Indonesia pernah memiliki seorang diplomat ulung non-pemerintah yang suaranya menggema hingga ke Timur Tengah dan forum-forum perdamaian dunia. Ia adalah Drs. Lukman Harun, tokoh Muhammadiyah kelahiran Limbanang, Sumatera Barat, yang mendedikasikan hidupnya untuk menyuarakan martabat Islam di kancah global.
Menempa Diri dari Akar Organisasi
Lahir pada 6 Mei 1934, Lukman tumbuh dalam keluarga yang religius. Ayahnya, Zaid, adalah seorang ahli bahasa Arab yang menanamkan dasar agama yang kuat. Pendidikan formalnya diselesaikan di Fakultas Ekonomi Universitas Nasional, namun “sekolah” sesungguhnya bagi Lukman adalah dunia pergerakan.
Sejak mahasiswa, ia sudah menunjukkan bakat kepemimpinan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga dipercaya menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah. Keberaniannya teruji saat ia menjadi salah satu aktivis vokal dalam menentang pengaruh PKI di akhir era Orde Lama.
Diplomasi Islam Internasional
Julukan “Menteri Luar Negeri Muhammadiyah” yang disematkan oleh Din Syamsuddin bukanlah tanpa alasan. Lukman Harun adalah jembatan antara Indonesia dengan dunia Islam internasional. Ia menduduki posisi strategis sebagai Sekretaris Jenderal Asian Conference on Religion and Peace (ACRP) dan aktif dalam Komite Solidaritas Islam.
Salah satu warisan terbesarnya adalah pembelaan tanpa henti terhadap kemerdekaan Palestina. Lukman dikenal memiliki hubungan dekat dengan pemimpin PLO, Yasser Arafat, dan terlibat langsung dalam komite pembebasan Palestina. Baginya, isu Palestina bukan sekadar urusan agama, melainkan masalah kemanusiaan dan keadilan dunia.
Pembela Tenaga Kerja dan Kemanusiaan
Meski sibuk di panggung dunia, Lukman tetap menapak bumi. Ia adalah salah satu tokoh pertama yang dengan lantang menarik perhatian publik terhadap perlakuan tidak adil yang menimpa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Ia menuntut perlindungan dan martabat bagi para pekerja migran, menunjukkan bahwa visinya tentang Islam adalah visi yang peduli pada kaum yang lemah.
Politik dan Pengabdian
Karier politiknya sempat membawanya ke kursi DPR Gotong Royong (DPR-GR) pada 1967 dan menjabat sebagai Sekjen Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Meski sempat mengalami dinamika politik hingga di-recall, semangatnya tidak pernah padam. Ia tetap memilih jalur dakwah dan diplomasi sebagai jalan utama pengabdiannya.
Drs. Lukman Harun wafat pada 8 April 1999, namun semangat visionernya dalam membawa Muhammadiyah menghadapi tantangan global tetap menjadi acuan bagi generasi kepemimpinan Islam hingga saat ini.
Sosok visioner yang membuktikan bahwa putra daerah bisa memberikan dampak bagi perdamaian dunia. Mari kita teladani semangat juang beliau! 🤲✨
Sumber: Artikel ini disusun kembali dari data sejarah dan biografi tokoh di Wikipedia.
#LukmanHarun #Muhammadiyah #TokohIslam #Palestina #Minangkabau #InspirasiIndonesia #TokohNasional











