Biografi Nyai Walidah Ahmad Dahlan

Oleh Uzlifah

❄️Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai Kota pelajar merupakan rumah kelahiran banyak tokoh nasional yang jejak jasanya masih bisa kita rasakan. Salah satu tokoh nasional dengan jasa dan jejak langkah panjang yang lahir di kota Yogyakarta adalah Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan.

⭕Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang berasal dari Yogyakarta. Nyai Ahmad Dahlan juga tokoh emansipasi wanita muslimah di Indonesia. Berikut profil dan Biografi Nyai Ahmad Dahlan secara singkat.

❄️Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan dilahirkan pada 3 Januari 1872 di kawasan Kauman yang terletak di belakang masjid Gede Yogyakarta.

🏵️Siti Walidah merupakan putri Haji Muhammad Fadil seorang ulama penghulu Keraton Yogyakarta. Ibunya bernama Nyai Mas. Siti Walidah lahir dari keluarga yang didasarkan pada dasar agama atau kehidupan spiritual Islam.

🍀Pada masanya anak perempuan tidak lazim menempuh pendidikan di sekolah formal. Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan tetap mendapat pendidikan agama dari ayahnya.

🌻Ia juga dididik berbagai hal terkait hakikat perempuan, baik dalam peran dan statusnya sebagai istri maupun sebagai ibu. Hal yang telah banyak menjadi pijakan pemikiran dan aktivitasnya saat ia bergiat di organisasi.

♨️Menikah Dengan KH Ahmad Dahlan
Saat usianya menginjak 17 tahun, Siti Walidah dinikahkan dengan sepupu dekatnya Muhammad Darwis yang belakangan berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Kala itu tradisi pernikahan antar kerabat keluarga masih lazim dilakukan di Kauman, Yogyakarta.

🌴Setelah suaminya KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Islam modern Muhammadiyah pada tahun 1912, Siti Walidah yang kemudian dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan ini turut membantu aktivitas dan perjuangan suaminya.

*_Perjuangan Nyai Ahmad Dahlan_*

♻️Perjuangan Nyai Ahmad Dahlan terinspirasi dari berbagai gerakan pembaruan yang digagas suaminya. Maka pada tahun 1914, Nyai Ahmad Dahlan mendirikan perkumpulan Sopo Tresno yang giat menggalakkan pengajaran agama dan pemberdayaan bagi kaum perempuan dari segala usia dan status sosial.

🔰Ia merintis forum-forum pengajian bagi perempuan muslim dimulai dari lingkungan Kauman. Yang kemudian banyak diikuti para buruh batik. Forum pengajian ini kemudian hari menyebar ke kawasan Lempuyangan, Karangkajen, hingga Pakualaman.

❇️Lewat Sopo Tresno, Nyai Ahmad Dahlan tidak hanya memprakarsai pendidikan agama bagi kaum perempuan tapi juga merintis pengajaran membaca dan menulis huruf latin.

🔖Di mata Nyai Ahmad Dahlan ini, cara yang paling baik untuk memberdayakan perempuan hingga bisa menjadi mitra sejajar bagi laki-laki adalah lewat pendidikan.

🌳Nyai Ahmad Dahlan Mendirikan Aisyiyah
Gerakan pendidikan lewat Sopo Tresno yang didirikan oleh Nyai Ahmad Dahlan ini di kemudian hari menjadi cikal bakal berdirinya Aisyiyah salah satu organisasi perempuan muslim pertama di Indonesia.

⚜️Aisyiyah merupakan organisasi sayap perempuan Muhammadiyah yang kini menjadi salah satu organisasi perempuan terbesar di Indonesia. Aisyiyah didirikan pada 19 Mei 1917 atau 5 tahun setelah Kyai Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah lalu mendirikan Aisyiyah.

Meski merupakan penggagas utama pendirian Aisyiyah, Siti walidah atau Nyai Ahmad Dahlan berbesar hati untuk tidak menduduki posisi ketua Aisyiyah. Jabatan pimpinan Aisyiyah saat itu diamanatkan kepada Siti Bariah, salah seorang murid Nyai Ahmad Dahlan dan KH Ahmad Dahlan. Siti Bariah dikenal cerdas dan memiliki kemampuan berorganisasi yang bagus.

💫Tujuan Pendirian Aisyiyah yang tidak bisa dilepaskan dari pemikiran Nyai Ahmad Dahlan adalah untuk memajukan perempuan muslim melalui jalan pendidikan.

Terkait hal itu salah satu program yang digagas Aisyiyah pada masa-masa awal keberadaannya adalah mempelopori pendirian tempat-tempat pendidikan bagi anak usia dini yang kini dikenal dengan taman kanak-kanak.

