Malang -Berbicara kebangsaan, tentu kita harus membuatnya relevan dengan tujuan Muhammadiyah , yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar benarnya. Maka tujuan negara itu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan pancasila.
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikannya dalam sarasehan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) kota Malang di Savana Hotel Jl Letjen Sutoyo no 32 – 34 kota Malang , Ahad ( 13/11/22).
Dikatakan untuk melihat sejauh mana Muhammadiyah ini berhasil dalam urusan kebangsaan, maka harus dilihat dulu ukurannya.
Ketua PWM Jawa Timur periode 2005 – 2010 itu menyampaikan, ada dua ukuran;
Pertama ukuran yang bersifat instrumental atau alat, atau at thariidzah dan kedua, ukuran yang bersifat substansial atau Al maudzuui.
Dia menjelaskan, “alat supaya kita bisa memerjuangkan cita – cita Muhammadiyah untuk mendekati yang ideal.
Dia mencontohkan, “misalkan di Muhammadiyah harus ada yang menjadi mentri, maka itu adalah alat”.
Lebih lanjut dia mengatakan , “ada sebuah study oleh Syaifullah, PWM Bengkulu yang membuat statistik keadaan naik turunnya Muhammadiyah dalam ranah politik dengan melihat berapa kader yang jadi gubernur, bupati adalah merupakan instrumen”.
Menurutnya memang secara statistik ada fluktuasi, dan itu merupakan kemenangan Muhammadiyah dalam sebuah peperangan, dan untuk suatu instrumen, hal tersebut harus juga dilakukan, untuk menduduki di posisi – posisi penting.Meskipun hal tersebut tidak otomatis.
Akan tetapi dari sudut substansial, Muhammadiyah harus membangun masyarakat Islam yang sebenar benarnya. Apakah keberhasilan itu semakin dekat apakah semakin jauh?
Dijelaskan hal tersbut bisa dilihat apakah masyarakat Indonesia saat ini semakin dekat dengan kehidupan Islam yang sebenarnya atau semakin jauh.
Dikatakan, bila semakin dekat pada amar makruf nahi munkar sebagai gerakan dakwa, maka Muhammadiyah berhasil , namun bila semakin jauh maka Muhammadiyah telah gagal.
Mengapa Muhammadiyah belum mampu membawa pada keberhasilan karena instrumennya yang masih belum kuat.
“Jadi bisa dikatakan, bila masyarakat Indonesia ini mayoritas warga Muhammadiyah, maka akan menjadi jauh lebih baik”.
Karena warga Muhammadiyah itu punya komitmen, tidak mudah ikut arus juga tidak pragmatis.
Sehingga kita berasumsi bila umat Islam saja di Indonesia itu Muhammadiyah, maka Indonesia ini akan jauh lebih bagus, lebih makmur dari yang sekarang ini.
Akan tetapi kita tidak menggunakan ukuran kebesaran sebuah organisasi “itu ukuran kwantitatif”, menurut Syafiq kwantitatif saja tidak cukup, harus juga ada ukuran kwalitatif, misalnya saja terkait peran Muhammadiyah di dunia pendidikan, sosial, kesehatan dalam mencerahkan bangsa dan mensejahterakan umat.
Hal tersebut adalah ukuran – ukuran kwaliatif yang tidak hanya dilihat dari jumlah, “sehingga saya sering tidak rela kalau Muhammadiyah itu sering disebut sebut sebagai organisasi terbesar ke 2”, tuturnya.
“Kalau anggotanya banyak buat apa? Ya kalau betul, tapi kalau tidak maka itu akan dibuat permainan saja, akan mudah terombang ambing, bahkan mudah dibeli, bila kita hanya jumlah banyak tapi tidak berkwalitas”.
Pria kelahiran Lamongan itu menuturkan bila kita ini, Muhammadiyah belum berjaya dalam urusan politik, maka harus fair, jujur melihatnya, bahwa itu bukan satu satunya ukuran untuk melihat keberhasilan Muhammadiyah.
Menurutnya saat ini terkait kebangsaan yang paling problem adalah masalah demokrasi. Ada dilema memang pada para politikus Muhammadiyah “apakah kita akan mengikuti gaya kebanyakan saat ini atau tetap memegang teguh idealisme prinsip”.
