Jakarta,Dua tokoh Republik Indonesia yang sangat berjasa dalam kemerdekaan bangsa Indonesia yang sering disebut sebagai Dwitunggal.
Dr.(H.C.) Ir. H. Soekarno atau Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia sejak tanggal 18 Agustus 1945 ~ 27 Maret 1967
dan Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta atau Bung Hatta, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia sejak tanggal 18 Agustus 1945 ~1 Desember 1956. Dua tokoh Pahlawan Proklamator dan Pahlawan Nasional Republik Indonesia.
Presiden Republik Indonesia yang pertama
Dr. (H.C.) Ir. H. Soekarno, lahir di Peneleh, Surabaya, Jawa Timur 6 Juni 1901 dan meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat
Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta pada tanggal 21 Juni 1970 pada usia 69 tahun karena komplikasi penyakit yang sudah lama dideritanya. Presiden Soekarno dimakamkan di kota Blitar, Jawa Timur.
Dr. (H.C.) Ir. H. Soekarno bernama asli Koesno Sosrodihardjo, berasal dari keturunan Jawa dan Bali, putra sulung dari Raden Soekemi Sosrodihardjo yang lahir di Wirosari, Grobogan, Jawa Tengah, 15 Juni 1873 dan meninggal dunia di Jakarta, 18 Mei 1945 pada usia 71 tahun.
Ayah dari Presiden Soekarno adalah seorang guru di Surabaya, yang diangkat sebagai guru pada bulan Agustus 1898 di Surabaya.
Data ini berdasarkan tulisan yang bersumber dari buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, karya Cindy Adam. Raden Soekemi Sosrodihardjo adalah guru pemerintah Kolonial Belanda tinggal di kampung Pandean, yang berada di tepi Sungai Kali Mas Surabaya, yang berfungsi sebagai jalur transportasi sungai.
Ibu dari Presiden Soekarno bernama Ida Ayu Nyoman Rai, yang lahir di Buleleng, Bali, pada tanggal 1 Januari 1881 dan meninggal dunia di Blitar, Jawa Timur, pada tanggal 12 September 1958. Ida Ayu Nyoman Rai : 1 Januari 1881; Buleleng, Baliadalah putri dari bangsawan dari bangsawan Gianyar, Bali yang bernama Nyoman Pasek dan Ni Made Liran.
Menikah dengan Raden Soekemi Sosrodihardjo pada tahun 1897. Presiden Soekarno memiliki seorang adik perempuan.
Soekarno bersekolah di Surabaya dan berguru pada tokoh Islam pendiri dari Syarikat Islam, yaitu Haji Oemar Said Tjokroaminoto yang memiliki banyak murid, diantaranya adalah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.
Soekarno juga sempat diambil menantu oleh HOS Tjokroaminoto, dinikahkan dengan putrinya yang bernama Siti Utari.
Sayang pernikahannya ini berakhir dengan perceraian. Soekarno kemudian melanjutkan sekolahnya ke ITB Bandung dan berhasil mendapatkan gelar Insinyur. Di Bandung ini Soekarno ini Soekarno menikah dengan Inggit Garnasih, mantan istri sahabatnya.
Pernikahan keduanya ini juga tidak dikarunia keturunan dan berakhir dengan perceraian, ketika Soekarno hendak menikahi Siti Fatimah ( Fatmawati ), putri dari ulama di Bengkulu, Hasan Din. Saat itu Soekarno sedang menjadi pembuangan ke Bengkulu karena kegiatannya dalam politik dan pergerakan.

Soekarno mendirikan PNI atau Partai Nasional Indonesia, sebagai partai yang mendukungnya dalam perjuangan dan revolusi.
Soekarno pada akhirnya menikahi Siti Fatimah ( Fatmawati ) dan dikaruniai 5 orang anak,2 orang anak laki-laki dan 3 orang perempuan yaitu : Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri , Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputri. Menyusul kemudian Soekarno menikah lagi dengan 6 wanita yang lain, yaitu Hartini, Haryati, Naoko Nemoto atau Ratna Dewi Soekarno, Kartini Manoppo, Yurike Sanger dan Heidy Djakfar.
