Filosofi Salah Kaprah

    Spekulasi sering jadi salahkaprah layak “harap guntur di langit air di tempayan dicurahkan”, itu realita dibangun dalam sebuah peradaban oleng hidup mencekam rasa takut hadapi tantangan, hanya dibenak rasa ketidakmampuan diri namun selalu menjauh dari beribda’binafsik

     

    Keinginan makin melambung kadang melawan realita dan tak ingin merendah diri tapi nyata terpasung salah kaprah, langkah membebani hidup, hanya tahu membusung dada dalam kemelaratan menyayatkan diri. Sedih melihat ketidaksadaran membaca pesan realita hidup

     

    Ada nasihat para bijak “menaklukkan erosi hati itu lebih bijak dari sadar mengakui kekhilafan”, maka jika ingin melangkah mesti berfikir cerdas dan mempertimbang kemungkinan apa yang akan dihadapi, karena menakluk erosi hati akan pula memberi peluang lebih bijak menentukan pengambilan keputusan yang lebih tepat dan melegakan

    Peristiwa

    Memang ada prinsip dalam hidup, namun bila prinsip itu bukan hal substansi apa lagi bukan menyentuh faktor keyakinan, maka tak perlu harus bersikap kaku menghadapi kemungkinan dihadapi, karena tak ada hidup yang tak ada resiko, semua penuh dengan resiko baik resiko ringan dan resiko membahayakan, kesemuanya sangat bergantung cara sikapi kontek penekan erosi hati

     

    Banyak hal diri manusia selalu butuh ikhtiar, karena tanpa ikhtiar tak kan bisa mengendali erosi hati, banyak bukti bentuk ketidakmampuan pengendalian diri menghadapi realita hidup, maka sering diandaikan “dikejar makin menjauh digenggam kian tercecer”. Wallahu a’lam

     

    Manado, 4 Muharram 1444 H/2 Agustus 2022 M

     

    MS. Anwar Sandiah