Qurban Lintas Perspektif

Oleh Nugraha Hadi Kusuma

Ketika RasuluLlah mengatakan pada momen haji wada’ 14 abad yang silam bahwa tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab (Ajam) atau sebaliknya dan tidak ada kelebihan kulit putih atas kulit hitam kecuali berdasarkan ketakwaannya itu sebenarnya juga menyangkut perspektif tentang makna KETAKWAAN (Kesadaran Tertinggi) itu sendiri.

Artinya, perspektif tentang ketakwaan menurut orang-orang yang tinggal di wilayah Timur Tengah tidak selalu lebih baik dari mereka yang tinggal di kawasan Asia misalnya. Meskipun pada saat itu RasuluLlah menyebut bahwa ‘ISLAM’ adalah agama yang diridhoi oleh Allah (Al Maidah 3) tapi ‘Islam’ yang dimaksud di sini adalah sebuah ajaran tentang sikap berserah total yang merupakan ringkasan (summary/conclusion) dari ajaran-ajaran yang berasal dari kitab-kitab terdahulu. Bukan Islam yang merupakan seperangkat doktrin dan dogma yang diformulasikan sekedar sebagai agama formal.

Beliau tidak pernah membenturkan Islam (dalam Al Maidah 3) dengan ajaran dari kitab-kitab terdahulu. Dalam (akhir) Surat Al Baqarah bahkan dikatakan:
“Rasul (Muhammad) telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seorangpun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali,”

Islam sebagaimana yang termaktub dalam Al Maidah 3 lebih luas sifatnya, lebih universal. Mampu meng-cover bagian-bagian YANG BENAR dari ajaran-ajaran yang telah lebih dulu ada. Bagian-bagian dari ajaran terdahulu yang masih murni, yang belum terkontaminasi oleh budaya dan persepsi atau interpretasi subyektif manusia.

Dalam hal ini contohnya adalah ibadah qurban dan keterkaitan eratnya dengan konsep detachment atau lepas dari kemelekatan yang diajarkan ‘Agama Buddha’. ‘Agama Buddha’ dikasih tanda petik karena bisa jadi Sidharta Gautama adalah seorang rasul Allah yang kepada beliau diturunkan wahyu. Beliau tidak memberi nama secara spesifik terkait ajaran yang beliau sampaikan. Untuk memudahkan orang lantas menamainya sebagai ‘Agama Buddha’.

Salah satu poin penting ajaran ‘Agama Buddha’ adalah detachment atau melepaskan diri dari kemelekatan. Kemelekatan (upādāna), menurut ‘Buddha’ adalah akar penyebab penderitaan (dukkha) yang timbul dari nafsu keinginan (tanhā).

Sementara itu, ibadah qurban tidak bisa dilepaskan dari kisah nabi dan rasul kekasih Allah, Ibrahim AS, yang diperintahkan untuk menyembelih putranya sendiri. NabiyuLlah Ibrahim dikaruniai dua orang putra, Ismail dan Ishaq. Keturunan NabiyuLlah Ishaq yang kemudian berkembang menjadi dua agama, Yahudi dan Kristen, menyebutkan bahwa Nabi Ishaqlah yang di disembelih dalam peristiwa qurban tersebut. Sedangkan keturunan NabiyuLlah Ismail yang membawa agama Islam mengatakan bahwa yang disembelih adalah NabiyuLlah Ismail.

Sampai detik ini ketiga agama Ibrahimi masih belum selesai berdebat tentang siapa yang disembelih dalam peristiwa qurban NabiyuLlah Ibrahim AS, apakah Ismail atau Ishaq. Mereka terus cakar-cakaran sampai melupakan esensi ajaran yang sebenarnya dari peristiwa qurban tersebut. Yang menjalankan intisari ajaran qurban malah justru ‘Agama Buddha’.

Dari ketiga agama Ibrahimi hanya Islam yang hingga hari ini masih mengistimewakan peristiwa qurban NabiyuLlah Ibrahim AS setiap tahunnya. Peristiwa ini bahkan menjadi hari raya tersendiri yaitu ‘Iedul Adha. Yahudi dan Kristen sepertinya tidak terlalu menganggap penting esensi di balik peristiwa NabiyuLlah Ibrahim AS yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya sendiri.

Meskipun setiap tahun merayakan ‘Iedul Adha bukan berarti setiap umat Islam memahami dengan seutuhnya apa itu konsep qurban. Sebagian besar malah cukup berhenti di wilayah doktrin dan dogma. Sekedar merayakan sesuatu hanya sebatas formalitas rutin tahunan.

Selama ini umat Islam umumnya terdoktrin untuk meyakini kalau berqurban sapi, misalnya, maka kelak mereka akan dapat pahala berupa kemudahan melewati jembatan Sirath Al Mustaqim dengan menunggangi sapi yang pernah dijadikan qurban saat di dunia itu. Begitu pula dengan qurban unta, kambing, dsb. Setiap tetes darah hewan qurban akan menjelma menjadi malaikat yang terus ber-istighfar untuknya hingga hari kiamat nanti.

