Tausiyah Cinta Ustadzah Uzlifah

Keydata -Tak terhitung hikmah dan makna dari ayat-ayat yang menjelaskan tentang Islam sebagai agama rahmah. Allah subhanahu wata’ala menampakkan rahmat-Nya pada agama Islam yang sarat dengan kasih sayang.

Tidak satupun perintah dalam Islam yang memberatkan manusia untuk dilakukan, bahkan pada keadaan tertentu perintah dapat dikondisikan sebagai bentuk keringanan dalam mengamalkan agama seperti meng-qashar dan menjamak salat ketika safar, berbuka puasa bagi orang yang uzur dan lainlain. Bahkan di awal-awal disyariatkan agama Islam, umatnya dilarang banyak bertanya kepada Rasululullah SAW agar tidak memberatkan dengan perintah baru seperti yang terjadi pada umat-umat masa lalu.

Allah subhanahu wata’ala berpesan kepada hamba-Nya dalam firman-Nya pada Al-Qur’an surat Al-Balad/90 ayat 17 untuk saling mangasihi dan menyayangi,

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِۗ

Artinya : “Kemudian, dia juga termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta saling berpesan untuk berkasih sayang.” (QS. Al-Balad/90 ayat 17)

Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menasehati kita untuk menebarkan kasih sayang bukan hanya kepada manusia tapi kepada seluruh makhluk.

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

Artinya: “Orang yang menebar kasih sayang, akan disayangi oleh yang Maha Penyayang, sayangilah penduduk bumi maka penduduk langit akan menyayangimu”. (HR. Abu Dawud)

Rahim di mana kita pernah berada di dalamnya selama 9 bulan, adalah nama Tuhan untuk kita gunakan dalam bermuamalah di muka bumi ini, sepertinya juga menitip pesan kepada kita bahwa apapun profesi, suku, bangsa, bahkan agama kita, kita tetap bersaudara. Kita tercipta dan terlahir dari rahim yang sama.

Segala sesuatunya hanya karena rahmat Allah subhanahu wata’ala. Kita hadir di muka bumi dijemput dengan rahmat Allah subhanahu wata’ala, kita hidup di bumi disertai rahmat Allah subhanahu wata’ala, semoga kita tinggalkan bumi ini dengan rahmat Allah subhanahu wata’ala, dan saatnya kita berharap semoga dengan rahmat Allah kita menikmati bahagia di akhirat kelak. Seluruh makhluk, hidup karena rahmat Allah subhanahu wata’ala.

Dari Salman berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi dengan seratus rahmat, setiap rahmat meliputi antara langit dan bumi, 1 dari rahmat dititip di bumi, karena rahmat yang satu itulah sang ibu menyayangi anakanya, binatang hidup dengan sejenisnya dengan berkasih sayang. Nanti pada hari kiamat akan digenapakan kasih sayang itu.”

Sesungguhnya berkasih sayang adalah naluri dan fitrah makhluk terutama manusia, mengasihi orang lain hakikatnya mengasihi diri sendiri. Dia adalah aku, dia adalah bagian dari hidupku, sedihnya adalah sedihku, dan bahagianya adalah bahagiaku. Begitulah makna sabda Nabi SAW:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Artinya : “Umpama orang mukmin dalam berkasih sayang seperti tubuh yang satu, jika satu sakit yang lain merasakan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, tak dikatakan muslim jika ia tak bisa berdamai dan menyejukkan lingkungan sekitarnya, tak dikatakan mukmin jika ia tak menjaga dan menentramkan selain dirinya, tak dikatakan muhsin jika tak mampu memperbaiki dan merawat alam sekitarnya.

Sumber dan pemilik rahmat adalah sang Maha Rahmat. Huwarrahmanurrahim. Dua sifat yang mendominasi sifat-sifatnya. Dia ar-Rahman yang tak pilih kasih untuk seluruh makhluknya di bumi. Dia pula ar-Rahim yang tak terbatas kasihnya untuk hamba-Nya di akhirat.

Islam sebagai konsep yang ideal sebegai referensi agama kasih sayang tak diragukan lagi. Tak ada celah sedikit pun mengidentikkan Islam sebagai agama kekerasan. Masalahnya adalah, apakah kita bisa menjadi pengamal Islam yang rahmat? Sebab faktanya orang luar kadang mengidentikkan Islam dengan penganutnya. Sikap kita selaku umat Islam adalah taruhannya, yang menggambar Islam dalam tontonan kehidupan adalah pengantunya. Jangan sampai kita sendiri yang cederai Islam yang rahmah terganti dengan Islam yang marah. Al-Islamu mahjubun bilmuslimin, demikian kehkawatiran Muhammad Abduh.

