Yogyakarta – Semua kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tentu mengenal sosok Lafran Pane. Ia adalah salah satu pendiri HMI dan bergelar pahlawan nasional.
Lafran Pane adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya dari jalur pergerakan mahasiswa dan intelektual Islam. Ia dikenal luas sebagai pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebuah organisasi mahasiswa yang hingga kini memiliki peran signifikan dalam kancah politik dan sosial Indonesia. Perjuangannya tidak hanya melalui jalur fisik melawan penjajah, tetapi juga melalui jalur pemikiran, pendidikan, dan pengorganisasian pemuda.
Latar Belakang dan Kehidupan Awal
Lafran Pane dilahirkan pada tanggal 12 April 1922 di Kampung Pangurabaan, Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Beliau berasal dari keluarga terpelajar dan agamawan. Ayahnya, Sutan Pangurabaan Pane, adalah seorang ulama, guru, dan aktivis pergerakan nasional yang pernah menjadi anggota Dewan Rakyat (Volksraad). Lafran adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara, dan dua kakaknya, Sanusi Pane dan Armijn Pane, juga dikenal sebagai sastrawan terkemuka di era Pujangga Baru.
Sejak kecil, Lafran sudah menunjukkan minat pada pengetahuan dan organisasi. Ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Muhammadiyah dan kemudian melanjutkan ke sekolah-sekolah umum Belanda. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Islam (STI) di Yogyakarta (yang kemudian menjadi Universitas Islam Indonesia).
Peran dalam Revolusi Fisik (1945-1949)
Ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, Lafran Pane yang saat itu masih berstatus mahasiswa, langsung terjun ke medan perjuangan. Ia tidak hanya berjuang melalui pemikiran, tetapi juga terlibat secara langsung dalam pertempuran.
- Laskar Mahasiswa dan Perlawanan Bersenjata: Lafran bergabung dengan laskar-laskar perjuangan mahasiswa yang dibentuk untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kembalinya Belanda (NICA). Ia terlibat dalam berbagai pertempuran di Yogyakarta dan sekitarnya, yang menjadi pusat perjuangan Republik Indonesia. Keberaniannya di garis depan, meskipun seorang intelektual, menunjukkan komitmennya yang tinggi terhadap kemerdekaan.
- Peran dalam Militer Pelajar: Selain bergabung dengan laskar, Lafran juga aktif dalam Militer Pelajar (MP) yang menjadi bagian dari tentara pelajar. Ia ikut menyusun strategi pertahanan dan terlibat dalam operasi militer menghadapi Agresi Militer Belanda.
Pendirian HMI dan Perjuangan Intelektual
Di tengah gejolak revolusi fisik, Lafran Pane menyadari bahwa perjuangan tidak hanya bisa dilakukan dengan senjata. Perlu ada wadah bagi mahasiswa Muslim untuk berperan aktif dalam pembangunan bangsa dan menjaga nilai-nilai keislaman di tengah tantangan zaman.
Pada tanggal 5 Februari 1947, di Yogyakarta, Lafran Pane memprakarsai berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia bersama beberapa rekan mahasiswa lainnya bertekad untuk:
- Mempertahankan Republik Indonesia.
- Menegakkan dan mengembangkan syiar Islam.
- Membina kader-kader pemimpin bangsa yang berintegritas dan berakhlak mulia.
Pendirian HMI merupakan langkah strategis untuk mengkonsolidasi potensi mahasiswa Muslim dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan pasca-kemerdekaan. Lafran Pane berperan besar dalam merumuskan tujuan, AD/ART, dan visi HMI. Ia menjadi Ketua Umum HMI pertama dan meletakkan dasar-dasar organisasi yang kokoh.
Melalui HMI, Lafran Pane terus menyuarakan pentingnya pendidikan, etika, dan peran Islam dalam kehidupan berbangsa. Ia percaya bahwa kemerdekaan sejati harus diiringi dengan kemajuan moral dan intelektual masyarakat. HMI di bawah kepemimpinannya menjadi garda terdepan dalam membendung ideologi-ideologi yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan Islam, serta menjadi wadah pengembangan kepemimpinan bagi generasi muda Muslim.
Selain Lafran, ada 14 mahasiswa lain yang mengikuti rapat tersebut. Sejarahwan HMI, Agussalim Sitompul, dalam Sejarah Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam (1947-1975) sebagaimana dikutip dari tirto.id menyampaikan bahwa mereka termasuk dalam jajaran pendiri HMI.
Gagasan Lafran Pane saat mendirikan HMI cukup dominan. Tujuan HMI yang disepakati pada 5 Februari 1947, yaitu “Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran Agama Islam”, adalah buah dari pemikirannya.
Sujoko Prasodjo dalam salah satu tulisannya menyebut tahun-tahun permulaan HMI hampir identik dengan sebagian kehidupan Lafran Pane.
