Hikmah Meninggalkan Yang Mudharat

     

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

    “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.”
    (HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976)

    Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Robi’ah menasehati Sufyan Ats Tsauri,

    إنما أنت أيام معدودة، فإذا ذهب يوم ذهب بعضك، ويوشك إذا ذهب البعض أن يذهب الكل وأنت تعلم، فاعمل

    “Sesungguhnya engkau bagaikan hari yang dapat dihitung. Jika satu hari berlalu, maka sebagian darimu juga akan pergi. Bahkan hampir-hampir sebagian harimu berlalu, namun engkau merasa seluruh yang ada padamu ikut pergi. Oleh karena itu, beramallah.” (Shifatush Shofwah, 1/405, Asy Syamilah).

    Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan,

    ونفسك إن أشغلتها بالحق وإلا اشتغلتك بالباطل

    Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia.” (Al Jawabul Kafi, 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah).

    Sebab Seseorang Berbuat Lalai

    #️⃣#️⃣🔹️Pertama: Ingin terus rehat atau beristirahat. Padahal rehat yang hakiki nanti di akhirat sedangkan dunia adalah masa kita untuk beramal.

    🔹️Kedua: Semangat dalam mencari kelezatan dunia. Akibatnya nanti adalah melalaikan kewajiban dan menerjang yang haram demi dunia.

    🔹️Ketiga: Karena sudah mati rasa terhadap dosa. Bahkan ada yang merasa bahwa dosa yang diterjang adalah suatu kebaikan.

    🔹️Keempat: Mengikuti hawa nafsu.

    🔹️Kelima: Sibuk dengan kerja dan mencari nafkah.

    🔹️Keenam: Waktu dihabiskan dengan permainan dan games.

    🔹️Ketujuh: Banyak bersenang-senang dengan pakaian, makanan dan kelezatan dunia.

    🔹️Kedelapan: Cinta dunia dan merasa hidup lama.

    🔹️Kesembilan: Berteman dengan orang-orang yang lalai (ghaflah).

    🔹️Kesepuluh: Banyak sibuk dengan hal mubah.