Menariknya, Kisah Poligami KH Ahmad Dahlan

.oleh Syarifuddin

K.H Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) mempunyai lebih dari 1 istri, sebagai berikut:

Siti Walidah (sepupunya, dikenal sbg Nyai Ahmad Dahlan).
Nyai Abdullah (janda H. Abdullah).
Nyai Rum (adik Kyai Munawir Krapyak).
Nyai Aisyah (adik ajengan Penghulu Cianjur).

(Dalam film SANG PENCERAH garapan Hanung Bramantyo, kisah ketiga istri yg lainnya tidak ditampakkan, atau sengaja disembunyikan (?)).

Mustinya, ihwal poligami KH. Ahmad Dahlan dipaparkan dalam film itu dg setting sosial, budaya, dan kejiwaan religi yg berkembang saat itu.

POLIGAMI

Hingga akhir tahun 1990an, ejek-ejekan dan sindiran poligami selalu diarahkan ke NU. Misalnya ada pertanyaan begini:

“Kenapa masalah prostat lebih banyak dialami lelaki Muhammadiyah ketimbang lelaki NU?”

Jawabnya: “Sebab lelaki Muhammadiyah hanya beristri satu.”
(Tentu saja tak semua lelaki Muhammadiyah beristri hanya satu, dan tak semua lelaki NU poligamis. Saya, misalnya,

Tapi sejak gerakan tarbiyah mewujud sebagai PK lalu PKS, beban olok-olok poligami itu diambil-alih oleh mereka. Mungkin itu karena mereka cukup aktif berbicara ttg hal-ikhwal poligami. Sejumlah akhwat dan ummahat PKS juga lebih artikulatif menunjukkan ‘dukungan’ terhadap poligami, ketimbang para Fatayat dan Nahdliyat. Tokoh-tokoh PKS pun tak ragu mengisahkan kehidupan poligamis mereka yg harmonis dan bahagia (yeah right).

Boleh dibilang, kehadiran PKS dalam hal ini membawa manfaat bagi NU.
:

 

Tapi begini: Meski etos NU dan Muhammadiyah soal poligami itu berbeda, kenyatannya pendiri kedua lembaga itu sama-sama poligamis. istri KH Ahmad Dahlan ada empat. Setahu saya, salah satu ketua Muhammadiyah belakangan juga ada yang poligamis.

Nah, dengan berbekal sedikit pengetahuan soal pernikahan kedua Imam Besar Muslim Nusantara itu, saya berharap film-film tentang KH Ahmad Dahlan tak akan ragu-ragu untuk memberikan gambaran tentang poligami beliau. Saya berharap film Sang Pencerah menampilkannya, dan saya berharap film Nyai Ahmad Dahlan yang tadi siang saya tonton bersama teman-teman Kagama Virtual (KAVIR) juga menampilkannya.

Sayangnya, kedua film itu sama sekali tak menyentuh soal poligami KH Ahmad Dahlan. Saya paham, mungkin isu ini sensitif bagi warga Muhammadiyah. Mereka mending tak membahasnya. Tapi saya menduga, poligami KH Ahmad Dahlan ini adalah aspek yang sangat penting, yang turut menentukan langkah dakwah dan gerakan yang dipimpinnya.

Terlebih ketika film itu membahas era awal Muhammadiyah dari sudut pandang Nyai Walidah, saya merasa bahwa soal poligami ini sama sekali tak bisa diabaikan. Saya menduga, dan berharap di film tadi siang dibahas, bahwa kehidupan poligamis Ahmad Dahlan telah turut mendorong Nyai Walidah untuk bekiprah di ranah publik lewat persyarikatan Aisyiyah. Saya menduga bahwa dorongan peran besar yang dia ambil di ranah publik adalah upaya kompensasi dari kemungkinan (sekali lagi: kemungkinan) disharmoni di ranah domestik.

Ini tidak terlalu ideal, namun manusiawi. Dugaan saya bisa betul, bisa pula salah. Saya berharap film tadi siang memberikan jawaban terhadap dugaan itu.

Tapi tidak. Tak ada jawaban itu dalam film Nyai Ahmad Dahlan. Soal poligami, film itu sama bisunya dengan Sang Pencerah. Penasaran? Tonton segera filmnya.

Demikian catatan saya, mbak Bintang Wisnuwardhani. Ini hasil obrolan dengan simbok Siti Qudsiati Utami tadi sore. Mungkin ini sekalian laporan pada ustadz Taufiq Ar.

Mari kita tutup dengan bacaan Hamdalah bersama-sama…

Jika umat kemudian mendengar/mengetahui bahwa KH. Dahlan beristri 4, tanpa mengetahi sebab-musababnya, akan ada salah interpretasi.

Dari Berbagai Sumber