Peran Pasca-Kemerdekaan dan Pemikiran
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia, Lafran Pane tetap aktif di dunia pendidikan dan pergerakan. Ia melanjutkan studinya hingga memperoleh gelar doktor di bidang ilmu politik dan kemudian menjadi dosen di beberapa universitas terkemuka, termasuk Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Islam Indonesia (UII).
Pemikiran Lafran Pane banyak berpusat pada pentingnya integrasi Islam dan kebangsaan. Ia meyakini bahwa Islam tidak bertentangan dengan Pancasila dan justru dapat menjadi kekuatan pendorong bagi pembangunan nasional. Ia juga dikenal dengan pemikirannya tentang pentingnya kaderisasi pemimpin yang memiliki integritas moral dan intelektual tinggi.
Selain menjadi dosen, Lafran Pane juga aktif menulis buku dan artikel tentang keislaman, politik, dan kemahasiswaan. Pemikirannya menjadi rujukan bagi banyak aktivis dan cendekiawan.
Akhir Hayat dan Penghargaan
Lafran Pane meninggal dunia pada tanggal 24 Januari 1991 di Yogyakarta. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kusumanegara, Yogyakarta.
Atas jasa-jasa dan kontribusinya yang luar biasa bagi bangsa dan negara, terutama dalam perjuangan kemerdekaan dan pengembangan organisasi kemahasiswaan, Lafran Pane dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 8 November 2017 oleh Presiden Joko Widodo.
Gelar kepahlawanan Lafran Pane diberikan pada tahun 2017 berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/TAHUN 2017 tanggal 6 November 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Pemberian gelar tersebut merupakan hal yang pantas mengingat kiprah dan perjuangan Lafran mulai dari pergerakan pemuda pada zaman kemerdekaan hingga mendirikan organisasi HMI.
Melansir dari antaranews.com, Lafran saat masih pemuda ikut terlibat dalam penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok bersama pemuda lainnya untuk mempersiapkan proklamasi.
Setelah itu saat ibukota negara pindah ke Yogyakarta, Lafran muda juga ikut pindah dan menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Islam. Di situ, Lafran ikut terlibat dalam Persyarikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY).
Lafran tidak cocok dengan PMY, mengingat organisasi itu tidak memiliki fondasi Islam. Lafran pun keluar dan mendirikan HMI dengan landasan yakni mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mengembangkan ajaran Islam.
Lafran Pane adalah sosok yang melambangkan perpaduan antara intelektual, pejuang fisik, dan organisatoris. Ia adalah teladan bagi generasi muda Muslim Indonesia dalam berjuang untuk kemerdekaan, menegakkan nilai-nilai luhur, dan membangun bangsa melalui jalur pendidikan dan organisasi. Warisan terbesarnya, HMI, terus berperan aktif dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara hingga saat ini.
Biodata Lafran Pane
Melansir dari Republika, Lafran Pane lahir pada 5 Februari 1922 di Padang Sidimpuan, Sumatera Utara. Lafran lahir dari keluarga penulis dan aktivis.
Ayahnya bernama Sutan Pangurabaan Pane, seorang jurnalis dan sastrawan, pendiri dan pemimpin Surat Kabar Sipirok-Pardomuan. Selain itu, Sutan Pangurabaan juga dikenal sebagai seorang guru dan pendiri Muhammadiyah di Sipirok pada 1921.
Sementara itu, dua kakak Lafran, Sanusi Pane dan Armijn Pane adalah sastrawan terkenal. Jejak karya dua tokoh tersebut bisa kita lacak dengan mudah di toko buku, perpustakaan, atau internet.
Sebagai anak dari tokoh Muhammadiyah, Lafran memulai pendidikan di Pesantren Muhammadiyah Sipirok. Lafran kerap berpindah-pindah sekolah hingga tingkat menengah.
Akhirnya, Lafran Pane meneruskan sekolahnya di kelas tujuh di HIS Muhammadiyah, kemudian melanjutkan sekolahnya di Sekolah Tinggi Islam.
Sebelum lulus dari STI, Lafran berpindah ke Akademi Ilmu Politik (AIP) pada April 1948 yang sekarang bernama Universitas Gadjah Mada.
Karya
Melansir dari kompas.com, Lafran Pane juga terkenal dengan berbagai karya tulis yang ia ciptakan sendiri dalam bentuk artikel bebas, yaitu:
- Keadaan dan Kemungkinan Kebudayaan Islam di Indonesia
- Wewenang Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
- Kedudukan Dekret Presiden
- Kedudukan Presiden
- Tujuan Negara
- Kembali ke Undang-undang Dasar 1945
- Kedudukan Luar Biasa Presiden
- Kedudukan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
- Memurnikan Pelaksanaan Undang-undang Dasar 1945
- Memurnikan Pelaksanaan Undang-undang Dasar 1945
- Perubahan Konstitusional
- Menggugat Eksistensi HMI.