🌺Selain itu Nyai Ahmad Dahlan juga menggagas pendirian langgar perempuan pertama di nusantara. Pendirian langgar ini menjadi simbol kesetaraan perempuan untuk kesempatan mendapatkan pahala shalat berjamaah seperti laki-laki.

*_Pemikiran Nyai Ahmad Dahlan_*

☘️Sebagai seorang yang menguasai ilmu agama, Nyai Ahmad Dahlan dikenal piawai berkhotbah dan berceramah. Dengan keluasan pengetahuan agamanya, Nyai Ahmad Dahlan tidak segan menyampaikan pemikiran-pemikirannya yang terbilang maju pada zamannya.

🍁Dalam khotbah atau ceramah-ceramahnya, Nyai Ahmad Dahlan misalnya tidak segan menyuarakan penentangan terhadap kawin paksa.

Pemikirian Nyai Ahmad Dahlan berbeda dengan pemahaman banyak orang Jawa yang pada masa itu yang masih kental diselimuti budaya patriarki. Nyai Ahmad Dahlan berpendapat bahwa perempuan diciptakan Allah untuk menjadi Mitra sejajar bagi laki-laki atau suami mereka.

✨Pemikiran Progresif Nyai Ahmad Dahlan tak bisa dilepaskan dari pengaruh suaminya Kyai Ahmad Dahlan pendiri organisasi Islam modern Muhammadiyah yang menjadi teman diskusinya sehari-hari.

Berbagai gagasan dan upaya Nyai Ahmad Dahlan dan Kyai Ahmad Dahlan untuk memodernisasikan pemahaman Islam pada masa itu sempat mendapat berbagai rintangan.

🪴Tak hanya berbentuk kecaman yang datang dari banyak pihak namun terkadang juga dalam bentuk tekanan massa. Langgar Kyai Ahmad Dahlan di Kauman misalnya, pernah dirobohkan oleh massa yang menuduhnya sebagai ulama palsu.

*_Nyai Ahmad Dahlan Dan Aisyiyah_*

📗Perjuangan Nyai Walidah Ahmad Dahlan untuk memajukan harkat dan martabat perempuan pada tahun 1920an telah mendapat apresiasi luas. Tak hanya dari lingkungan keluarga Muhammadiyah tapi juga dari sejumlah kalangan di luar organisasi keagamaan. Karena ketokohannya, Pada tahun 1926 Nyai Ahmad Dahlan terpilih sebagai pemimpin kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya.

Nyai Ahmad Dahlan menjadi perempuan pertama di Indonesia yang memimpin acara konferensi dengan banyak peserta. Seperti kongres Muhammadiyah di Surabaya yang kemudian mendapat liputan luas dari sejumlah media seperti Pewarta Surabaya dan Koran Sin Po.

Karena kepemimpinan Nyai Ahmad Dahlan dalam Kongres ini, banyak perempuan yang tergerak bergabung ke dalam Aisyiyah. Dan banyak cabang Aisyiyah di pulau Jawa dan Sumatera yang kemudian dibuka.

Meski aktif berorganisasi dan kerap berdakwah ke banyak daerah, Nyai Ahmad Dahlan dikenal tidak pernah melalaikan kewajibannya sebagai seorang ibu dan istri. Sebagai orangtua, Nyai walidah tak hanya kerap memberi nasehat namun juga mampu menjadi teladan yang baik pada anak-anaknya.

🔖Setelah Kyai Ahmad Dahlan wafat pada tahun 1923, Semangat Nyai Walidah Ahmad Dahlan untuk berdakwah dan berjuang memberdayakan Perempuan tak pernah surut. Tak hanya lewat aktivitas yang di Aisyiyah tapi juga lewat jalan sinergi dengan banyak organisasi perempuan lain.

⭕Pada tahun 1928 misalnya, Aisyiyah turut terlibat aktif dalam penyelenggaraan Kongres perempuan Indonesia pertama. Kongres perempuan ini dalam lintasan sejarah tercatat menjadi awal kemunculan gerakan nasional perempuan Indonesia.

✏️Dalam biografi Nyai Ahmad Dahlan diketahui bahwa meski dikenal sebagai inisiator pendirian Aisyiyah, Nyai Walidah Ahmad Dahlan baru menjadi ketua Aisyiyah pada tahun 1921 sampai 1926 dan tahun 1930. Kala itu Aisyiyah telah memiliki cabang hingga ke luar pulau Jawa.

🖊️Ketika wilayah nusantara dikuasai Jepang dari tahun 1942 hingga 1945, keberadaan Aisyiyah di Jawa dan Madura sempat dilarang oleh rezim militer Jepang.

