Oleh Arief Nurkholis
Tantangan Keluarga Generasi X,Y dan Alpha
Saya lahir di tahun paling akhir generasi X, yg nyaris millenial. Menikah dg seseorang yg 9 tahun dibawah saya, generasi milenial tengah yg bisa disebut generasi “paling” millenial. Anak kami lahir ketika istri berusia 28 tahun, jadi benar – benar mewakili generasi Alpha.
Walaupun berjarak agak jauh, saya dan istri ternyata mengalami masa pertumbuhan yg sedikit mirip ternyata, hidup dg tuntutan bahwa anak pintar itu pilihannya hanya satu. Pintar secara akademik. Sama – sama lulus SD dg mengejar nilai NEM, dan kami sama – sama punya nilai sempurna (10) di NEM SD.
Sekarang kami menemani pertumbuhan generasi Alpha, generasi yg begitu lahir sudah terpapar sinyal 5G. HP android sudah murah, sumber pengetahuan begitu banyak, definisi “anak pintar” sudah terjadi diversifikasi sedemikian luas.
Pilihan profesi ketika anak kami tumbuh sudah sedemikian banyak, tidak hanya tentara, polisi, dokter, pilot, guru atau pak lurah. Kami tidak berpengalaman ketemu anak yg “malas berangkat sekolah”, atau “malas belajar”. Kami juga baru tahu kalau tugas utama anak (sekarang) itu bermain, bukan belajar, apalagi menang lomba.
Kami juga baru mengerti kalau anak tidak lagi bisa diancam atau ditakut, takuti. Beda dengan saya yg dulu tumbuh jadi “lumayan pintar” karena takut tidak sukses atau survive kalau tdk kebagian kue pembangunan. Sementara generasi alpha ini tampaknya punya definisi sukses sendiri, hidup dlm individuasi kompetensi yg sedemikian personal dan unik, hidup dlm dunia digital yg jawab PR atau tanya arah cukup dg Artificial Intelligence via gajetnya.
Kami perlu bersiap utk menemani tumbuhnya generasi Alpha yg akan tumbuh dlm dunia yg resah akibat banyaknya faktor yg menganggu mental healthnya, banyak orang khawatir dg nasib bumi karena perubahan iklim, seiring dg ketakutan akan krisis energi dan perebutan sumberdaya. Ini warisan dari keteledoran generasi X dan boomers. Dan mungkin juga ekses dari kapitalisme digital yg dikembangkan para millenialis.
Generasi Alpha ini idealnya hidup dlm sistem pendidikan yg tidak berbasiskan “nilai akademik”, tapi sistem pendidikan yg ala bermain game. Bila gagal dlm satu ujian memiliki kesempatan yg tak terbatas utk mencoba dan mencoba lagi. Tanpa ada penghakiman secara akademik dan profesional bahwa dia tidak pintar.
Konsep tidak lulus ujian sebaiknya diganti dg konsep “kesempatan kedua, ketiga, keempat dan sebagainya”. Konsep sedang malas sekolah sebaiknya diganti konsep “sedang istirahat” utk mencari cara menaklukkan ujian yg belum bisa diatasi.
Konsep kenaikan kelas dan lulus sekolah sebaiknya diganti dg konsep “journey” layak tambahnya atribut karakter dlm bermain game. Atribut itulah yg kemudian bisa dikapitalisasi sebagai jaminan hidupnya dimasa depan yg bisa dikonversi sebagai jaminan kesejahteraan.
Hemmm… nitip pikiran itu kalau saja Maudy Ayunda benar – benar jadi mendikbudristek dimasa depan. Sebenarnya mudah saja menjadikan Maudy Ayunda jadi mendikbudristek di masa depan, syaratnya hanya satu.
Tolong jadikan saya Presiden 🙂










