Biografi Buya AR Sutan Mansyur

Jakarta, Seorang Ulama, Tokoh Pergerakan Nasional, Ketua Umum PP Muhammadiyah dua periode 1953 – 1956 dan 1956 – 1959), Pahlawan Perintis Kemerdekaan Indonesia, Dalam sejarah beliau dicatat sebagai guru bagi sejumlah tokoh bangsa kita, diantaranya bagi Mr. Moh. Roem, Buya HAMKA, Sukarno, Panglima besar Sudirman, dll.

Perjuangan beliau :
Anggota Konstituante dan K.N.I.P diawal kemerdekaan Indonesia ini, tercatat dalam sejarahnya pula pada tahun 1918 menolak Hukum Pancang Rimba Hindia Belanda.
Tahun 1919 bersama Bersama Abdul Muis dan Haji Fakhrudin (Kakak Ki Bagus Hadikusumo) menolak aturan steeblats Nomor 111, Hindia Belanda di Medan.
Tahun 1921, hijrah ke Jawa, menetap di Pekalongan dan mendirikan Perguruan Nurul Islam dan kelak bertemu KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammaidyah, yang merupakan sahabat Guru beliau Inyiak Deer ketika sama sama menimba ilmu di Mekkah dengan Guru mereka yang sama yakni bernama Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi. Buya Sutan Mansur kelak menjadi sahabat KH Ahmad Dahlan hingga wafatnya KH Ahmad Dahlan tahun 1923. KH. Ahmad Dahlan mengamanahkan kepada Sutan Mansur untuk memperluas Muhammadiyah se Indonesia sampai pelosok pelosok dan amanah itu beliau jalankan sepeninggal KH Ahmad Dahlan. Sehingga ditangannya lah Muhammadiyah meluas se Sumatera, se Kalimantan, Sulawesi dan sebagainya.

Tahun 1933 Buya Dr Haji A.R Sutan Mansur adalah tokoh penting di Sumatera yang terkenal pada perlawanan terhadap penjajah Belanda dalam menolak Guru Ordonasi se Sumatera untuk melindungi Sekolah Sekolah Pribumi, hal yang sama dilakukan Ki Hajar Dewantara di Jawa melalui Sekolah Taman Siswa dan dengan jasa itu pula Ki Hajar Dewantara dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Tahun 1932 – 1943 menjadi Imam Konsul Muhammadiyah Se Sumatera yang berpusat di Bengkulu. Di sinilah Bung Karno bertemu dan berguru dengan Buya Sutan Mansur selama lebih 4 tahun lamanya. Dan Buya Sutan Mansur menjadi ulama Muhammadiyah di balik pernikahan Bung Karno dengan Fatmawati yang merupakan anak asuh Ummi Hj. Fathimah Karim Amrullah (Kakak kandung Buya HAMKA dan merupakan istri Buya Dr. H A.R Sutan Mansur) di Nasyiatul Aisyiyah Bengkulu tahun 1934 – 1939).

Tahun 1942, bersama Ir Sukarno, Buya A.R Sutan Mansur melakukan pertemuan terakhir dengan Pimpinan HIndia Belanda Mr. Van Der Plas di Kota Padang – Sumatera Barat, meminta agar Belanda tidak datang lagi menjajah Indonesia. Ucapan Buya A.R Sutan Mansur yang meminta Belanda tidak lagi menjajah Indonesia benar benar menampar hati Mr Van Der Plas. Dan Sukarno yang kelak menjadi Presiden RI adalah saksi atas sejarah itu.

Tahun 1942 Buya A.R Sutan Mansur berinisiatif melakukan dimplomasi dengan Syu Co Kung – pimpinan bala tentara Jepang di Padang, agar pendidikan dan ibadah agama tidak diganggu. Di masa itu tidak ada tokoh pribumi yang berani melakukannya, karena pasti beresiko kematian atau penjara.

Tahun 1944 Buya A.R Sutan Mansur menyiapkan pemuda pemuda Hizbul Wathon dan PETA, termasuk di dalamnya Sudirman yang kelak menjadi Panglima Besar Tentara Indonesia, untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan perang dengan tentara Jepang apabila Jepang berkhianat atas janjinya sebagai pelindung Asia. Akibat itu, Buya Sutan Mansur menjadi ulama yang paling di buru Jepang, sehingga beliau tidak dapat aktif lagi di Shyu Sha Ngi Kai dan Shyu Sha Ngi-In bersama Sukarno dan Bung Hatta. Seorang putera beliau menceritakan bahwa ketika zaman Jepang ini, Buya A.R Sutan Mansur terpaksa harus berpindah pindah tempat tinggal dengan keluarganya karena bala tentara Jepang memburunya.

Tahun 1945-1950 menjadi Wakil Rakyat di Parlemen pertama Republik Indonesia dalam K.N.I.P (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang dipimpin Sukarno – Hatta. K.N.I.P kelak menjadi cikal bakal parlemen di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tahun 1947 saat negara dalam keadaan genting akibat tentara Sekutu yang dibonceng Belanda hendak menjajah kembali Indonesia, Bung Hatta bersama Panglima Sudirman meminta kesediaan Buya Sutan Mansur mengobarkan perang di Sumatera melawan Belanda dan sekutunya, beliau diberi pangkat Militer Jendral Mayor (titular) yang juga sebagai penasehat ruhani tentara Nasional.