☘️Pada masa itu meski usianya sudah cukup renta, Nyai Ahmad Dahlan masih sering muncul di depan publik. Ia kerap tampil untuk menggalakkan penurunan bendera Jepang dan menyebarkan penolakan terhadap kewajiban melakukan upacara Seikerei atau menyembah dewa matahari.

🍄Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan masa perang mempertahankan kemerdekaan, Nyai Ahmad Dahlan aktif mengupayakan pendirian dapur dapur umum di lingkungan Kauman. Sebagai sosok yang dituakan, ia juga masih didatangi dan dimintai nasehat oleh sejumlah tokoh nasional seperti Jenderal Besar Sudirman dan Presiden Soekarno.

🌳Nyai Ahmad Dahlan Wafat
Kurang dari setahun setelah kemerdekaan Indonesia pada tanggal 31 Mei 1946, Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan meninggal dunia. Jenazah Nyai Ahmad Dahlan, tokoh perempuan yang tak lelah berjuang dan menginspirasi banyak orang ini dimakamkan tak jauh dari rumahnya di Kauman, Yogyakarta.

🏵️Karena jejak jasa dan ketokohannya yang tak terbantahkan pada tahun 1971, Nyai walidah Ahmad Dahlan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia.

✳️Kontribusi Nyai Ahmad Dahlan menjadi pahlawan nasional bukan karena beliau adalah istri dari KH Ahmad Dahlan. Tetapi Nyai Ahmad Dahlan memang mempunyai kontribusi tersendiri.

📌Ia dijadikan ikon untuk pergerakan perempuan kala itu. RA Kartini dan Dewi Sartika juga dikenal sebagai tokoh perempuan, tetapi mereka tidak punya jejak semasif Nyai Ahmad Dahlan.

 

 

Catatan Tere Liye tentang Nyai Walidah

 

Tokoh ini bernama Siti Walidah, lahir 3 Januari 1872, putri dari seorang ulama, Kiyai Haji Muhammad Fadli. Dia bersekolah di rumah saja, belajar ilmu agama, bahasa, dan lain sebagainya. Dia tidak mengenyam pendidikan formal, tapi besok lusa, dia ‘mendirikan’ ribuan sekolah-sekolah, lembaga pendidikan formal lewat organisasi yang dibangunnya.

Tahun 1889, Siti Walidah menikah dengan sepupunya, Ahmad Dahlan, dan kemudian, dia akan lebih dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan.

Jika kalian ingin mencari contoh tokoh pergerakan wanita yang benar-benar kongkrit, Nyai Ahmad Dahlan adalah pilihan terbaiknya. Dia tidak hanya bicara atau menulis soal ‘emansipasi’, dia juga melakukannya dengan tangan. Nyata. Tahun 1917, di usia 45 tahun, Nyai Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Aisyiyah, yang kemudian menjadi bagian dari Muhammadiyah.

Lewat organisasi Aisyiyah inilah kiprah Nyai Ahmad Dahlan terang-benderang menyinari sekitarnya. Organisasi ini mendirikan sekolah-sekolah putri dan asrama. Menjadi ujung tombak pendidikan bagi wanita. Karena jelas, jika kita bicara tentang mengubah sesuatu, pendidikan adalah kuncinya. Tahun-tahun itu, catat baik2, tahun 1920-an, Nyai Ahmad Dahlan telah berkeliling ke banyak tempat menyampaikan banyak hal prinsip mengagumkan. Dia menganjurkan perempuan belajar memakai sepeda. Itu sepele bukannya? Tidak. Di jaman itu, saat sepeda adalah simbol kendaraan, itu serius sekali. Arab Saudi bahkan baru beberapa tahun lalu mengijinkan perempuan mengemudi di negaranya. Nyai Ahmad Dahlan visioner, seratus tahun lebih maju.

Nyai Ahmad Dahlan menentang kawin paksa, dia datang dengan pemahaman bahwa istri adalah mitra setara bagi suami, penting sekali wanita mendapatkan pendidikan, dll, dsbgnya. Lagi2, catat tahun-tahun itu, saat Indonesia belum merdeka, Belanda masih menjajah, itu pemikiran yang sangat ‘radikal’ dan ‘berbahaya’. Tapi tidak bagi seorang Nyai Ahmad Dahlan yang kritis dan progresif.

Saya tidak akan membahas apa yang dilakukan oleh Nyai Ahmad Dahlan secara detail. Kalian bisa membacanya di buku, atau menonton filmnya (karena sudah ada film tentang Nyai Ahmad Dahlan). Tapi saya ingin membahas tentang sesuatu yang mungkin diabaikan oleh banyak orang saat membaca sejarahnya. Sebuah pertanyaan simpel: Kok bisa, ada wanita yang lahir tahun 1870-an, punya pemahaman seperti itu? Bukankah di jaman itu konon wanita katanya masih dipingit, hanya bisa memendam perasaan, hanya bisa diam di kamar? Hanya bisa menulis surat dan sebagainya?

