Oleh Uzlifah
Hendaknya kita juga menyadari bahwa meskipun anak-anak kita sudah dititipkan kepada guru-gurunya di sekolah atau di pesantren, namun tanggung jawab utama mendidik anak-anak tetaplah di tangan kita selaku orang tua.
Rasulullah bersabda:
*كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ*
Artinya, *“Setiap bayi yang terlahir dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai Yahudi atau sebagai Nasrani,”*
(HR. Bukhari).
Hadits ini mengisyaratkan bahwa tanggung jawab orang tua sangat penting dalam membentuk akhlak, ibadah, maupun mu’amalah anak-anak mereka di masa depan. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita kembali memberikan perhatian penuh pada fokus dan prioritas dalam pendidikan anak-anak kita.
Berbicara mendidik anak, kita mungkin bisa belajar banyak dari sosok luar biasa yang diceritakan Al-Quran, yaitu Luqman Al-Hakim. Sebagaimana diketahui, *Luqman Al-Hakim* adalah keponakan *Nabi Ayub* yang berasal dari negeri *Sudan.* Ia pernah berguru kepada *Nabi Dawud* dan dianugerahi hikmah oleh Allah.
Berkat karunia hikmah yang diberikan Allah, Luqman menjadi sosok yang sangat bijaksana, termasuk dalam hal mendidik anaknya. Dalam menyampaikan pesan-pesannya, Luqman dikenal menggunakan metode dialog yang penuh kebijaksanaan.
Selama ini, mungkin masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa dialog dengan anak hanya menyia-nyiakan waktu. Pikir mereka, biarlah anak bermain sendiri dengan mainan kesukaannya daripada diajak dialog, terlebih di tengah padatnya aktivitas.
Padahal menurut *Dr. Ghadah Hasyad,* seorang konsultan pendidikan dan keluarga asal Mesir dalam buku *Al-Hiwâr ma’al-Abnâ,* dialog dengan anak memiliki manfaat yang luar biasa, di antaranya adalah:
1. Merangsang pertumbuhan dan intelektual anak;
2. Mengenali potensi, keunggulan, dan kecenderungan anak, sehingga lebih mudah diarahkan;
3. Memberi perhatian dan kasih sayang lebih pada anak, sehingga kondisi psikologisnya tetap terjaga dengan baik hingga dewasa.
Dialog yang digunakan *Luqman* dalam mendidik anaknya bukanlah dialog biasa, melainkan dialog yang lahir dari hati yang tulus dan takut kepada Allah. Dialog tersebut penuh dengan keteladanan dan rasa tanggung jawab, sarat akan cinta dan kasih sayang, mengerti akan situasi, kemampuan, dan psikologis anak, menggunakan bahasa yang lemah lembut, sederhana, dan mengundang rasa simpati anak, ditambah konsep dialog yang mengedepankan konsep kesetaraan, hingga anak pun lebih terbuka untuk menerima apa yang disampaikan orang tua.
Nasihat yang disampaikan *Luqman* melalui dialognya bersifat komprehensif, mengedepankan skala prioritas, dan mencakup segala hal yang dibutuhkan anak dalam setiap fase pertumbuhannya. Nasihat-nasihatnya mencakup aspek akidah atau tauhid, aspek ibadah, aspek mu’amalah, dan aspek akhlak.
Penyampaian nasihat dimulai dari masalah akidah yang menjadi dasar keyakinannya, disusul dengan penanaman nilai-nilai ketakwaan dan rasa takut kepada Allah pada hati anak. Setelah itu, barulah beralih pada masalah shalat, perintah amar makruf, nahi munkar, dan perintah sabar.
Itu pula yang membuat nama *Luqman Al-Hakim* harum hingga sekarang dan diabadikan sebagai salah satu nama surat Al-Quran. Di antara ayat yang mengisahkan dialog Luqman dengan anaknya adalah sebagai berikut:
*وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ*
Artinya, *“(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah menyekutukan Allah! Sesungguhnya menyekutukan (Allah) itu benar-benar kezhaliman yang besar,”*
QS. Luqman ayat 13.
Mengawali dialognya, *Luqman Al-Hakim* menyapa sang putra dengan sapaan, *“Ya bunayya….” atau “wahai anakku.”* Ini menunjukkan kepiawaiannya sebagai pendidik yang bijak dalam memilih tutur kata yang disenangi anak, sehingga membuat anaknya nyaman, berkesan, merasa dihargai dan diperhatikan
Dari sisi kandungan pesannya, pendidikan tauhid dan mengenalkan Allah memang menjadi pendidikan dasar yang ditanamkan pada anak. Sebab, kewajiban pertama bagi orang mukallaf adalah mengenal Tuhannya, yakni Allah. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh para ulama tauhid sebagaimana disebutkan *Abdullah bin Muhammad dalam kitab Ara’ul Qurthubi* halaman 193:
*أَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ مَعْرِفَةُ اللهِ تَعَالَى بِالدَّلِيْلِ وَالْبُرْهَانِ*
Artinya, *“Kewajiban pertama bagi seorang mukalaf adalah mengenal Allah dengan dalil dan argumen,”*
Di ayat berikutnya, Allah kembali merekam pesan *Luqman* kepada anaknya perihal pentingnya kesadaran akan pengawasan Allah terhadap diri sang anak.
*يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ*
Artinya, *“(Luqman berkata,) “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya (untuk diberi balasan),”*
QS. Luqman ayat 16
Jika diamati lebih mendalam, dari ayat ini Luqman hendak menanamkan keimanan yang kuat dalam hati anaknya agar selalu merasa dilihat dan diawasi oleh Allah, baik di hadapan orang tua maupun tidak. Dan jika misi ini berhasil, maka membentuk karakter anak akan cukup mudah sebab dasarnya adalah keimanan dan rasa takut kepada Allah.
Dari petikan dialog di atas, terlihat bahwa pendidikan yang disampaikan oleh *Luqman* didasarkan pada dua prinsip utama, yaitu prinsip pahala dan siksa serta prinsip motivasi dan peringatan. Pelaksanaan perintah dan pengabaian larangan dijelaskan kepada anak bahwa keduanya memiliki konsekuensi, baik berupa ganjaran berupa pahala dan kenikmatan surga maupun pembalasan berupa siksaan neraka
Semoga Allah selalu memberikan kita ilmu yang bermanfaat. Aamiin
Wallahu a’lam bish-shawaab,
Barakallah fiikum..