Dr. (H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta bernama asli Mohammad Athar, lahir di Fort de Kock atau Bukittinggi, Sumatera Barat pada tanggal 12 Agustus 1902 dan meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta pada tanggal 14 Maret 1980 pada usia 77 tahun karena sakit. Dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta sesuai dengan wasiatnya.
Wakil Presiden Mohammad Hatta adalah anak kedua dan satu-satunya putra dari Mohammad Djamil dan Siti Saleha. Kedua orangtuanya berasal dari Suku Minangkabau, Sumatera Barat.
Ayahnya meninggal dunia saat Mohammad Hatta baru berusia 7 bulan, ibunya Siti Saleha menikah lagi dengan Agus Haji Ning, seorang pedagang dari Palembang.
Mohammad Hatta memiliki kakak kandung perempuan yang bernama Rafiah yang lahir tahun 1900 dan 4 adik tiri yang semuanya perempuan.
Sejak kecil Wakil Presiden Mohammad Hatta diasuh oleh kakeknya dari pihak ayahnya yang bernama Abdurrahman di surau Batuhampar, Sumatera Barat. Mohammad Hatta dapat bersekolah di Negeri Belanda dan memulai terjun dalam politik dan pergerakan sejak bersekolah di Negeri Belanda. Mohammad Hatta menjadi Bendahara dan kemudian menjadi Ketua dari Perhimpunan Indonesia.
Mohammad Hatta menikah dengan Siti Rahmiati Rachim yang kemudian dikenal dengan nama Rahmi Hatta dan memiliki 3 anak perempuan, yaitu : Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta dan Halida Nuriah Hatta.
Dalam BPUPKI dan PPKI, Soekarno dan
Mohammad Hatta saling bekerjasama dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Sekalipun bertujuan sama, ada perbedaan prinsip dalam arah perjuangan keduanya.
Soekarno lebih memilih jalan kooperarif dengan Belanda dan Jepang, sedangkan Mohammad Hatta sebaliknya, lebih banyak menempuh jalan non-kooperatif.
Setelah Indonesia merdeka, keduanya terpilih sebagai pemimpin bangsa. Ir. H Soekarno sebagai Presiden pertama Republik Indonesia dan Drs. H. Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden Republik. Setelah Mr. Sutan Sjahrir dan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap memimpin Kabinet, Wakil Presiden Drs. H. Mohammad Hatta juga ditunjuk oleh Presiden Ir. H. Soekarno untuk memimpin Kabinet selain jabatan Wakil Presiden. Hingga bentuk negara berubah menjadi Republik Indonesia Serikat,
Wakil Presiden Drs. H. Mohammad Hatta tetap menjabat sebagai Kepala Pemerintahan atau Perdana Menteri, sedangkan Ir. H. Soekarno tetap menjadi Presiden dan Kepala Negara.
Saat kabinet dipegang oleh Mr. Muhammad Natsir, 6 September 1950, Drs. H. Mohammad Hatta kembali pada jabatan semula sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.
Perpecahan Dwitunggal Soekarno-Hatta ini mulai terjadi sesudah pihak Partai Komunis Indonesia atau PKI mulai punya pengaruh dan masuk dalam Kabinet.
Drs. H. Mohammad Hatta sangat tidak suka dengan kehadiran Komunis dalam Kabinet. Namun sebaliknya Presiden Soekarno berusaha untuk merangkul semua golongan agar bekerjasama dan berjuang bersama-sama dalam memenangkan Revolusi.
Sejak aliran Nasakom, mulai digunakan dalam praktek politik, Drs. H. Mohammad Hatta mulai mundur dari perpolitikan dan pemerintahan.
Pada saat terbentuknya Konstituante dan DPRS dan MPRS sebagai hasil dari Pemilihan Umum tahun 1955, Drs. H. Mohammad Hatta mulai menyampaikan keinginannya untuk mundur dari jabatan Wakil Presiden.
Pada tanggal1 Desember 1956 Drs. H. Mohammad Hatta benar-benar menyatakan pengunduran dirinya dari jabatan Wakil Presiden.
Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Soekarno akhirnya mengeluarkan Surat Keputusan Presiden No. 13/1957 pada 5 Februari 1957 yang isinya menyetujui permintaan dari Drs. H. Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden.
Sejak saat itu Dwitunggal Soekarno ~ Hatta berakhir dan Presiden Ir. H. Soekarno mulai memimpin sendiri negara Indonesia dengan paham Demokrasi Terpimpin dan aliran Nasakom mulai masuk dalam segala bidang.
Pengunduran diri Drs H. Mohammad Hatta merupakan puncak dari berbagai perbedaan yang tidak terdamaikan di antara keduanya. Perbedaan paham dan cara perjuangan yang diyakini keduanya membuat Dwitunggal Soekarno ~ Hatta berpisah jalan.
Namun keduanya tetap saling mendukung sekalipun berbeda paham.
Beberapa dukungan antara keduanya sudah tampak pada saat perjuangan dan pergerakan dalam mencapai kemerdekaan Indonesia.
Seperti pada saat Mohammad Hatta menghadiri Kongres Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial di Jenewa pada tanggal 10-15 Februari 1927.
Soekarno, menurut istrinya saat itu, Inggit Garnasih, dalam biografinya yang ditulis Ramadhan KH berjudul Kuantar ke Gerbang : Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno (1981) , mengetahui dan memuji langkah dariMohammad Hatta, berdasarkan sebuah surat yang dikirimkan seorang kawan di Belanda.
Dalam surat tersebut dikisahkan tentang kongres dan siapa saja yang datang untuk mewakili bangsa-bangsa terjajah. Mohammad Hatta pada saat itu mewakili Hindia Belanda dalam kapasitasnya sebagai Ketua dari Perhimpunan Indonesia, organisasi yang dipimpinnya sejak tahun 1926.
Kehadiran Mohammad Hatta dalam kongres tersebut membawa konsekuensi berat bagi para pemimpin Perhimpunan Indonesia .
Pemimpin Perhimpunan Indonesia termasuk Drs. Mohammad Hatta ditangkap oleh pemerintah Belanda saat kembali ke Belanda pada 23 September 1927. Kabar ini sampai di Bandung melalui surat yang didapat oleh Tjipto Mangoenkoesoemo dan kemudian sampai pada Soekarno.
Mendengar peristiwa di Belanda itu, Soekarno dalam kedudukannya sebagai pimpinan dari Partai Nasional Indonesia (PNI), kemudian menggalang dukungan bagi para aktivis yang ditahan di Belanda. Sejumlah rapat akbar diselenggarakan di berbagai tempat dan daerah di seputar Bandung. Dalam setiap rapat, dilakukan pula aksi penggalangan dana.
Para aktivis ini kemudian memperoleh pembelaan secara cuma-cuma dari tiga orang pengacara: Mr. JEW Duys, Mr. Mobach, dan Nona Mr. Webber.
Siekarno terus mengikuti proses persidangan yang berlangsung di s-Gravenhage (Den Haag). Ia mengagumi kutipan dari René de Clerq yang dipilih Mohammad Hatta dalam pembelaan yang diberi judul “Indonesia Vrij” atau Indonesia Merdeka:
“Hanya satu tanah yang dapat disebut Tanah Airku. Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu adalah usahaku.”
Tidak lama setelah Mohammad Hatta dan kawan-kawannya dibebaskan dari tahanan pada tanggal 22 Maret 1928, giliran Soekarno yang harus menghadapi masalah dengan penguasa kolonial Hindia Belanda yang mengawasi ketat kaum pergerakan.
Sepak terjang Soekarno bersama dengan PNI membuat Soekarno ditangkap dan dijebloskan ke penjara untuk pertama kalinya pada bulan Desember 1929.
Kali ini giliran dari Mohammad Hatta yang memberikan dukungan bagi Soekarno dan kawan-kawan seperjuangannya, yang juga meringkuk di penjara tua Banceuy sejak tanggal 30 Desember 1929.
