Begini Cara Iran Kalahkan Starlink Elon Musk

Jarum jam menunjukkan pukul 22:15 di Teheran pada malam 8 Januari 2026, ketika layar-layar ponsel di seantero negeri mendadak membeku. Di markas besar pemantau internet dunia seperti NetBlocks dan Cloudflare, grafik lalu lintas data Iran yang biasanya berdenyut, tiba-tiba jatuh tegak lurus menuju angka nol. Pasukan Garda Revoulis Iran baru saja menarik sakelar “Internet Kill Switch” paling radikal dalam sejarah mereka.

Seorang perusuh di distrik Isfahan mencoba menghubungkan perangkatnya, berharap koneksi satelit milik Elon Musk itu bisa menembus blokade. Namun malam itu, aplikasinya hanya menunjukkan status menyedihkan: Searching…. Di sudut lain, Amir Rashidi, peneliti keamanan siber dari Miaan Group yang telah memantau internet Iran selama dua dekade, menatap layarnya dengan dahi berkerut. “Belum pernah saya lihat hal seperti ini,” gumamnya. Kehilangan paket data (packet loss) melonjak gila-gilaan, dari 30 persen hingga menyentuh 80 persen di titik puncak protes. Starlink, internet satelit yang konon bisa membuat connect dimanapun, rupanya sedang “dipukuli” habis-habisan oleh sinyal tak kasat mata dari darat.

Selama bertahun-tahun, Starlink dianggap sebagai senjata pamungkas melawan sensor. Dengan ribuan satelit di orbit rendah bumi, ia mustahil dijatuhkan oleh rudal. Namun, para insinyur di Teheran menemukan celah fatal. Terminal Starlink di bumi membutuhkan dua hal untuk bekerja: koneksi ke satelit dan sinyal GPS (GNSS) untuk mengetahui di mana posisi satelit itu berada.

Sinyal GPS, yang datang dari jarak ribuan kilometer, secara alami sangat lemah. Untuk mengacaukan itu, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengerahkan truk-truk peperangan elektronik (mobile jammers) ke titik-titik demonstrasi. Truk-truk ini membanjiri frekuensi GPS dengan “kebisingan” radio. Hasilnya? Terminal Starlink menjadi “buta”. Tanpa koordinat GPS yang akurat, antena otomatis Starlink terus berputar mencari sinyal yang tak kunjung ketemu. Internet itu ada di atas sana, tapi aksesnya di bumi sedang dibakar oleh gelombang elektromagnetik.

Dari mana Iran mendapatkan kemampuan ini? Para analis intelijen menunjuk ke arah utara dan timur. Setelah pengalaman di medan perang Ukraina, di mana Starlink menjadi tulang punggung komunikasi Kyiv, Rusia telah menyempurnakan taktik gangguan elektroniknya. Teknologi ini, bersama dengan dukungan infrastruktur dari China, diduga telah ditransfer ke IRGC.

Ini adalah manuver cerdas: Iran mematikan GPS milik Amerika agar para perusuh buta internet, sementara otoritas militer dan transportasi mereka sendiri tetap bisa beroperasi menggunakan sistem navigasi BeiDou milik China dan GLONASS punya Rusia yang frekuensinya tidak mereka ganggu. Ini adalah strategi “Area Denial” digital: menutup akses perusuh sambil tetap menjaga jalur komunikasi sendiri.

Keesokan harinya, pemandangan kontras terjadi. Sementara 40.000 hingga 50.000 pengguna Starlink di Iran berjuang mencari sinyal, pemerintah mulai meluncurkan sistem “White List” (Daftar Putih). Internet kembali menyala, namun hanya untuk kantor pemerintahan, media negara, dan institusi pemerintah. Sementara perusuh yang biasa menggunakan Starlink adalah kegelapan tetap total.

Di California, tim insinyur SpaceX dikabarkan bekerja lembur. Elon Musk, yang sebelumnya dengan jumawa mencuit “The beams are on,” kini harus menghadapi kenyataan bahwa teknologi luar angkasanya bisa ditumbangkan oleh jammer darat yang diproduksi massal. Meskipun tim SpaceX terus mencoba memperbarui perangkat lunak untuk beralih ke sensor internal tanpa GPS, ini tetap menjadi permainan kucing dan tikus yang melelahkan.

Pada, 11 Januari 2026, seantero Iran tidak hanya gelap secara digital, ia kini membisu secara total. Setelah internet dilumpuhkan lewat peperangan elektronik terhadap Starlink, IRGC mengambil langkah final: mematikan seluruh nada sambung. Telepon kabel yang selama puluhan tahun menjadi napas komunikasi terakhir di saat krisis, mendadak mati. Tanpa internet, tanpa ponsel, tanpa telepon kabel, Iran menjadi sebuah kotak hitam raksasa di tengah Timur Tengah.