Dan beliau terlibat dalam perang di Sumatera dan terluka di dalam hutan Sumatera (diperbatasan Bengkulu – Jambi) dirawat 1 bulan lamanya. Ribuan kader Muhammadiyah mati syahid di Sumatera dalam peperangan ini. Sutan Mansur membentuk satuan satuan perlawanan di Minangkabau, Jambi, Bengkulu, Aceh, Medan dan Lampung, dengan mengerahkan ribuan murid murid beliau di Sumatera untuk berjihad mengusir penjajahan. Ini agaknya peristiwa yang langka dijelaskan para peneliti sejarah kita. Bahwa sebagai ulama, beliau juga terlibat dalam perlawanan fisik membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karena sikap itulah yang memang menjadi ruh sikap Muhammadiyah untuk menjaga NKRI.

Tahun 1952 diminta Presiden Sukarno menjadi penasehat Presiden, beliau menerima dengan syarat tidak di gaji. Karena kalau di gaji nanti beliau sebagai ulama akan sulit mengucapkan nasehat yang benar kepada Sukarno. Dan inilah sejarahnya penasehat Presiden menolak di gaji di Indonesia ini. Semoga masih ada yang mampu seperti ini di zaman sekarang dan akan datang.

Tahun 1953 diminta para pemimpin Muhammadiyah hasil Muktamar Purwekerto untuk menjadi Ketua Umum Muhammadiyah meneruskan Ki Bagus Hadikusumo. Beliau dijemput dari rumahnya di Sungai Batang, Maninjau (sekarang Nagari Sungai Batang Maninjau di Kabupaten Agam – Propinsi Sumatera Barat), kemudian berangkat ke Kauman Jogjakarta memimpin Muhammadiyah se Indonesia selama dua periode 1953 – 1959. Diantara yang datang menjemputnya adalah Kasman Singodimedjo, Buya HAMKA, KH Yunus Anis, Muljadi Djoyomartono, Djindar Tamimi, Badawi, Fakih Usman dll. Dan rombongan ini bermalam di kediaman Buya Sutan Mansur di tepi Danau Maninjau yang kini telah diresmikan menjadi area Wisata Halal Ramah Muslim dan Rumah Gadang Buya Dr H. A.R Sutan Mansur yang diresmikan oleh MUI Pusat, LW MUI dan BI pada 12 Desember 2024.

Tahun 1954 mempelopori dan menggagas berdirinya Universitas Muhammadiyah Pertama di Indonesia, yakni dengan membuka Fakultas Falsafah dan Hukum di Padang Panjang, yang kelak beliau resmikan menjadi Univeristas Muhammadiyah Padang dan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Dengan beliau menunjuk Rektor nya Dr. Ali Akhbar. Atas jasanya, kini berkembang pesat hampir 200 Universitas Muhamamdiyah tersebar se Indonesia, yang awal mula sejarahnya dimulai oleh Buya A.R Sutan Mansur, saat beliau menjadi Ketua Umum Muhammadiyah dua periode 1953 1956 dan 1956 – 1959.

Buya Hamka selaku murid dan sekaligus adik iparnya, banyak menuliskan tentang Buya A.R Sutan Mansur ini dapat dilihat misalnya dibuku berjudul Ayahku karya Buya Hamka., pengantar buku Tasawuf Modern, Lembaga Budi dan sebagainya. Apa yang dinyatakan Buya HAMKA tentang beliau sungguh luar biasa. Jika ada Nabi sesudah Nabi Muhammad maka saya nyatakan berdasarkan ilmu saya bahwa Buya A.R Sutan Mansur ini Nabi, tapi karena tidak ada lagi Nabi sesudah Nabi Muhammad maka cukuplah saya katakan beliau seorang Waliyullah, Ulama Shalihin. (baca tulisan Buya HAMKA di pengantar buku Tasawuf Modern, Pedoman Hidup, Lembaga Budi, Falsafah Hidup). Di tulisan yang lain Buya HAMKA menyatakan pula, Buya A.R Sutan Mansur dapat saya katakan sebagai guru saya satu satunya yang menanamkan tentang Tauhid dan pandangan hidup muslim.

Di masa tuanya jelang wafat, Buya A.R Sutan Mansur masih giat mengisi pengajian dan pidato kebangsaan dan keagamaan di lingkungan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jakarta dan Jogjakarta., bertindak pula sebagai pangayom PP Muhammadiyah di era kepemimpinan KH. A.R Fachrudin.

Hari Senin, tanggal 25 Maret 1985 Buya Dr Haji A.R Sutan Mansur wafat dalam usia 90 tahun, setelah di rawat hampir 1 bulan di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih.

Semoga kita sebagai generasi penerus bangsa, dapat mengambil keteladanan beliau dalam perjuangannya untuk Indonesia.

“Sejarah dikenang dan diingat generasi akan datang, karena ia ditulis. Jika sejarah tidak dituliskan menjadi buku, maka ketika para Saksi sejarah wafat satu persatu, akan lupa lah orang dan bahkan tidak mengenal sejarah itu”
—Memetik Hikmah Sejarah—

_Cuplikan dari Buku Berjudul MATAHARI DI LANGIT MANINJAU, karya Arief Rahman Chalid A.R._

📝🌹