Menurut Deliar Noer dalam Mohammad Hatta : Biografi Politik (1990), salah satu bentuk dari dukungan Mohammad Hatta kepada Soekarno adalah dengan menulis sebuah artikel yang berjudul “De Vernietiging der PNI” atau Penghancuran PNI pada tanggal 2 Januari 1931yang ditulis oleh Mohammad Hatta.
Dalam artikel ini Mohammad Hatta memandang aturan yang tidak tepat yang dibuat pemerintah Kolonial yang bertujuan menghukum Soekarno dan kawan-kawannya. Menurut Mohammad Hatta, hakim kolonial, dalam hal politik, bukan menjadi pelayan keadilan, melainkan pelayan kekuasaan. setidaknya ada dua artikel lain yang ditulis Mohammad Hatta sebagai dukungannya pada PNI sebelum Soekarno dan kawan-kawannya ditahan Belanda.
#Perselisihan dan Perbedaan
Soekarno sebagai ketua partai memperoleh vonis paling berat, yaitu : hukuman penjara
4 tahun di Penjara Sukamiskin, Bandung. Kedudukannya sebagai Ketua PNI digantikan oleh Mr. Sartono, tapi kemudian PNI dibubarkan setelah banding dari Soekarno dan kawan-kawannya ditolak oleh Raad van Justitie atau Pengadilan Tinggi pada tanggal 17 April 1931.
Sebagian besar anggota dari PNI kemudian mendirikan Partai Indonesia (Partindo) pada tanggal 1 Mei 1931. Anggota yang tidak setuju dengan pembubaran PNI dan pendirian partai baru bergabung dalam Golongan Merdeka yang juga dikenal dengan nama PNI Baru. Nama resminya kemudian berubah menjadi Pendidikan Nasional Indonesia pada tanggal 25-27 Desember 1931.
Mohammad Hatta mengkritisi keputusan pembubaran PNI. Menurut Mohammad Hatta, seharusnya nasib partai tidak tergantung pada keputusan hakim. Partai tidak seharusnya memandang siapa pemimpinnya, namun para kader yang lahir melalui pendidikan yang dilakukan partai.
Fokus perhatian Mohammad Hatta adalah masalah pendidikan kader partai.
Mohammad Hatta menemukan kesamaan dengan garis kebijakan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru). Salah satu cara untuk berlatih mendidik anggota PNI Baru adalah dengan menulis, yang kemudian dimuat dalam surat kabar Daulat Rakyat sebagai corong dari partai.
Mohammad Hatta, yang tidak melihat adanya sosok pemimpin dalam PNI Baru, kemudian memutuskan untuk membantu partai ini mencetak pemimpin-pemimpin baru.
Namun keterlibatan Mohammad Hatta baru terjadi setelah ia menyelesaikan pendidikan
di Belanda dan pulang ke tanah air pada tahun 1932.
Semua kejadian ini dicermati Soekarno dari balik jeruji besi. Menurut pengakuan Soekarno yang disampaikan kepada Cindy Adams, yang kemudian dibukukan dalam otobiografi Bung Karnob: Penyambung Lidah Rakyat (1965),
Soekarno mengutus Gatot Mangkoepradja dan Maskun untuk mendamaikan perpecahan dalam PNI beberapa bulan sebelum Soekarno dibebaskan dari Sukamiskin.
Namun, Gatot Mangkoepradja dan Maskun gagal menciptakan persatuan di antara kedua pihak yang berselisih. Maskun kemudian bergabung dengan PNI Baru.
Menurut pengakuan Mohammad Hatta dalam otobiografinya, Untuk Negeriku : Sebuah Otobiografi (2011), Mohammad Hatta bertemu pertama kali dengan Soekarno di sebuah hotel di Bandung. Kesibukan Mohammad Hatta setelah kembali dari Belanda membuatnya lupa untuk bertemu Soekarno, yang telah bebas lebih sembilan bulan.
Haji Usman, salah satu kerabat jauh dari Mohammad Hatta, adalah orang yang mengajak Mohammad Hatta untuk menemui Soekarno. Setibanya di Bandung, mereka berdua langsung menuju rumah Soekarno di Astana Anyar. Namun rupanya pemilik rumah sedang tidak berada di tempat.
