Kasus Almaz, Pilih Viral atau Sistem

Dimulai Almaz ekspansi pada bulan Juni 2024 ke Agustus 2025 mereka sudah membuka 141 outlet se Indonesia.

Targetnya?
400 outlet di akhir 2026.

Saya memiliki keyakinan, momentum hanyalah pintu masuk,
bukan pondasi rumah bisnis yang kokoh.

Almaz hadir di waktu yg tepat, di mana banyak fenomena boikot terhadap produk yang berafiliasi.

Jastip ayam goreng Albaik Saudi mengalami ekskalasi permintaan.

Banyak orang bertanya, apakah Almaz Fried Chicken itu sebuah fenomena keberanian ekspansi atau sekadar “aji mumpung” dari narasi boikot?

2 pain point cutomer langsung disikat sekaligus sama Almaz:

✅Ga mau makan brand ayam goreng terafiliasi

✅Pengen nyobain ayam goreng Albaik, tapi ga bisa karena jauh.

Saya datang ke salah satu gerainya.

Memang, suasananya kental sekali dengan nuansa spiritual.

Ada donasi Palestina, ada murottal yang diputar.

Secara emosional, ini cerdas.

Mereka mengambil ceruk pasar yang sedang terluka dan butuh alternatif.

Tapi, mari kita bicara lurus, sebagai sesama pemilik bisnis yang ingin pensiun dengan tenang tanpa dihantui telepon operasional.

Masalahnya seringkali bukan pada “kenapa kita buka”, tapi pada “bagaimana kita bertahan”.

Saya melihat fenomena yang klasik di bisnis F&B kita:

The Trap of Hype Forecast.

Ketika viral, antrean mengular, dan omzet tembus 40 juta sehari,
owner cenderung melihat itu sebagai garis dasar (baseline).

Mereka agresif menambah cabang, menarik modal, dan ekspansi besar-besaran.

Tapi, apakah sistemnya sudah siap?

Saat saya membaca beneran keluhan pelanggan di cabang Tasikmalaya dan Purwakarta—yang tutup permanen,

saya teringat satu hal:
Konsistensi adalah mata uang tertinggi.

Berikut beberapa suara warga yang terbaca di linimasa,
ada aroma kegelisahan yang tercium di balik wangi rempah kebulinya.

✅ Seorang ibu mengeluh menu terlalu kompleks.
Dia membawa anak harus mikir lama cuma buat pesan ayam. Itu friction.

✅ Mendapatkan nasi dingin atau saus garlic yang sudah tidak layak konsumsi.
Itu masalah QC (Quality Control).

✅ seorang bapak yang merasa suasana terlalu “berat” dengan dominasi murottal saat mereka hanya ingin mengobrol sambil makan.
Disisi lain saya akui Almaz ini jenius;

☝ Pilihan mereka menggunakan ayam segar—bukan ayam beku—supaya bumbunya meresap sampai ke tulang itu langkah jempolan.

Nasi kebulinya juga beda, sebuah narasi pembeda yang kuat.

✌ Merekrut mantan pegawai brand global adalah langkah taktis yang brilian—memanfaatkan aset yang “terbuang”.

Namun, memindahkan orang tidak otomatis bisa meng-copaste sistem nya.

Tanpa SOP yang autopilot, pertumbuhan yang terlalu cepat justru akan menggerus cash flow saat fase repeat purchase melandai.

Tapi pertanyaannya: Apakah sistem di belakang layar sanggup mengejar ambisi besar sang pemilik?

​Seringkali, pemilik bisnis terlalu asyik bermimpi membuka ratusan cabang, tapi lupa memastikan apakah karyawan di cabang ke-100 punya standar yang sama dengan cabang pertama.

Saat saya mendengar keluhan pelanggan tentang nasi yang dingin, saus yang basi, hingga menu yang terlalu rumit sampai harus “mikir keras” buat pesan untuk keluarga, di situlah saya melihat retakannya.

Lihat saja tren Mixue sekarang, semua ada masanya untuk mendingin.

Untuk Anda, para pemilik bisnis yang sedang berjuang…

Jangan sampai bisnis Anda menjadi besar secara fisik tapi rapuh secara jiwa operasional.

Viral itu hadiah, tapi sistem itu investasi.

Almaz punya semua potensi untuk menggeser raksasa global, tapi mereka harus berani bercermin: Apakah rasa ayamnya benar-benar sudah melampaui euforia boikotnya?

Ataukah mereka hanya sedang berselancar di atas gelombang yang suatu saat pasti akan pecah di tepi pantai?

Bisnis yang merdeka adalah bisnis yang tertata. Bukan yang hanya ramai saat dibicarakan, tapi yang tetap dicari saat tak lagi diperbincangkan.

Apakah Anda merasa bisnis Anda saat ini sedang berlari kencang tapi sistemnya mulai terasa megap-megap?

Mungkin saya bisa bantu Anda membedah struktur operasional agar pertumbuhan bisnis Anda tidak berujung menjadi beban yang menghancurkan diri sendiri. Siiiap?