Bandung, Dalam foto-foto dokumentasi tersebut terlihat momen yang menggetarkan hati pertemuan terakhir antara Kartosoewirjo dan keluarganya.
Hadir istrinya, Dewi Siti Kalsum, serta lima anak mereka:
Tahmid Basuki Rahmat, Dodo Mohammad Darda, Kartika, Komalasari, dan Danti.
Mereka diberikan menu makan terakhir berupa rendang Padang.
Namun, Kartosoewirjo tidak menyentuh makanan itu sama sekali. Ia hanya merokok, menatap keluarganya dalam keheningan penuh makna.
Di kesempatan yang singkat itu, ia menyampaikan pesan terakhir untuk keluarganya, sebuah momen perpisahan yang tidak memerlukan banyak kata untuk menggetarkan hati siapa pun yang menyaksikannya.
Usai pertemuan haru tersebut, ia menjalankan salat taubat, berserah diri sebelum menjalani putusan hukuman negara.
Kartosoewirjo adalah tokoh yang pada 1949 memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) dan memimpin pemberontakan DI/TII di berbagai wilayah.
Setelah pengejaran panjang, ia ditangkap di Garut pada Juni 1962, sebelum akhirnya menjalani eksekusi hukuman mati dua bulan kemudian.
Momen eksekusi itu bukan hanya akhir dari seorang pemimpin gerakan, tetapi juga penutup sebuah bab besar dalam sejarah konflik ideologi di republik yang masih sangat muda saat itu.
Di Pulau Ubi yang sunyi, dentuman peluru menjadi penanda berakhirnya perjalanan seorang tokoh kontroversial dicintai sebagian, ditentang sebagian lain, namun tetap menjadi bagian penting dari kisah sejarah Indonesia