Di balik kesunyian itu, deru mesin truk-truk militer IRGC menjadi satu-satunya suara yang dominan. Lalu dilakukan pembersihan dan pengejaran proxy Mossad yang menyusup ke jantung pertahanan mereka. Pemutusan telepon jalur tetap (landlines) adalah taktik yang jarang digunakan kecuali dalam kondisi darurat perang tertinggi. Tanpa telepon, koordinasi massa mustahil dilakukan. Para agen Mossad yang sebelumnya masih bisa berkomunikasi lewat kode-kode suara kini terjebak dalam isolasi mandiri.

Dalam kegelapan informasi, narasi “agen Mossad” dilemparkan ke udara melalui corong-corong media negara yang tetap menyala di bawah sistem White List. Ini adalah perang psikologis: membuat rakyat merasa bahwa mereka dikelilingi oleh mata-mata, sehingga tindakan keras militer terlihat sebagai penyelamatan nasional.

Pembersihan jaringan Mossad ini terjadi hanya beberapa hari setelah Starlink lumpuh oleh jamming hebat. Polanya jelas: pertama, butakan mata musuh dari dunia luar (internet); kedua, putus lidah mereka dari komando (telepon); ketiga, lakukan penindakan tanpa saksi.

Perang di langit Teheran adalah peringatan bagi dunia: di masa depan, kekuasaan tidak lagi hanya diukur dari jumlah peluru, melainkan dari seberapa kuat sebuah suatu negara mampu menguasai dan merusak spektrum frekuensi di atas kepala rakyatnya.

Kita belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Pemadaman digital Iran kini telah mengerahkan perangkat pengacak sinyal militer, yang dilaporkan dipasok oleh Rusia, untuk memutus akses ke internet Starlink. Ini merupakan perubahan besar bagi konektivitas Plan-B yang sering digunakan oleh para pengunjuk rasa dan aktivis anti-rezim ketika akses internet biasa terhenti.

“Meskipun ada laporan bahwa puluhan ribu unit Starlink beroperasi di dalam Iran,” kata Iran Wire , “pemadaman juga telah mencapai koneksi satelit.” Dilaporkan bahwa sekitar 30 persen lalu lintas uplink dan downlink Starlink (awalnya) terganggu,” dengan cepat meningkat “menjadi lebih dari 80 persen” dalam hitungan jam.

Times of Israel mengatakan “penyebaran penerima (Starlink) sekarang jauh lebih besar di Iran” daripada selama pemadaman sebelumnya. “Itu terjadi meskipun pemerintah tidak pernah mengizinkan Starlink untuk beroperasi, sehingga layanan tersebut ilegal untuk dimiliki dan digunakan.”

Namun, penerima Starlink menggunakan GPS untuk menemukan dan mengaktifkan koneksi ke satelit. “Sejak perang 12 hari dengan Israel Juni lalu,” kata The Times , “Iran telah mengganggu sinyal GPS.” Itu berarti pemadaman bersifat lokal, dan telah mengakibatkan konektivitas Starlink yang tidak merata, termasuk pemadaman total di beberapa area penting.

Pemblokiran internet Starlink lokal telah dikonfirmasi oleh NetBlocks. Berbicara kepada The Times pada hari Senin, Alp Toker dari kelompok pemantau tersebut mengkonfirmasi bahwa akses sedang diblokir, meskipun jangkauan masih dapat ditemukan di beberapa area. “Jangkauannya tidak merata, tetapi masih ada.”

“Meskipun belum jelas bagaimana layanan Starlink terganggu di Iran,” kata The Times , “beberapa spesialis mengatakan hal itu bisa jadi akibat dari gangguan pada terminal Starlink yang akan mengalahkan kemampuan mereka untuk menerima sinyal dari satelit.”

Beberapa komentator di media sosial menyarankan perubahan pengaturan dapat mengatasi beberapa pembatasan. Menurut Open Source Intel di X, “jika Anda berhubungan dengan siapa pun di Iran yang menggunakan Starlink, mintalah mereka untuk mencoba mengaktifkan opsi ‘gunakan penentuan posisi Starlink secara eksklusif’ di bawah Pengaturan Lanjutan dan kemudian Debug Data di aplikasi Starlink.”