Setelah meninggalkan pesan, Mohammad Hatta kembali ke hotel dan menunggu kedatangan dari Soekarno yang tiba-tiba dengan Maskun pada malam hari setiap harinya.
Dalam perjumpaan pertama itu, mereka berdua hanya bercakap-cakap masalah biasa, tidak membahas tentang Partindo dan PNI Baru. Kehadiran Haji Usman yang menurut Soekarno sebagai orang luar, membuatnya enggan untuk membahas masalah yang serius. Alih-alih, Soekarno hanya menceritakan pengalamannya selama ditahan di Sukamiskin, Bandung.
Nama hotel tempat perjumpaan pertama antara Soekarno dan Mohammad Hatta dapat diketahui dari pengakuan Inggit Garnasih. Menurut Inggit dalam Kuantar ke Gerbang,
suatu sore ada seseorang yang berperawakan pendek datang ke rumah saat mereka sedang pergi. Sang tamu itu adalah Mohammad Hatta yang meninggalkan pesan untuk menemuinya di Hotel Bunga di Jalan Pos Timur.
Pembicaraan yang lebih serius terjadi pada pertemuan pada tanggal 25 September 1932. Menurut Mohammad Hatta, Soekarno mengundangnya untuk datang ke rumahnya antara tanggal 20-30 September 1932 pada jam makan siang. Turut diundang juga Sutan Sjahrir dari PNI Baru dan Sartono dari Partindo. Namun, Sutan Sjahrir memilih tidak hadir dan menyarankan Maskun sebagai penggantinya.
Pada tanggal 25 September 1932, sebelum Mohammad Hatta datang ke rumah Soekarno, ia terlebih dahulu mampir ke rumah Maskun di Kopoweg. Namun, Maskun menolak untuk ikut datang ke rumah Soekarno. Bagi Sutan Sjahrir maupun Maskun, pandangan politik PNI Baru sudah jelas seperti yang tertuang dalam pernyataan Mohammad Hatta “Penderitaan Kita” di Daulat Rakyat 10 Desember 1932.
Inti dari tulisan tersebut adalah pernyataan tegas bahwa PNI Baru tidak memandang siapa pemimpinnya dan lebih mengutamakan bidang pendidikan politik kader dibandingkan membuat rapat-rapat akbar.
Pertemuan di rumah Soekarno selepas makan siang itu akhirnya hanya dilakukan tiga orang saja : Mohammad Hatta mewakili PNI Baru, Soekarno dan Sartono yang mewakili Partindo. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk tidak saling menyerang. Masing-masing pihak bergeming pada sikap politiknya.
Soekarno mengenang pertemuan itu dengan nada tidak senang. Seperti dicacat oleh Cindy Adams, Soekarno memiliki perbedaan yang tajam dengan Mohammad Hatta yang kaku sejak pertemuan itu. Ia tidak bisa mengerti segala pertimbangan intelektual ala Mohammad Hatta. Soekarno mengakui sendiri bahwa Mohammad Hatta dan dirinya tak pernah berada dalam riak gelombang yang sama.
#Lahirnya Dwitunggal
Jurang perbedaan dari kedua tokoh ini yang
pada akhirnya mereka kubur ketika bangsa dan tanah air membutuhkan sumbangsih dari keduanya. Sebuah kutipan dari Soekarno kepada Mohammad Hatta dalam buku Cindy Adams dapat menggambarkan mereka.
“Bung dan aku pernah terlibat dalam hal yang dalam,” kata Soekarno kepada Mohammad Hatta. “Meski di satu waktu kita tidak pernah saling menyukai, sekarang kita menghadapi satu tugas yang jauh lebih besar daripada yang pernah kita lakukan masing-masing. Berbagai perbedaan menyangkut masalah partai atau strategi perlu ada lagi. Sekarang kita satu dan selalu bersama.”l
“Setuju,” kata Mohammad Hatta.
Keduanya kemudian berjabat tangan.
“Ini,” kata Sukarno, “merupakan simbol kita sebagai Dwitunggal. Kita berikrar dengan sungguh-sungguh untuk bekerja, dan tidak akan pernah memisahkan sampai negeri kita merdeka sepenuhnya.”
