Disonansi:
“Diamnya orang baik bukanlah ketiadaan sikap, melainkan keputusan yang memberi ruang bagi yang lebih buruk untuk bersuara dan berkuasa.”
Ketika seseorang menyadari bahwa politik memiliki dampak langsung terhadap kehidupan bersama, tetapi tetap memilih untuk tidak terlibat, di situlah muncul apa yang dalam Leon Festinger sebut sebagai disonansi kognitif. Individu mengalami ketegangan batin antara keyakinan normatif -misalnya bahwa keadilan dan kebaikan sosial itu penting- dengan perilaku pasif yang justru membiarkan ketidakadilan berlangsung. Untuk meredakan ketegangan ini, seseorang sering kali merasionalisasi sikapnya, menganggap politik kotor, tidak penting, atau tidak bisa diubah. Namun rasionalisasi ini tidak menghapus fakta bahwa ketidakterlibatan tetap memiliki konsekuensi struktural.
Merujuk teori disonansi, semakin besar kesenjangan antara nilai moral dan tindakan nyata, semakin besar dorongan psikologis untuk menyesuaikan salah satunya. Sayangnya, yang sering berubah bukan tindakan, melainkan justru nilai atau persepsi terhadap realitas. Orang baik yang memilih diam dapat mulai menurunkan ekspektasi moralnya terhadap politik, menerima standar kepemimpinan yang lebih rendah, atau bahkan bersikap sinis terhadap perubahan. Ini menciptakan lingkaran yang memperkuat apatisme kolektif, di mana ketidakpedulian menjadi norma sosial baru.
Kondisi ini membuka ruang bagi aktor-aktor dengan motivasi oportunistik untuk mengisi kekosongan. Ketika partisipasi publik yang berlandaskan nilai melemah, mekanisme seleksi sosial dalam politik menjadi bias terhadap mereka yang paling aktif, bukan yang paling bermoral. Di sini, disonansi tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sistemik: masyarakat secara keseluruhan mengetahui pentingnya kepemimpinan yang baik, namun secara kolektif gagal menciptakan kondisi yang memungkinkan itu terjadi. Ketegangan ini kemudian dinetralisasi melalui normalisasi, bahwa “memang begitulah politik.”
Refleksi ini mengarah pada kesimpulan bahwa menghindari politik bukanlah posisi netral, melainkan pilihan yang secara implisit mendukung status quo. Untuk mengurangi disonansi secara autentik, individu tidak cukup hanya mengubah cara pandang, tetapi perlu menyelaraskan tindakan dengan nilai yang diyakini. Artinya, keterlibatan -sekecil apa pun- menjadi bentuk integritas psikologis sekaligus tanggung jawab etis. Tanpa itu, orang baik bukan hanya berisiko dipimpin oleh yang lebih buruk, tetapi juga berkontribusi, secara pasif, pada terjadinya kondisi tersebut.
Maka lahirlah sosok ideal warga modern, ia mengutuk politikus korup sambil menggulir layar ponselnya, merasa tercerahkan oleh utas panjang, lalu menutup hari dengan keyakinan bahwa ketidakikutsertaannya adalah bentuk kemurnian moral. Dalam logika yang nyaris elegan ini, ia berhasil menjadi hakim tanpa pernah masuk ruang sidang, menjadi kritikus tanpa risiko, dan menjadi korban tanpa peran. Disonansi pun terselesaikan dengan cara paling efisien, bukan dengan bertindak, tetapi dengan meyakinkan diri bahwa diam adalah posisi paling cerdas, hingga suatu hari ia terkejut mendapati bahwa keputusan-keputusan besar tetap dibuat, hanya saja tanpa dirinya.
#DisonansiKognitif
#KesadaranPolitik
#JanganDiam
#EtikaPublik
#RefleksiSosial