Beberapa unggahan di media sosial juga menunjukkan bahwa teknologi militer Rusia yang diimpor ke Iran dalam beberapa bulan terakhir mungkin bertanggung jawab atas gangguan GPS dan pemancar lainnya. Channel 4 News menggambarkan aktivitas Rusia sebagai “perlombaan teknologi dengan Starlink,” yang menurut mereka “dikenal menggunakan truk yang memancarkan gangguan radio untuk mengganggu sinyal satelit.” Hingga saat ini belum ada konfirmasi mengenai teknologi apa yang digunakan.

Namun, Amir Rashidi dari Miaan Group mengatakan kepada TechRadar, “Saya telah memantau dan meneliti akses internet selama 20 tahun terakhir, dan saya belum pernah melihat hal seperti ini seumur hidup saya.” Analisis penurunan mendadak pada paket data Starlink mendukung laporan di lapangan bahwa konektivitas satelit telah sangat terpengaruh.

Hampir dua puluh jam setelah internet nasional Iran mati, negara itu masih terkunci dalam pemadaman digital. Selama berjam-jam, warga Iran tidak dapat berkomunikasi melalui layanan internet internasional atau domestik, melakukan panggilan telepon, atau mengakses informasi secara andal. Bahkan koneksi satelit Starlink—yang dulunya dianggap sebagai pilihan terakhir—sebagian besar terganggu, memper intensified kekhawatiran tentang apa yang terjadi pada para pengunjuk rasa dan warga biasa di seluruh negeri.

Sebelum pemadaman total, pembatasan internet di Iran biasanya kompleks tetapi terbatas – pihak berwenang mengandalkan gangguan parsial dan lokal daripada pemutusan total. Kali ini, di tengah protes besar-besaran di seluruh negeri, jaringan internasional dan domestik sepenuhnya terputus, dan bahkan layanan internet satelit seperti Starlink mengalami penurunan tajam.

Jadi, mengapa tidak ada akses Starlink?

Meskipun ada laporan bahwa puluhan ribu unit Starlink beroperasi di dalam Iran, pemadaman juga telah mencapai koneksi satelit. Peneliti internet Amir Rashidi mengatakan kepada IranWire bahwa ketika protes nasional dimulai, sinyal pengacauan tingkat militer terdeteksi menargetkan satelit Starlink. Menurutnya, sekitar 30 persen lalu lintas unggah dan unduh Starlink terganggu pada dini hari, meningkat menjadi lebih dari 80 persen sekitar pukul 10 malam waktu setempat.

Rashidi mengatakan bahwa gangguan semacam ini – yang disebabkan oleh peralatan militer yang dikenal sebagai pengacau sinyal – belum pernah disaksikan dalam 20 tahun penelitiannya. Dia menambahkan bahwa teknologi yang terlibat sangat canggih dan berstandar militer, dan kemungkinan besar dipasok ke pemerintah oleh Rusia atau China, jika tidak dikembangkan di dalam negeri.

Karena alat pengacak sinyal tersebar luas di seluruh negeri, tingkat layanan Starlink bervariasi menurut lokasi: beberapa daerah memiliki konektivitas yang relatif lebih baik, sementara daerah lain jauh lebih buruk.

Ada berapa banyak pengguna Starlink?

Berdasarkan perkiraan terbaru, jumlah pelanggan Starlink di Iran telah mencapai sekitar 40.000–50.000 orang. Bahkan selama pemadaman internet selama dua belas hari di Iran pada musim panas tahun 2025 – selama perang Iran-Israel – beberapa pengguna berhasil mengakses internet tanpa sensor melalui layanan satelit ini.

Jaringan Telepon dan Pengiriman Pesan Juga Dinonaktifkan

Sekitar pukul 10 malam tadi, jaringan telepon seluler di seluruh Iran juga dimatikan. Meskipun beberapa laporan menyebutkan bahwa koneksi Wi-Fi rumahan sempat aktif, tanpa akses ke internet yang lebih luas, koneksi tersebut praktis tidak berguna. Sistem perbankan, aplikasi transportasi daring seperti Snapp dan Tapsi, platform belanja daring, dan bahkan jejaring sosial domestik semuanya offline. Panggilan telepon internasional juga diblokir.

Aplikasi yang biasanya menyediakan panggilan suara ke Iran—seperti Yolla—mengkonfirmasi bahwa pembatasan panggilan sedang diterapkan.

Source:
https://iranwire.com/en/features/147476-why-theres-no-starlink-access-during-nationwide-shutdown-in-iran/

Source:
https://www.forbes.com/sites/zakdoffman/2026/01/12/kill-switch-iran-shuts-down-starlink-internet-for-first-time/