Itulah sebabnya kita selalu memohon bimbingan Allah subhanahu wata’ala minimal 17 kali untuk konsisten dalam sikap netral (shiratal mustaqim) bukan berada pada dua kutub ekstrim antara ketidakberdayaan (almagdhub) dan kekerasan (adhallin).

Netralitas adalah satu makna wasathiyah, wasathiyah hanya dapat dilakoni oleh yang memiliki sifat kasih dan sayang, terbangun dalam diri seseorang dan masyarakat.

Apakah salat minimalis yang kita lakukan, 17 Rakaat dan 5 kali salam, sudah mampu kita implementasikan dalam kehidupan kita sebagaimana pesan damai dan kasih sayang dalam salam akhir salat kita?

Karena itu, Allah subhanahu wata’ala menantang kita, apakah kita mampu menjadi role model dengan sikap netral sebagaimana ajaran agama Islam yang wasathiyah? Tantangan itu kita bisa lihat dalam pertengahan Al-Quran Surah al-Baqarah yang jumlahnya 286.

Tepat pada ayat 143 Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ

Artinya : “Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan40) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu,…” (QS. Al-Baqarah/2: 143)

Jamaah rahimakumullah. Hanya dengan contoh, Nabi SAW menjadi referensi kehidupan yang amat kaya dengan hikmah dan pelajaran. Salah satu saksi yang menjadi bukti sejarah tentang kasih sayang Nabi SAW kepada siapa saja.

Suatu ketika, Khalifah Abu Bakar a.s. putrinya Aisyah yang juga merupakan istri Nabi SAW bertanya, “Wahai anakku, apa kira-kira amal yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika masih hidup tapi belum aku kerjakan?” Aisyah menjawab, “Rasulullah SAW selalu memberi makan kepada seorang Yahudi buta di pojok sudut pasar.” Abu Bakar a.s. kemudian menemui perempuan tersebut. Sambil menyiapkan makanan, Abu Bakar a.s. mendekati perempuan Yahudi yang buta itu.

Ternyata sang perempuan Yahudi itu menghina Rasulullah SAW dan menyuruh orang-orang di pasar untuk tidak mengikuti ajakan Muhammad SAW yang pendusta dan penyihir. Dalam pikiran Abu Bakar a.s. “betapa luar biasa dan besarnya hati Rasulullah SAW”. Kalau bukan karena berusaha mengikuti jejak Rasulullah SAW pastilah Abu Bakar a.s. tidak menyuapinya. Akhirnya suapan pertama pun telah masuk. Tapi Abu Bakar a.s. sangat kaget. Sambil memuntahkan makanannya, perempuan buta ini berkata ketus, “Siapa kamu, kamu bukan orang yang biasa memberi aku makan.” Abu Bakar a.s. berkata, “Dari mana engkau tahu bahwa aku bukanlah orang yang biasa memberimu makan?” Perempuan itu menjawab, “Makanan yang engkau beri tidak kau haluskan lebih dulu. Orang yang biasa memberiku makan selalu menghaluskan makanan lebih dulu karena ia tahu gigiku sudah tak sanggup lagi mengunyah makanan.”

Abu Bakar a.s. sambil terisak berujar, “Ketahuilah, orang yang biasa memberimu makan sudah wafat, dan aku adalah sahabatnya. Orang yang biasa memberimu makan adalah Muhammad SAW, lelaki yang tiap hari selalu bersabar meski kau hina dan caci”. Perempuan Yahudi yang buta itu seketika tersentak, kemudian tangisannya pun pecah. Ia menyesal belum sempat meminta maaf kepada orang yang sangat peduli dengannya. Padahal, tak satupun keluarganya yang peduli dengan keadaannya. Akhirnya di hadapan Abu Bakar a.s., wanita tersebut menyatakan keislamannya.

sambil mengusap air matanya. Sang kakek Yahudi sungguh terkejut dengan penjelasan itu. Tak disangka hati sang gubernur demikian halus. Sangat memperhatikan umatnya dan sangat takut akan ketidakadilan yang dilakukannya. Sang kakek juga sadar, “memang sepantasnya gubukku yang reyot dipindah dan digantikan dengan rumah yang lebih layak, akulah yang justru egois dalam masalah ini.

Marilah kita menggores sebanyak mungkin contoh contoh kerahmatan dan kasih sayang dalam kehidupan kita, agar kita dapat menjadi cermin kepada yang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasinya. Dan tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya”. (HR. Abu Hurairah)

Menjadikan kasih sayang sebagai pijakan gerakan akan memudahkan kita dalam dakwah dan muamalah, *Nasrunminnallah wa fatkhun qariib*