak Presiden yang berhasil memimpin Presidensi G20. Kepada Bapak Presiden, kami mohonkan amanat dan membuka secara resmi pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-48!

Bapak Presiden dan hadirin yang kami mulyakan!

Muktamar ke-48 Muhammadiyah mengambil tema “Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta”. Muhammadiyah dalam memajukan kehidupan bangsa bukanlah akan, tetapi telah dan terus berkiprah satu abad lebih dalam lintasan pergerakannya melalui berbagai amal usaha dan dakwah kemasyarakatan. Dari pusat kota hingga desa dan pelosok-pelosok terjauh, Muhammadiyah tiada henti melayani negeri. Khidmat kebangsaan ini lahir dari visi keislaman berwawasan nasionalisme inklusif, agar Indonesia makin berkemajuan di segala bidang kehidupan. Itulah bukti nyata bahwa Muhammadiyah ikut “berkeringat” dalam memajukan kehidupan bangsa!

Kini dan ke depan perjuangan Indonesia semakin tidak ringan. Indonesia menghadapi arus globalisasi, modernisasi abad 21, revolusi teknologi informasi, serta perkembangan geoekonomi-politik global yang sangat dinamis dengan segala masalah dan tantangannya. Bersamaan dengan itu, secara domestik Indonesia juga mengalami dinamika baru liberalisasi politik, ekonomi, dan budaya pasca reformasi dengan berbagai dampaknya yang kompleks.

Muhammadiyah meyakini bahwa Indonesia sejatinya dapat menjadi negara yang maju, adil, dan makmur. Muhammadiyah percaya Indonesia dapat menyelesaikan masalah-masalah dan tantangan berat yang dihadapinya. Optimisme ini lahir karena Indonesia memiliki sejumlah modal penting untuk menjadi negara besar seperti sumberdaya manusia dan sumberdaya alam yang potensial. Kuncinya mengurus Indonesia dengan baik dan benar, disertai perjuangan yang sungguh-sungguh dan kebersamaan dari semua pihak yakni pemerintah, warga negara, dan seluruh komponen bangsa.

Karenanya segala proses bernegara, termasuk Pemilu 2024 niscaya menjadi jembatan emas bagi terwujudnya kehidupan kebangsaan yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia. Seluruh pihak yang berkontestasi berkomitmen tinggi dan memastikan mampu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial sebagaimana dikehendaki oleh para pendiri Indonesia.

Para kontestan Pemilu 2024 agar memiliki obligasi moral yang tinggi untuk menjadi para pemimpin dan wakil rakyat berjiwa “Kesatria Pancasila”. Menjadi para negarawan yang mempraktikkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam berbangsa-bernegara di dunia nyata, sekaligus membawa Indonesia ke perwujudan cita-cita. Para elite Indonesia juga dapat menjadikan agama sebagai sumber nilai moral dan spiritual yang melahirkan “publig good” dalam berbangsa, karena agama memperoleh tempat penting dalam sejarah, konstitusi, dan jatidiri bangsa Indonesia.
Semua pihak dituntut berkomitmen menjadi suri teladan dalam menempatkan kepentingan Indonesia di atas kepentingan diri, kroni, dinasti, dan golongan sendiri. Sekaligus menjadi perekat persatuan Indonesia serta menjauhi sikap saling membenci dan memusuhi yang membawa pada perpecahan bangsa dan merugikan masa depan Indonenesia. Setiap elite bangsa yang berkompetisi harus sudah selesai dengan dirinya, dengan meletakkan politik dan kekuasaan sebagai jalan utama berkhidmat sepenuhnya bagi kejayaan Indonesia.

Letakkan Pemilu dan seluruh proses berbangsa-benrenagara dalam visi luas memajukan Indonesia sebagaimana diperintahkan konstitusi. Pastikan Indonesia Emas tahun 1945 berjalan dalam peta jalan yang benar untuk mewujudkan cita-cita luhur Indonesia. Menjunjung tinggi nilai-nilai agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur bangsa.

Seluruh elite dan wargabangsa dalam menghadapi dinamika lokal, nasional, dan global niscaya hadir dengan jiwa utama serta visi kebangsaan yang luas dan bermakna. Jangan terjebak pada optimisme maupun pesimisme berlebihan, tanpa perjuangan yang keras. Bersikaplah moderat dan berpikir dalam cakrawala luas melintas batas. Sebab umat dan bangsa yang baik ialah yang tengahan sekaligus berbuat yang terbaik sebagai saksi kehidupan sebagaimana Firman Allah: “Wa każālika ja’alnākum ummatan wasaṭha litakụnụ syuhadā`a ‘alan-nāsi”, artinya “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia”.

Bapak Presiden dan hadirin yang terhormat!
Muhammadiyah dalam memajukan bangsa dan mencerahkan semesta menempuhnya dengan perjuangan nyata berbasis spirit “ibda binafsika”, memulai dari diri sendiri. Perkembangan Muhammadiyah di dalam maupun di luar negeri menunjukkan kemajuan yang dinamis. Etos kemajuan bertumbuh bekar di Wilayah, Daerah, Cabang, Ranting, serta jamaah di basis komunitas. Amal usaha di berbagai bidang berkembang pesat dengan sejumlah prestasi terbaik. Sedangkan Peran “mencerahkan semesta” diwujudkan dalam karya nyata, antara lain dengan berdirinya Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), Muhammadiyah Australia College (MAC), Markas Dakwah dan TK ABA di Cairo, serta pergerakan PCIM-PCIA di 28 negara.

Perkembangan yang meluas tersebut memberi optimisme bagi masa depan Muhammadiyah dalam menghadapi dinamika, masalah, dan tantangan lokal, nasional, dan global yang semakin kompleks seiring pesan Allah dalam Al-Quran:

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hsyr: 18).

Muhammadiyah dengan pandangan Islam berkemajuan dan kiprahnya dalam berbagai bidang kehidupan berkomitmen untuk terus berkiprah memajukan Indonesia dan mencerahkan semesta secara lebih luas dan berkualitas. Muhammadiyah hadir sebagai eksemplar atau role-model gerakan keagamaan dan kemasyarakatan yang memberikan solusi atas persoalan-persoalan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan global. Hal itu sejiwa dengan misi tajdid Muhammadiyah untuk menampilkan model hidup maju berbasis agama yang berwawasan “Wal-Ashri” atau “Ashariyah”, yakni wawasan kemoderanan yang berbingkai iman, ilmu, amal shaleh, dan perjuangan tak kenal lelah menuju terwujudnya Khayra Ummah yang berperadaban utama.

Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan kehidupan nasional dan global yang semakin kompleks, berkomitmen menghadirkan gerakan baru yang menggarap program-program strategis sejalan dengan Risalah Islam Berkemajuan yang akan diputuskan pada Muktamar ke-48 ini. Islam berkemajuan hadir sebagai “Din al-Hadlarah” yakni agama yang memajukan peradaban yang berorientasi “shalihu li-kulli zaman wa makan”. Islam yang memajukan kehidupan bangsa, sekaligus berwawasan kosmopolitan yang mencerahkan semesta dalam misi utama rahmatan lil-‘alamin.