Pohon Asam, Inilah Alasan Ditanam di Pinggir jalan

Jakarta,Kolonial Belanda menanam Pohon Asem Jawa di sepanjang jalan dengan tujuan yang praktis dan strategis. Pohon ini memberikan keteduhan bagi pengguna jalan di iklim tropis yang panas, sehingga membuat perjalanan lebih nyaman, terutama saat transportasi utama adalah kuda atau berjalan kaki.

 

Selain itu, Asem Jawa digunakan sebagai penanda jalan atau batas wilayah, mempermudah navigasi bagi tentara, pedagang, dan pengangkut barang.

Pohon Asem juga dipilih karena ketahanannya terhadap cuaca ekstrem dan akarnya yang kokoh dapat mencegah erosi di sepanjang jalan.

Buah Asem yang memiliki nilai ekonomis dan manfaat kesehatan menjadi nilai tambah bagi masyarakat sekitar.

 

Pohon-pohon besar ini juga membantu mengontrol kecepatan kendaraan atau kereta kuda, karena jalur yang teduh mendorong kehati-hatian.

 

Dengan berbagai manfaat ini, Pohon Asem Jawa menjadi solusi alami yang mendukung infrastruktur masa kolonial.

Pohon asam jawa (Tamarindus indica) memiliki akar tunggang yang tidak merusak jalan. Pohon ini memiliki banyak keunggulan sehingga cocok ditanam di pinggir jalan, di antaranya:
-Akar tunggangnya tidak merusak trotoar
-Batang dan dahannya tidak mudah roboh
-Daunnya kecil dan rimbun sehingga tidak mengotori jalan
-Buahnya kecil sehingga tidak membahayakan kendaraan
-Umurnya panjang
-Dapat menahan angin
-Dapat memperbaiki lingkungan yang gersang dan tandus
-Dapat menyerap karbondioksida dan polutan
-Dapat mendinginkan jalan yang panas

Pohon asam jawa berasal dari daerah savana gersang di Afrika dan dapat tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 1000 meter dpl. Pemerintah kolonial Belanda memilih pohon asam jawa sebagai pohon peneduh di sepanjang jalan utama di Indonesia,

Sebuah catatan kecil yang kita dapat dari pohon asam,

 

Alkisah, ada seorang pengembara yang dalam perjalanan karena sedang berpuasa, ia mampir istirahat di bawah sebuah pohon asam untuk sekedar berehat dari terik matahari.

“Pohon sebesar ini tapi kok buahnya kecil ya?” celutuknya iseng dalam pikirannya. “Sementara buah labu yang besar, pohonnya malah kecil. Ini gak adil..” lanjutnya.

Tapi belum selesai ngomong tiba-tiba jatuh buah asam menimpa kepalanya. Si pengembara terperanjat, mendadak sujud syukur dan segera memohon ampun kepada Allah atas perkataannya barusan.

Bayangkan andai buah asam itu benar-benar sebesar buah labu, tentu kepalanya penyok atau bendol bak kepala bakpau.

Sahabat….

Kadangkala kita melihat sesuatu dari sudut pandang kita sendiri, seolah kita punya hak untuk menggugat atau bahkan menghakimi sesuatu ciptaan Allah.

Orang yang bepergian terus, kita pikir hidupnya enak, padahal bisa jadi ada masalah yang ia hindari di rumahnya.

Orang yang pake alphard kita kira nyaman dan tenteram, padahal mungkin lebih pusing dari kita mikirin pajak 10 juta.

Maka, pada setiap keadaan, ada baiknya menekan hak untuk membandingkan, karena bersyukur adalah sebuah kewajiban.

“Bila memandang langit jangan lupa bumi, karena disitulah letak kita mensyukuri keagungannya” Semoga bermanfaat.

Good morning all
Have marvelous monday
Life is so beautiful

Sumber Jurnal asia