Malang, Ramadhan 1447 H tahun ini memberikan warna tersendiri di Masjid TPI Nurul Huda Malang (14/3/2026), Kehadiran Santriwati Muallimat Yogyakarta Bariyah Umniyah mampu menggugah fikir jamaah, kali ini membahas tentang sabar.
Bariyah menyampaikan tentang salah makna memahami sabar sebagian dari kita,
“Sering kali kita keliru dalam memaknai kesabaran. Ada anggapan bahwa sabar berarti hanya diam, pasrah, atau membiarkan diri diperlakukan semena-mena. Padahal, dalam ajaran Islam, sabar justru merupakan sebuah tindakan yang aktif dan penuh kekuatan” Tegasnya
Menurut Bariyah, Sabar itu ibarat otot. Ia perlu dilatih dengan beban agar semakin kuat.
“Jika kita tidak pernah mendapat ujian, “otot” kesabaran kita akan melemah. Oleh karena itu, tantangan sehari-hari—seperti kemacetan, kendala teknis, hingga ucapan kurang menyenangkan dari rekan kerja—sebenarnya adalah sarana latihan untuk memperkuat mental kita”

Kajian bakda subuh semakin menarik ketika pemateri mengklasifikasikan jenis sabar,
“Tiga Pilar Sabar dalam Kehidupan Sehari-hari Untuk memudahkan penerapan, kita dapat membagi sabar ke dalam tiga bagian praktis:”
Pertama, Sabar dalam Menjalankan Kebaikan (Istiqamah) Menjaga konsistensi dalam berbuat baik bukanlah hal yang mudah. Bangun pagi tepat waktu, bekerja dengan jujur, atau tetap fokus tanpa terganggu media sosial memerlukan perjuangan. Di sinilah sabar berfungsi sebagai bahan bakar agar kita tidak berhenti di tengah jalan.
Kedua, Sabar dalam Menahan Diri dari Keburukan, Saat merasa kesal, sering kali muncul dorongan untuk membalas dengan kata-kata kasar atau mengambil jalan pintas yang tidak jujur. Sabar berperan sebagai “rem” pengendali. Tanpa rem yang pakem, manusia bisa terjerumus dalam tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Ketiga, Sabar dalam Menghadapi Ketentuan Hidup. Rencana kita tidak selalu berjalan mulus. Namun, di saat itulah sabar berubah menjadi sikap Husnudzon (berprasangka baik). Kita harus yakin bahwa di balik setiap kesulitan, Tuhan telah menyiapkan skenario yang jauh lebih baik untuk kita.
Siswa kelas tiga madrasah Tsanawiyah Muallimat ini menggelitik jamaah dengan kalimat tanya,
‘Mengapa Kita Harus Bersabar?”
Alasannya sangat mendasar: karena Allah menjanjikan penyertaan-Nya bagi mereka yang sabar. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa “Allah bersama orang-orang yang sabar.” Bayangkan, jika Sang Pencipta sudah berada di pihak kita, maka masalah seberat apa pun akan terasa lebih ringan untuk dihadapi.
Sabar memang memiliki proses yang terasa pahit, namun sebagaimana akar pohon yang pahit, ia akan menghasilkan buah yang sangat manis pada akhirnya.
QS. Al-Baqarah: 153
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Di akhir sebagai penutup Bariyah menyampaikan
“Hari ini, yuk kita coba kurangi ngeluh dan perbanyak napas panjang. Kalau ada yang bikin emosi, senyumin saja dulu. Tarik napas, istighfar, dan bilang ke diri sendiri: “Oke, ini waktunya latihan otot sabar.”
Semoga hari kita semua yang membaca berita ini mendapatkan berkah, urusan dilancarkan, dan hati kita dilapangkan seluas samudera.
Editor : Azka











