Oleh: Kang Sholeh Widhe (Influencer santri asal Lamongan Loran)
1. Tidak Ada Sumber Primer
Kisah Tongkat dan Tasbih tidak tercatat dalam dokumen resmi Nahdlatul Ulama. Ia tidak ditemukan dalam arsip, surat-menyurat, notulen rapat, maupun tulisan sezaman, dan hanya beredar melalui riwayat tutur (oral tradition) yang muncul jauh setelah peristiwa yang dikisahkan. Dalam kaidah sejarah, riwayat lisan tanpa dukungan dokumen primer tidak dapat dijadikan dasar penetapan fakta sejarah, terlebih untuk menjelaskan fondasi berdirinya sebuah organisasi besar seperti NU.
Catatan KH. Abdul Chalim Leuwimunding tentang sejarah NU juga tidak memuat kisah ini. Narasi Tongkat dan Tasbih baru muncul dalam buku Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama, berdasarkan penuturan lisan Kiai As’ad pada tahun 1982—lebih dari setengah abad setelah peristiwa yang diceritakan.
2. Fakta Sosiologis Santri Syaikhona Kholil
Sejumlah santri dekat Syaikhona Kholil—bahkan yang memiliki hubungan keilmuan sangat kuat—tercatat tidak bergabung dengan NU, dan sebagian di antaranya justru mengkritiknya secara terbuka. Di antaranya KH. Mas Mansur (Ketua Umum Muhammadiyah), KH. Ahmad Qusyairi, serta KH. Abdullah dan KH. Muhammad Pasuruan. Apabila kisah Tongkat dan Tasbih benar-benar dipahami sebagai mandat spiritual pendirian NU, maka sulit dijelaskan mengapa fakta penolakan ini justru muncul dan terdokumentasi secara tertulis.
3. Tidak Sinkron dengan Kronologi Sejarah
Isyarah dalam kisah tersebut disebut terjadi sekitar tahun 1924. Padahal pada periode itu belum terdapat rencana pendirian NU sebagai organisasi. KH. Hasyim Asy’ari masih berperan terbatas sebagai wakil penasehat Taswirul Afkar. Dinamika yang secara nyata melahirkan NU baru menguat pasca Kongres Al-Islam 1925 dan pembentukan Komite Hijaz. Dengan demikian, secara kronologis, narasi isyarah tidak sejalan dengan fakta sejarah gerakan ulama pada masa itu.
4. Penyebab Berdirinya NU Sudah Jelas Secara Historis
Nahdlatul Ulama lahir sebagai respon atas penolakan usulan kebebasan bermadzhab empat dalam Kongres Al-Islam 1925, kekhawatiran ulama Nusantara terhadap kebijakan keagamaan di Hijaz, serta pembentukan Komite Hijaz sebagai langkah politik-keagamaan di tingkat global. Seluruh proses ini tercatat jelas dalam sejarah, tanpa perlu ditopang oleh kisah simbolik Tongkat dan Tasbih.
5. Salah Tafsir atas Posisi Syaikhona Kholil
Apabila kisah tersebut dipahami sebagai pengalaman spiritual, maka lebih tepat dimaknai sebagai restu keilmuan—yakni isyarah bahwa KH. Hasyim Asy’ari layak menjadi guru besar para ulama Nusantara—bukan sebagai isyarah pendirian organisasi. Terlebih, Syaikhona Kholil wafat pada tahun 1925, tidak menyaksikan berdirinya NU pada tahun 1926, serta tidak terlibat dalam deklarasi di Kertopaten Surabaya.
6. Pengalaman Spiritual Bersifat Subjektif
Pengalaman spiritual bersifat personal dan terbuka terhadap multi-tafsir. Ia tidak dapat dipaksakan menjadi kebenaran kolektif atau dijadikan narasi sejarah resmi. Ketika pengalaman spiritual ditarik ke dalam ranah sejarah organisasi, di situlah problem metodologis muncul.
Wallāhu A‘lam.
Sumber:
Facebook Yunus Gipo (Dzurriyah Kiai Hasan Gipo)
Facebook Kholili Kholil