Bukan berarti hal-hal itu salah, lha wong ada hadits-nya. Masalahnya, doktrin keyakinan tersebut tanpa dibarengi pemahaman bahwa semua itu ada sebuah proses yang melatarbelakanginya. Tidak ujug-ujug naik sapi atau unta, atau kambing, melewati jembatan Sirath Al Mustaqim. Justru proses yang melatarbelakangi itulah yang sebenarnya menjadi intisari dari ibadah qurban.

Itulah ajaran yang bersumber langsung dari NabiyuLlah Ibrahim AS saat beliau diperintahkan untuk menyembelih putranya sendiri. Itulah ajaran tentang DETACHMENT atau melepaskan diri dari kemelekatan yang saat ini dipraktekkan oleh umat ‘Buddha’. Qurban diwahyukan oleh Allah kepada NabiyuLlah Ibrahim AS sedangkan detachment atau lepas dari kemelekatan ‘diwahyukan’ kepada Sidharta Gautama.

Puncak dari segala puncak tauhid adalah kesadaran bahwa segala sesuatu di alam semesta ini sebenarnya tidaklah ada. Semua hanya ilusi. Hanya Allah yang Maha Nyata dan Maha Wujud.

Sangat tidak pada tempatnya jika kebahagiaan atau harapan disandarkan pada segala sesuatu yang sifatnya hanya illusionary, segala sesuatu yang tidak ada. Kesadaran inilah yang kemudian membuat NabiyuLlah Ibrahim AS berseru ‘LABBAIKALLAHUMMA LABBAIK!’ saat diperintah untuk menyembelih putranya. Kesadaran ini pula yang telah membuat seorang Sidharta Gautama rela meninggalkan gemerlap kemewahan istana untuk sekedar menjadi pertapa di hutan.

Dari laku qurban dan detachment, jika berhasil menyerap inti ajarannya, maka selanjutnya akan hadirlah kondisi QARIB, kedekatan (atau melebur) dengan Allah. Qurban dan detachment akan membersihkan seseorang dari segala penyakit hati seperti benci, dendam, hasad, iri, dengki, cemburu, dsb. Selanjutnya kondisi qarib akan membuatnya mampu mengakses seluruh energi positif Allah yang tertulis sebagai Asma’ul Husna wabil khusus energi kasih sayang. Ajaran ‘Buddha’ menyebutnya dengan Welas Asih.

NabiyuLlah Ibrahim AS bukanlah hamba Allah pertama yang menjalankan konsep qurban a.k.a detachment ini. Jauh sebelum itu Habil, salah satu putra Nabi Adam, juga mempraktikkannya. Beliau mempersembahkan hasil pertanian dan peternakan terbaiknya saat beliau dan saudara kembarnya, Qabil, diperintahkan untuk mengeluarkan zakat oleh Allah SWT. Sayangnya Habil mati dibunuh oleh Qabil saudaranya sendiri yang hatinya dipenuhi oleh kedengkian, cemburu, dan dendam. Saat diperintahkan untuk berzakat Qabil memberikan hasil pertanian dan peternakan yang paling buruk.

Qurban dari Qabil tidak diterima oleh Allah SWT. Karena itu Qabil tidak mampu mencapai kondisi qarib kepada-Nya. Hatinya gelap gulita.

Dari ketiga turunan agama Ibrahimi Kristen adalah yang paling konyol. Mereka sok paling heroik kalau berdebat tentang NabiyuLlah Ibrahim AS. Hanya karena kisah qurban beliau juga ada di kitab mereka mereka ngotot kalau NabiyuLlah Ibrahim AS adalah bagian dari mereka. Konyolnya, bukannya mempraktikkan qurban atau detachment Kristen malah mengarang konsep penebusan dosa manusia oleh Yesus di kayu salib .. 😄😄

Buat saudara-saudara dan kawan-kawan Kristiani, mohon maaf ya, saya memang suka blak-blakan kalau ngomong .. 😁😁

Lantas, apakah umat ‘Buddha’ yang salah satu ajaran pokoknya adalah detachment sudah pasti akan mencapai kondisi qarib dan memiliki watak welas asih?

Tidak juga kalau ajaran itu juga cuma sebatas doktrin dan dogma. Buktinya, terjadi pembantaian massal terhadap etnis Rohingya di Myanmar yang dikomandoi oleh Bhiksu Wiratu. Kemelekatan yang paling sulit untuk dilepaskan adalah ego merasa paling benar. Kemelekatan ini umumnya diderita oleh kalangan kaum yang merasa paling beriman di muka bumi, tak peduli apapun agamanya (agama doktrin/dogma).

Jadi, bolehkah umat Islam mempelajari konsep-konsep milik ‘agama’ lain?

Amat sangat boleh. Belajarlah walau sampai ke Negeri China. Dengan syarat, pertama, pemahaman tauhidnya sudah mantab. Kedua, bisa memilah dan memilih mana konsep ajaran yang benar dan murni, yang biasanya masih punya benang merah kesamaan dengan Islam (Al Maidah 3) dan mana yang sudah terkontaminasi oleh budaya dan persepsi atau interpretasi subyektif manusia.