Rifki Jafar Thalib: Jaga Diri di Tengah Zaman Erupsi

Kota Malang, 12 April 2026 / 24 Syawal 1447 H — Persatuan Haji Rumah Sakit Aisyiyah Kota Malang menggelar kegiatan Halal bi Halal yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan di Dome Universitas Muhammadiyah Malang. Acara ini dihadiri oleh para jamaah haji, keluarga besar RS Aisyiyah, serta tamu undangan dari berbagai elemen masyarakat.

Kegiatan ini menghadirkan penceramah Rifkie Ja’far bin Thalib yang menyampaikan tausiyah dengan gaya khas yang kocak namun sarat makna.

Dalam ceramahnya, ia mengajak para jamaah untuk terus menjaga nilai-nilai silaturahmi sebagai bagian penting dari kemabruran haji.

“Ciri haji yang mabrur itu bukan hanya selesai di Tanah Suci, tapi terlihat dari akhlaknya setelah pulang—ringan membantu, mudah memaafkan, dan rajin menyambung silaturahmi,” ungkapnya, disambut tawa sekaligus haru para hadirin.

Makna kesyukuran Rifki menceritakan salah satu sosok inspirasi terkait kesyukuran adalah Kyai Sahid atau mbah Sahid

Dia bercerita,

Rombongan kyai Rembang dalam satu mobil dalam perjalanan pulang. Diantara mereka adalah Mbah Kyai Ahmad Syahid bin Sholihun rahimahullah dari Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang. Melewati wilayah Demak yang jalanannya senantiasa dalam kondisi buruk, mobil itu tak dapat melaju kencang.

Tiba-tiba dari dalam air kanal di pinggir jalan itu menyembul sesosok (untungnya!) laki-laki tanpa sehelai benang menempel di tubuhnya. Dengan penuh percaya diri, laki-laki itu mendaki keatas tebing sembari menggenggam erat pusat rasa malunya —seolah-olah jika yang itu tertutup berarti seluruh bagian tubuh sisanya pun tak kelihatan. Terang saja pemandangan tak senonoh itu menghujam penglihatan para kyai. Lumrah bila beliau-beliau terperanjat bukan kepalang. “Astaghfirullah!” Kyai Mabrur berseru. “Maa syaa-allaah!” Kyai Wahab. “Laa ilaaha illallaah!” Kyai Tamam.

“Subhaanallaah!” Kyai Sahlan. Dan Mbah Syahid? “Al… ham… dulillaaaah…” * * * * * Selain merupakan dzikir yang dibiasakan, “alhamdulillah” bagi Mbah Syahid adalah kredo. Segala yang terjadi adalah kehendak dan karya Allah: “maa syaa-allaahu kaana wa maa lam yasya lam yakun”.

Dan dalam setiap kehendak dan karya-Nya, hanya pujianlah yang patut bagi Allah. Selama saya mengenal Mbah Syahid —ingatan terjauh saya adalah ketika masih kanak-kanak antara 5-6 tahun diajak kakek saya berkunjung ke kediaman beliau dan saya mengejar-ngejar seekor menthog yang oleh Mbah Syahid kemudian dihadiahkan kepada saya— belum pernah saya mendengar beliau nyebut selain “alhamdulillah”.

Ada orang mengabarkan lahir anaknya, “Alhamdulillah”. Orang menceritakan laku sapinya, “Alhamdulillah”. Orang wadul sakit isterinya, “Alhamdulillah”. Orang meninggal bapaknya, “Alhamdulillah”. Seolah tak ada dzikir yang patut selain “alhamdulillah”. Sejauh bentang ingatan saya, entah sejak kapan, Mbah Syahid dijuluki orang “Kyai Alhamdulillah”.

Pesantrennya yang tanpa papan nama —dan memang tak pernah diberi nama— disebut-sebut orang “Pesantren Alhamdulillah”.

Ia juga menekankan bahwa silaturahmi adalah amalan yang memiliki dampak luas, baik dalam memperpanjang umur keberkahan maupun memperkuat persatuan umat. Dengan pendekatan yang ringan dan menyentuh, suasana pengajian terasa hidup dan penuh refleksi.

Sementara itu, Direktur RSIA, Rini, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap Halal bi Halal ini dapat menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah serta menjaga semangat kebersamaan di lingkungan Persatuan Haji RS Aisyiyah.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin memperkuat silaturahmi sekaligus menjaga kemabruran haji dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Acara berlangsung dengan penuh kehangatan, diisi dengan tausiyah, doa bersama, serta ramah tamah antar jamaah. Semangat kebersamaan yang terbangun diharapkan terus berlanjut sebagai bagian dari penguatan nilai-nilai Islam berkemajuan di tengah masyarakat.

Penulis : Uzlifah
Editor. : Nuha