Kok bisa Nyai Ahmad Dahlan malah aktif dalam pergerakan?

Jawabannya, kemungkinan ada dua. Yang pertama, karena suaminya adalah Ahmad Dahlan. Seorang ulama besar, yang memahami agama dengan baik. Bayangkan, di jaman itu, dia justeru mendukung istrinya untuk terlibat dalam organisasi. Ahmad Dahlan paham sekali, posisi wanita bukan hanya urusan dapur saja. Lebih dari itu, wanita punya posisi terhormat dalam agama, sejarah membuktikan, wanita bisa mengambil peran lebih. Ketika Ahmad Dahlan meninggal tahun 1923, ketika kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya, Nyai Ahmad Dahlan yang memimpin kongres itu. Saat dunia separuh lebih masih ‘gelap-gulita’ soal emansipasi wanita, Nyai Ahmad Dahlan telah memberi contoh.

Yang kedua, kemungkinannya karena Nyai Ahmad Dahlan sendiri, yang memahami, bahwa wanita bisa mengambil peran lebih dalam kehidupan. Dia mempelajari agamanya dengan baik, lantas tiba di sebuah pemahaman: agama Islam adalah agama yang me-merdeka-kan. Apakah jilbab itu mengekang? Tidak. Itu simbol yang membebaskan. Dengan jilbab, wanita bisa berinteraksi lebih baik dengan sekitarnya tanpa batasan. Pun sama dengan laki-laki, karena memakai pakaianlah, laki-laki bisa berinteraksi, coba telanjang. Malah nggak bisa kemana2. Nyai Ahmad Dahlan memahami, jika Islam memuliakan wanita dalam artian sebenarnya.

Apakah pemahaman ini sesederhana yang dilihat. Saya tidak tahu. Tapi mana ada pemahaman yang datang gratisan, instan. Itu biasanya harus melewati fase-fase penting. Jelas Nyai Ahmad Dahlan telah melewati fase kehidupan yang panjang. Jika Nyai Ahmad Dahlan masih hidup, mungkin kita bisa mendengarkan penjelasannya. Kita bisa bertanya banyak. Karena dalam hidupnya, toh, Nyai Ahmad Dahlan dipoligami. Ahmad Dahlan memiliki istri2 lain. Tentu akan sangat menarik, menyimak pendapatnya tentang posisi wanita dalam agama Islam. Boleh jadi jawabannya akan membuat aktivis pergerakan wanita modern terdiam. Dia jelas sama hebatnya dengan daftar wanita berpengaruh hari ini–bahkan mungkin lebih hebat lagi.

Tapi baiklah, kita tidak harus berpanjang-lebar membahas itu lagi. Toh, sebenarnya lebih menarik menyimak warisan dari seorang Nyai Ahmad Dahlan. Tahun 1919, dua tahun Aisyiyah berdiri, lahirlah taman kanak-kanak yang kelak diberi nama TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal. Hari ini, 2019, alias seratus tahun berlalu, kalian tahu berapa jumlah cabang TK ini di seluruh Indonesia? 20.000 lebih. Seriusan, saya termangu membaca data ini, ini tidak salah tulis? Oh God, punya 10 TK saja sudah banyak, Organisasi Aisyiyah punya 20.000 lebih TK. Crazy. Belum lagi sekolah-sekolah hingga universitas.

Lihatlah warisan dari seorang Nyai Ahmad Dahlan.
Dia adalah contoh aktivis gerakan wanita yang kongkrit. ‘Demi’ 20.000 TK itu, semestinya , 3 Januari, tanggal kelahiran Nyai Ahmad Dahlan, kalaupun bukan dijadikan hari Emansipasi Wanita, pun juga bukan hari Pendidikan Nasional, bisakah kita sepakati dijadikan hari Taman Kanak-Kanak Nasional saja? Agar orang paham, bahwa pendidikan telah dimulai di usia yang sangat dini. Pendidikan di rumah, pendidikan di sekolah, pendidikan di masyarakat, dan pendidikan di tempat2 ibadah.

Nyai Ahmad Dahlan tidak hanya bisa bercita-cita; dia mengambil jalan kongkrit. Nyata.

 

•┈┈┈┈•◈◉✹❒❒✹◉◈•┈┈┈┈•​​​​​​​​

📲 Semoga Bermanfaat dan Ambil Faedahnya, Jangan Lupa Bagikan, Fastabiqul khairat