Daun Jati Hantarkan Jadi Magister

Kisah Inspiratif Anak Penjual Daun Jati Asal Jombang Raih Gelar Magister
Kisah perjuangan Bambang Cahyono (26) seorang pemuda asal Desa Manduro, Kabuh, Kabupaten Jombang, bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang dalam kegigihannya mencari ilmu. Dengan latar belakang sebagai anak penjual daun jati dari pasangan Tarmijin dan Karni, Bambang berhasil menempuh pendidikan hingga S-2 di Universitas Islam Malang (Unisma).
“Alhamdulillah, berkat doa orang tua sebagian mimpi saya sudah tercapai. Saya juga tidak menyangka bisa sampai lulus S-2. SMA saya sekolah harus ikut Asrama, S-1 sambil kerja serabutan pernah ikut jadi tukang foto copy, jualan karya desain dan sebagainya yang penting bisa kuliah waktu itu,” kata Bambang

Pria kelahiran 02 Januari 1998 itu lahir dari ayah seorang buruh tani dan ibunya seorang penjual daun jati. Namun, tidak mematahkan semangatnya hingga menyelesaikan pendidikannya di Program Magister Hukum Keluarga Islam di Unisma Malang.
Pemuda yang lahir dari desa pedalaman ujung utara perbatasan Lamongan-Jombang itu menceritakan perjuangan orang tuanya menyekolahkannya tidak mudah. Sebab, mereka dihadapkan dengan kondisi keuangan yang tidak mendukung.
“Keinginan untuk bersekolah setinggi-tingginya adalah cita-cita utama saat saya masih duduk di bangku SD” tutur Bamz,

sapaan akrabnya kepada TIMES Indonesia.
Menurutnya, keinginannya berkuliah merupakan cita-cita dari ayahnya. Sebab, dulu ayahnya harus putus sekolah saat duduk di bangku SD, jadi tidak sampai tamat SD lantaran tidak mampu membiayai pendidikan lanjutan. Kisah hidup orang tuanya itu yang membuat Bambang bertekat kuat untuk meraih mimpi pendidikan tinggi dan berkarier sebagai Guru atau Dosen.
“Sejak itu, hanya modal nekad saja. Dikasih uang saku ibu 500 ribu hasil nabung jualan daun jati ke pasar. Saya menyadari bahwa ekonomi keluarga memang sulit yang mengharuskan saya harus kuliah sambil kerja,” terangnya


Cita-citanya menjadi seorang akademisi atau Dosen membuatnya nekad harus menempuh pendidikan setinggi mungkin setelah lulus S-1 Pendidikan Agama Islam di STIT Al-Urwatul Wutsqo Jombang. Dengan kerja keras tetap nekad, ia berhasil masuk ke Universitas Islam Malang.

“Saya selalu yakin niat yang baik akan selalu ada jalan terang yang akan menghampiri saya. Dan yang tak kalah penting adalah restu dari Ibu, alhamdulillah selalu dipertemukan dengan orang-orang baik,” ujarnya.

Meskipun harus menghadapi berbagai kendala, seperti biaya hidup dan jadwal kuliah yang padat, Bambang tidak pernah menyerah. Setelah meraih gelar Sarjana, ia memutuskan untuk mengambil tantangan lebih besar. Ia mendaftar program pascasarjana dan berhasil diterima di Unisma Malang. Selama kuliah S-2, Bambang juga mulai bekerja sebagai guru honorer di salah satu SD di Jombang sekalian jurnalis di media nasional.
“Alhamdulillah, berkat menjadi seorang jurnalis saya dipertemukan dengan orang-orang baik yang banyak mensupport langkah-langkahnya” papar pemuda yang megabdikan dirinya menjadi Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kabuh itu.
Ketika ditanya tentang keseimbangan antara kuliah dan pekerjaan, hal tersebut memang berat untuk dijalani secara seimbang. Membutuhkan energi yang lebih untuk tetap konsisten dengan prinsip dan tujuan utama.
“Itu memang tidak mudah, tapi saya yakin bahwa pendidikan adalah kunci untuk perubahan yang lebih baik dalam hidup. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, organisasi dan juga waktu bersama teman-teman” jelasnya.

Ia berkomitmen dalam melanjutkan studi itu sebagai bentuk partisipasi untuk memperbaiki sumber daya manusia (SDM) di Desa Manduro yang masih rendah. “Kita tidak tahu jalan hidup seseorang, kita manusia hanya bisa merancang tetapi Tuhanlah yang menentukan,” ungkapnya. Bambang berpesan bagi anak muda di Jombang agar tidak minder, menyerah apalagi putus asa, tetapi terus berjuang dan berdoa.

Karni, ibunda Bambang merasa bangga dan haru dan tak bisa mengungkapkan rasa bahagianya. Terlihat tetesan air mata mengalir di pipinya. Rasa syukur terus ia panjatkan saat melihat anak pertamanya bisa lulus sampai S2.
“Ketika Bambang masih kecil, saya selalu mendukung untuk belajar. Saya hanya terakhir tamat SD namun bapaknya tidak tamat SD. Saya memang buta huruf tapi jangan pada anak-anak ku,” kata Karni dengan mata berbinar.
Menurutnya, Bambang merupakan anak yang nekad dalam hal mencari ilmu. Ia sempat menyuruhnya untuk tidak melanjutkan pendidikan hingga tinggat SMA karena keterbatasan ekonomi.

“Orangnya itu nekad, kepinginnya sekolah terus, waktu SMA pun ikut Asrama, kuliah S1 sambil kerja serabutan. Saya cuma pesan 1 hal dimanapun berada jaga sopan santun dan berbuatlah baik kepada orang sudah itu saja. Alhamdulillah sekarang sudah lulus S2 dan ia masih punya rencana untuk lanjut S-3,” pungkasnya.