Kapal Purbakala Tertua di Temukan

Rembang -Penemuan kapal kuno di Punjulharjo, Rembang, Jawa Tengah, menjadi salah satu temuan arkeologi paling menakjubkan di Nusantara. Kapal ini diperkirakan berusia lebih tua dari Candi Borobudur, menunjukkan keunggulan maritim bangsa Indonesia di masa lampau.

Menurut kajian para arkeolog, kapal ini adalah perahu tradisional khas Nusantara dan bukan berasal dari pengaruh luar, seperti China. Kapal ini dibuat dari kayu ulin, material yang banyak ditemukan di Kalimantan, yang dikenal karena kekuatannya dan sering digunakan dalam pembuatan kapal .

Teknologi pembuatan kapal ini mencerminkan kemampuan nenek moyang Indonesia dalam dunia pelayaran dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Temuan ini mempertegas posisi Nusantara sebagai kekuatan maritim yang telah menguasai jalur perdagangan jauh sebelum era modern .

Penemuan ini menjadi warisan budaya yang sangat penting, membuka wawasan baru tentang kehidupan maritim masyarakat kuno di Nusantara. Kapal Punjulharjo kini menjadi bukti konkret atas kebesaran sejarah Indonesia di bidang maritim.

KAPAL KUNA PUNJULHARJO

Kapal Kuna Punjulharjo ditemukan pada hari Sabtu tanggal 26 Juli 2008, dipagi hari sekitar pukul 7:30 pagi, oleh beberapa warga di desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Jawa Tengah yang sedang membuat tambak garam.

Lokasi berada sekitar 500 meter dari pantai yang sekarang, yang mungkin dahulunya wilayah situs ini masih merupakan pinggir pantai. Mereka menggali dengan cara memacul tanah di daerah pesisir tersebut.

Perahu yang berukuran panjang 17,9 meter dan lebar 5,6 meter ini ditemukan di kedalaman 2 meter. Dengan posisi membujur timur barat. Analisis radiokarbon terhadap sampel tali ijuk perahu di Beta Analytic Radiocarbon Laboratory, Miami, Florida, USA, menunjukkan bahwa perahu kuno itu berasal dari abad ke-7–8 Masehi.

Penemuan tersebut terlengkap di Asia Tenggara karena kondisi kapal pada lambung bawahnya masih utuh. Perahu Punjulharjo memberi pengetahuan bagaimana teknologi itu digunakan, mulai dari papan-papan yang dilengkapi dengan tambuku yaitu tonjolan pada bagian dalam dengan lubang-lubang untuk mengikat berbentuk kotak.

Selain badan kapal, juga ditemukan materi lain pembentuk perahu seperti gading-gading yang membuat bentuk melengkung dibagian lunas perahu, ikatan antara papan dengan gading pada tambuku, bagian haluan, bagian buritan, lunas, dan ditempat lainnya.
Bersamaan dengan perahu kuno tersebut, didalamya juga ditemukan pula kapak, tulang, tongkat ukir, tutup wakul dari kayu, pecahan mangkuk dan tembikar lainnya, juga tempurung kelapa serta kepala patung dari batu.

Menurut Prof. Pierre Y Manguin, Perahu tersebut bukan karena karam atau tenggelam, melainkan ditinggalkan oleh pemiliknya begitu saja, mungkin karena sudah tua pada waktu itu.

Perahu kuna Punjulharjo merupakan temuan yang sangat penting. Selain umurnya yang tua, juga satu-satunya perahu kuno yang pernah ditemukan di Indonesia. Bahkan di Aisa Tenggara, dengan kondisi yang relatif utuh. Ukurannya yang besar menyiratkan bahwa perahu itu digunakan untuk keperluan pelayaran jarak jauh.

Penemuan Perahu Kuno Punjulharjo Rembang, Berusia Lebih Tua dari Candi Borobudur!!

Rembang Kota di pesisir pantai Utara Pulau Jawa ini menyimpan banyak sejarah dan banyak peninggalan kampung Pecinan, di daerah Lasem yg berdekatan dengan Rembang dan banyak lagi penemuan artefak purbakala.

Sebagai tempat di pesisir pantai Utara dekat dengan Lasem besar kemungkinan dulu kota ini menjadi pelabuhan transit para pedagang dari luar daerah sebelum ke daerah kerajaan2 di Jawa pada era dan masanya yg cukup tua.

Sebuah desa di pesisir pantai utara Jawa yang terdapat banyak tambak garam sebagai sumber penghidupan warga mendadak jadi terkenal setelah ditemukannya sebuah kerangka perahu kuno. Desa itu bernama Punjulharjo yang berlokasi di Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Kisah bermula pada 26 Juli 2008, ketika penduduk desa Punjulharjo tanpa sengaja menemukan bangkai perahu pada kedalaman dua meter dalam posisi membujur timur-barat, saat hendak menggali tanah untuk membuat tambak garam.

Penemuan ini pun menarik perhatian berbagai pihak terkait. Di antaranya Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, Balai Arkeologi Yogyakarta, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Direktorat Peninggalan Bawah Air, yang meninjau lokasi untuk upaya penelitian dan pelestarian perahu.

Dari kajian para arkeolog dilaporkan, berdasarkan konstruksinya diperkirakan benda kuno tersebut merupakan perahu tradisional dari wilayah Nusantara, dan bukan jenis perahu yang berasal dari China. Sedangkan bahan perahu adalah jenis kayu ulin yang banyak ditemukan di Pulau Kalimantan.

Dilansir Punjulharjo-rembang.desa.id, awalnya penemuan ini diperkirakan pada masa Majapahit namun setelah melalui kajian carbon dating hasilnya menunjukkan bahwa kapal tersebut berasal dari abad ke-7 Masehi, lebih tua dari Candi Borobudur yang baru dibangun sekitar abad ke-9 Masehi. Hal itu membuktikan bahwa negeri ini sebenarnya telah memiliki kekuatan yang besar dan cukup diperhitungkan pada masa lalu dalam membangun peradaban bangsa. Masa itu sezaman dengan awal perkembangan Mataram kuno di Jawa dan awal masa Sriwijaya di Sumatra.

Di dalam perahu yang masih berbentuk utuh dan kondisinya lengkap itu juga ditemukan kepala arca wanita berparas etnis Tionghoa yang terbuat dari batu, patahan tongkat kayu sepanjang sekitar 40 sentimeter, tulang manusia, dan sejumlah peralatan dapur.

Sedangkan cagarbudaya.kemdikbud.go.id menyebut belum dapat dipastikan apakah perahu ini merupakan kapal dagang antara Jawa dan Sumatra. Namun, berdasarkan ukuran dan proporsi perahu, yaitu panjang sekitar 15 meter dan lebar sekitar 5 meter (sehingga proporsi 1:3), kemungkinan sebagai perahu dagang sangat mungkin, bahkan untuk mengarungi lautan dalam jarak jauh.

Situs tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional lewat SK Penetapan PM.57/PW.007/MKP/2010 pada tanggal 22 Juni 2010 dengan nama Perahu Kuno Rembang.

#PerahuKuno #punjulharjorembang #rembang #lasem #pesisirutara #pantaiutara #sejarah
#KapalKunoPunjulharjo #SejarahMaritim #CandiBorobudur #WarisanBudaya #kapaltua #ArkeologiIndonesia #SejarahIndonesialama