Dalam beberapa kali kesempatan selama tinggal di Ciledug Tangerang dari tahun 2002, sering ketemu dengan sejumlah warga setempat (umumnya kakek-kakek atau engkong (Betawi)) asli Ciledug Tangerang. Mereka bercerita tentang kehidupan di Tangerang di masa lalu.
Era kolonial Belanda Tangerang masuk wilayah pengaruh Batavia (Jakarta). Era Orde Baru wilayah Tangerang masuk provinsi Jawa Barat. Setelah era Reformasi, Tangerang dalam wilayah provinsi Banten.
Para engkong asli Betawi ini bercerita seru tentang Ciledug Tangerang tempo doeloe di era 1950-1960 an.
Bagaimana situasi Ciledug saat itu?
Masih berupa kebon buah-buahan, rawa, persawahan, lapangan kosong , dan kebon bambu. Rumah-rumah warga sangat jarang, apalagi kompleks perumahan. Dimana-mana masih banyak begal. Baik siang atau malam hari.
Jalan Ciledug Raya arah ke Kebayoran yang masih sempit dan belum mulus, dan berdebu. Belum ada angkutan umum yang banyak.
Saat itu yang ada hanya sesekali angkot omprengan dengan pintu masuk bagian belakang. Juga gerobak sapi yang angkut hasil kebon dan pertanian menuju pasar Kebayoran Jakarta Selatan.
Sungai Petukangan zaman itu adalah sungai besar dengan air yang deras. Dari Cipulir arah pasar Kebayoran, jalanan menanjak. Lepas Maghrib angkutan umum menuju atau dari Jakarta mulai jarang. Jalanan banyak yang gelap dan suasana angker.
Lahan yang ada bangunan sekarang seperti Radio Mersi ( radio dangdut) dan gerai Dunkin Donuts di jalan Ciledug Raya, Puri Beta 1, dulunya adalah tebing. Pantaslah jalan di depannya adalah tanjakan. Sungai kecil yang di depan Puri Beta 1 adalah sungai lebar yang deras untuk pengairan dan anak-anak kampung sering mancing.
Banyak kebon aneka buah-buahan yang cukup langka untuk saat ini. Salah satunya buah kecapi. Di Ciledug saat itu banyak dijumpai pohon kecapi. Selain buah kecapi banyak juga pohon aneka buah-buahan lainnya seperti : mangga, nangka, jambu, dan segala jenis sayuran yang dijual ke Jakarta.
Sejarah kota Tangerang
Tangerang di masa kolonial Belanda adalah “tempat buangan” , ada empat lapas di Tangerang ( Lapas Anak, Lapas Kelas 1, Lapas Pemuda dan Lapas Wanita). Di Tangerang juga terdapat rumah sakit kusta Dr Sitanala.
Penjahat kelas kakap, bromocorah, para bandit yang berbuat kriminal di wilayah Batavia umumnya merasa ngeri dan ketakutan jika”dibuang” ke lapas di Tangerang.
Era kolonial Belanda, antara tahun 1920 – 1930 an kota Tangerang juga dikenal sebagai tempat produksi kerajinan anyaman topi bambu dan pandan. Topi anyaman made in Tangerang dikenal hingga ke Eropa. Bahkan digunakan sebagai atribut resmi para tentara KNIL.
Sejarah topi anyaman buatan Tangerang, bermula kedatangan para pedagang dari Tiongkok ke Tanah Jawa di abad 19.
Mereka datang ke Tangerang setelah melakukan ekspedisi dagang dari kota Manila Filipina. Namun melihat banyaknya bahan seperti bambu dan serat pandan lantas mereka memperkenalkan sebuah topi yang terbuat dari anyaman kepada warga lokal.
Setidaknya hal itu yang ditulis oleh konsulat perdagangan di Biro Perdagangan Luar Negeri dan Domestik dalam laporannya tanggal 31 Maret 1931 yang termuat dalam Commerce Reports Vol. 1.
Kedatangan para saudagar dari Tiongkok tersebut banyak dari masyarakat setempat yang beralih profesi. Mereka awalnya menjadi petani lalu berubah haluan menjadi pengrajin topi dari anyaman bambu dan serat pandan.
Pada masa itu terdapat sekitar 200 ribu hingga 300 ribu anggota keluarga lelaki, perempuan yang membuat topi anyaman. Selain itu terdapat pula anak-anak dari lelaki dan perempuan tersebut yang ikut membantu dalam menyiapkan serat pandan dan bambu yang melimpah di Tangerang.
Karena terkenalnya topi dari anyaman bambu dan serat pandan tersebut sering digunakan oleh Tentara Belanda (KNIL). Topi tersebut pun menjadi seragam wajib dari Pasukan KNIL atau Koninlijke Netherlands Indie Leger (prajurit Hindia Belanda yang bertugas di Indonesia pada zaman revolusi). Topi anyaman bambu dan pandan buatan Tangerang juga melanglang buana ke wilayah Eropa.
Daniel Supriyono