Maka malam sejak di bulan Maret 1942 itu, lahirlah dwitunggal yang mengantarkan bangsa ini meraih kemerdekaan. Janji pertemuan di atas perbedaan yang terus dijaga hingga mereka berpisah di akhir tahun 1956.
Bukan rahasia lagi jika hubungan dua bapak pendiri bangsa ini sempat meregang pasca Indonesia berdiri sebagai sebuah negara, terutama dalam kurun masa 1950-an sampai 1960-an. Masalah utamanya adalah perbedaan pandangan mengenai masa depan revolusi Indonesia, di samping soal prioritas dalam pembangunan Indonesia.
Dalam sebuah buku, Mengenang Bung Hatta, yang memuat pengalaman-pengalaman pribadinya selama mendampingi Mohammad Hatta sebagai sekretaris, Iding Wangsa Widjaja memastikan bahwa keduanya tidak pernah saling mendendam. “Hal itu tidak sampai merusak hubungan pribadi beliau berdua.
Ini saya ketahui persis, terutama yang menyangkut sikap Bung Hatta terhadap Bung Karno di balik pertentangan-pertentangan pendapat beliau.”
“Salah satu bukti yang dapat saya utarakan, bahwa Bung Hatta tidak menaruh dendam dan tidak memusuhi Bung Karno, ialah peristiwa menjelang wafatnya Bung Karno,” lanjut Iding Wangsa Widjaja.
Pada Jumat pagi, 19 Juni 1970, Mohammad Hatta dikirimi sepucuk surat oleh Masagung, salah satu kawan dari Soekarno yang bernama asli Tjio Wie Tay. Ia diberitahu bahwa Soekarno masuk Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat karena kondisinya yang semakin gawat dan harus dirawat intensif.
Masagung menegaskan bahwa saat-saat seperti ini harus cepat dimanfaatkan oleh Mohammad Hatta untuk menemui Soekarno. Sebagaimana diketahui ketika itu Soekarno masih menjadi tahanan rumah yang tidak boleh dihubungi oleh sembarang orang, tidak terkecuali oleh Mohammad Hatta.
Setelah mendapat kabar itu, Mohammad Hatta segera meminta Iding Wangsa Widjaja untuk menghubungi pihak-pihak tertentu agar diberi izin untuk menjenguk Soekarno. Tidak lama, sekretarisnya itu menghubungi Sekretaris Militer, Letjen Tjokropranolo dan menjelaskan keinginan Mohammad Hatta tersebut. Letjen Tjokropranolo lantas melanjutkan maksud dari Mohammad Hatta itu kepada Presiden Soeharto.
Beberapa saat kemudian, melalui sambungan telepon, LetjenTjokropranolo mengabari Iding Wangsa Widjaja jika Soeharto telah memberi izin. Mereka pun dijadwalkan akan menjenguk Soekarno pada pukul lima sore. Setelah semua persiapan selesai, rombongan yang terdiri dari Mohammad Hatta, Iding Wangsa Widjaja, Letjen Tjokropranolo, putri pertama dari Mohammad Hatta, Meutia Hatta, dan putri kedua dari Mohammad Hatta, Gemala Hatta segera bertolak ke rumah sakit.
“Kita yang ada di rumah saja yang berangkat.
Adik saya yang kecil Halida Hatta sedang sakit jadi tidak bisa ikut. Ibunya ,Rachmi Hatta juga tidak bisa ikut,” kata Meutia Hatta dalam acara diskusi di Perpustakaan Nasional, Jakarta. (Fernando Randy/Historia).
Setiba di sana, rombongan tersebut langsung menuju ruangan tempat Soekarno dirawat. Hanya Letjen Tjokropranolo saja yang menunggu di luar ruangan. Di dalam ruangan kecil itu, Mohammad Hatta melihat Soekarno
sedang terbaring. Terlihat jelas raut sedih di wajahnya. Perawat di ruangan menjelaskan jika sudah beberapa hari Soekarno dalam kondisi demikian. Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, Iding Wangsa Widjaja mengajak Mohammad Hatta untuk pulang karena Soekarno itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
Tanpa memberikan jawaban, Mohammad Hatta pun perlahan melangkah ke arah pintu. Geraknya yang berat menunjukkan kekecewaannya. Sesekali ia menoleh ke belakang berharap kawannya sadar sebelum ia pergi dari ruangan itu.