Masalah Internasional
Muhammadiyah melihat ada krisis kemanusiaan yang sekarang kita hadapi , yang menurutnya itu sangat menutup peran bagi Muhammadiyah.
“Sebenarnya aktor seperti negara itu sangat penting, apalagi PBB. Akan tetapi selalu saja menemui kegagalan dalam menangani krisis kemanusiaan ini”.
Ada sistim yang tidak bisa menjamin keberhasilan peran mereka, maka mau tidak mau organisasi non pemerintah seperti persyarikatan Muhammadiyah harus tampil ikut menyelesaikan persoalan persoalan kemanusiaan tersebut.
Dalam hal ini ada tiga yang didefinisikan sebagai tantangan yang sangat berat yang akan mengancam krisis kemanusiaaan.
Pertama, persaingan kekuatan global, Antara Amerika dengan Cina, Amerika dengan Rusia, antara Iran yang dekat dengan Amerika yang sedang menghadapi Rusian dan sebagainya, “dimana hal ini bisa menjurus pada perang yang sulit diprediksi bagaimana nanti dampak dari perang tersebut”.
“Banyak ahli yang mengatakan tidak akan ada yang menang, semuanya akan kalah, bila sampai terjadi perang nuklir”.
Syafiq menceritakan, ketika dia di Iran, diajak meninjau pusat riset nuklir terbesar di Teheran, yang bisa menghasilkan senjata yang cukup canggih.
Menurutnya bila benar terjadi perang maka akan terjadi malapetaka yang sangat besar, ” dan ini situasinya sudah muntup – muntup”, katanya.
Lebih lanjut dia menuturkan krisis pangan akibat perang Ukraina Rusia sangat dirasakan. Nah, Muhammadiyah walau tidak mempunyai senjata terus membantu secara moral, paling tidak terus berupaya untuk mendamaikan Ukraina dan Rusia, demi kedamaian kehidupan umat manusia.
Kedua, persoalan ekstrimisme.
Undang Undang aman demen kependudukan di India yang sangat merugikan umat Islam. Karena kelompok fundamentalis, ekstrimis Hindu yang berkuasa membuat undang – undang yang meresahkan umat Islam dengan tujuan supaya jumlah umat Islam di India tidak cepat besar.
“Saat saya menanyakan hal tersebut, alasan mereka adalah karena umat Hindu dipersekusi di Iran, Afganistan
Dia menjelaskan fakta Uighur yang katanya de reedukasi, menurutnya lebih tepat disebut de radikalisasi.”Karena di sana tidak boleh shalat”.
Mereka dikonsentrasikan di sebuah bangunan dengan tinggi dinding 10 meter dengan pengamanan yang ketat, “ada sepuluh camp dan saya baru mengunjungi dua”.
Dia menyampaikan dua orang yang berhasil dia ajak bicara mengatakan, kalau dia ditangkap karena melarang temannya menggunakan pasta gigi yang mengandung babi.
Dan satunya lagi menyampaikan, dia ditangkap karena melarang istrinya bekerja di luar rumah karena lebih penting mengurus anak -anak di rumah,”akhirnya saya ditangkap dan dimasukkan konsentrasi ini”, tiru Syafiq.
“Ini adalah betul ekstrimisme, yang berkedok deradikalisasi, dan ini bahaya yang mengancam semua”, tandasnya.
Ketiga, clime change atau perubahan iklim.
Hal ini menjadi konsent masyarakat dunia. Dan kita bersyukur kita sudah ada majelis lingkungan hidup
Dalam hal kita Muhammadiyah sangat ditantang untuk mengerem laju pemanasan global, yang di seluruh penjuru dunia ini sudah sangat resah”.
bila laju itu tidak bisa direm maka tidak akan ada makhluk hidup yang bisa hidup dimuka bumi ini.Semua akan punah tidak kuat menghadapi panasnya bumi.
Hal itu secara scientific bisa dipastikan akan terjadi bila kita tida
mengubah gaya hidup kita , mulai dari pemborosan energi, kemudian limbah plastik.
Bila umat Islam ini mau bergerak, maka akan menjadi bantuan yang sangat luar bias, karena itulah majelis tarjih juga melalukan pendekatan pendekatan secara theologis dan kemudian lahirlah theologi lingkungan.
Penulis Uzlifah.