Saat akan membuka pintu, Mohammad Hatta masih mengarahkan pandangannya kepada Soekarno. Beruntung ia masih melihat ke arah Soekarno karena sesaat setelah itu Soekarno membuka matanya. Bergegas ia menghampiri kawannya itu. “Ah No (panggilan akrab MohammadnHatta kepada Soekarno) bagaimana keadaanmu?” tanya Mohammad Hatta. Soekarno tidak menjawab. Kondisinya membuat ia sulit untuk berbicara. Namun menurut Meutia Hatta samar-samar terdengar Soekarno mengucapkan “hoe gaat het (apa kabarmu) ?” sambil mencoba meraih tangan MohammadnHatta.
Baik Meutia Hatta maupun Iding Wangsa Widjaja dalam bukunya, mengatakan bahwa ada kata-kata lain yang diucapkan Soekarno. Tetapi keduanya tidak mengerti.
Hanya Mohammad Hatta yang paham dengan maksud Soekarno itu. Mohammad Hatta kemudian menjawab: “Ya, sudahlah. Kuatkan hatimu, tawakal saja pada Allah. Saya doakan agar lekas sembuh.”
Meutia Hatta menggambarkan suasana di ruangan saat itu yang baginya sangat mengharukan. Mohammad Hatta berdiri persis di samping tempat tidur Soekarno.
Meutia Hatta dan Gemala Hatta berada sedikit di belakang Mohammad Hatta, dekat kaki Soekarno. Sementara Iding Wangsa Widjaja berdiri di sisi lain tempat tidur.
“Saya melihat ini sebagai pertemuan yang amat mengharukan antara dua orang sahabat yang cukup lama dipisahkan oleh suatu tirai yang tidak tampak, walaupun tidak berarti beliau berdua telah memutuskan hubungan persahabatan itu,” ungkap Iding Wangsa Widjaja.
Soekarno berusaha menggapai-gapai sesuatu. Semua orang di sana tidak mengerti apa maksud Soekarno. Iding Wangsa Widjaja akhirnya menyadari bahwa ia sedang mencari kaca matanya. Suster lalu memakaikan kaca mata tersebut untuk Soekarno.
Dalam posisi tertidur, terlihat tetesan air mata jatuh dari mata Soekarno. Mohammad Hatta pun mencoba menghibur dengan memegang tangan dan memijat pelan kakinya. Tidak ada pembicaraan apapun di antara keduanya. Hanya pandangan mereka yang berbicara.
“Sebetulnya itu hati yang berbicara. Tidak ada lagi kata-kata, tidak tersedu-sedu. Mungkin keduanya saling memaafkan karena memang itu adalah tahap terakhir dari kehidupan Sukarno,” ucap Meutia Hatta.
“Kami semua tidak bisa berkata apa-apa. Kami hanya bisa mendoakan. Namun saya bersyukur bisa berada di sana. Menyaksikan kedua tokoh proklamator berpisah untuk terakhir kalinya.”
Tidak diketahui dengan pasti berapa lama Mohammad Hatta dan rombongannya menemani Soekarno. Setelah itu, Mohammad Hatta pamit pulang, keluar dari ruangan perawatan tersebut. Mereka pun kemudian diantar pulang oleh Letjen Tjokropranolo kembali ke kediamannya.
Mohammad Hatta dan siapapun yang hari itu menjenguk Soekarno tidak mengetahui bahwa itulah pertemuan terakhir mereka dengan sang proklamator. Dua hari kemudian, tepatnya pada hari Minggu, tanggal 21 Juni 1970, Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya.
Saat mendapat kabar duka itu, Mohammad Hatta hanya bisa termenung. Nampak sekali Mohammad Hatta merasa kehilangan seorang sahabat.











