Hilangnya Kedaulatan, Rampok Gaya Amrik

Untuk kesekian kalinya Amerika melakukan tindakan ilegal atas kedaulatan negara lain, kali ini dengan menculik presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Maduro ini sebenarnya seorang bajingan tak tahu malu. Tidak seperti pendahulunya Hugo Chavez yang dicintai rakyat dan membawa kesejahteraan. Maduro telah menggiring rakyat dalam kesengsaraan.

Ia menjerumuskan Venezuela dalam inflasi karena kebijakan konyol memonopoli Dollar.

Jadi rakyat Venezuela hanya boleh membeli atau menjual Dollar lewat pemerintah, dengan harga tetap yang dipatok dan jumlah transaksinya dibatasi.

Akibatnya, rakyat kesulitan jika harus melakukan transaksi antar negara. Kebijakan Maduro membuka pintu perdagangan Dollar ilegal.

Tingginya permintaan Dollar di pasar gelap menyebabkan mata uang Venezuela membusuk. Harga Dollar pasar gelap meroket seperti ekonomi bulan September di zaman pakde.

Membusuknya mata uang Venezuela merembet ke semua sektor ekonomi. Dimulai dari barang-barang impor yang tak mampu dibeli lagi. Dan akhirnya semua barang harganya melonjak ribuan kali lipat.

Jika di masa Chavez pendapatan per kapita rakyat sempat menembus 12 ribu Dollar per tahun, era Maduro terjun sampai sisa 1.500 Dollar. Inflasi 65.000% pada 2018.

Rumah sakit berbau busuk karena listrik padam tak mampu bayar tagihan, mengakibatkan matinya peti pendingin mayat. Terjadilah pembusukan.

Daging-daging berlalat dijual di pasar. Sama seperti RS, pedagang tak bisa menyimpannya di freezer. Jeroan dan tulang yang di era sebelumnya dianggap makanan Anjing, laris dibeli sebagai lauk murah.

Ini ironis dengan kondisi Venezuela yang merupakan pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, walau kualitasnya jauh di bawah minyak negara Teluk.

Rakyat tak bisa berbuat banyak. Pemilu dicurangi secara terang-terangan. Hasil penghitungan suara diganti jadi milik Maduro sebagai pemenang. Aksi protes ditanggapi dengan sangat brutal.

Di masa itu sampai-sampai rakyat dan sebagian parlemen meresmikan presiden tandingan.

Namun protes gagal membesar dan bertahan lama akibat kedatangan pandemi Covid-19 dan lockdown, yang membuat Maduro tetap berkuasa. Apalagi di masa itu ia masih mendapat back up kuat dari China dan Rusia.

Bajingan akan berhadapan dengan bajingan lain. Kali ini yang dihadapi Maduro adalah Donald Trump.

Trump segera menyudutkan Venezuela sebagai negara penjual narkoba. Dengan dalih yang kita tahu mungkin dibuat-buat, AS mulai menyerang kapal sipil Venezuela yang dituduh sedang menyelundupkan Kokain ke AS.

Bahkan kapal tankernya pun dibajak oleh militer AS.

Maduro seperti tak berkutik oleh ancaman Trump. Entah menganggap omongan Trump sebagai celotehan kosong, atau memang ia tak percaya diri dan tak punya mental pejuang Sosialis anti imperialis. Korupsi bikin seseorang jadi penakut.

Ternyata AS serius. Maduro diculik tanpa perlawanan berarti dan langsung dibawa ke New York untuk disidang. Bahkan operasi penggrebekan Usamah bin Laden lebih berbahaya bagi AS daripada penculikan Maduro.

AS melanggar kedaulatan negara lain, pasti. Tapi ini adalah pesan bahwa isu kedaulatan tak lagi relevan. Semua tergantung kekuatan.

Walau operasi menculik presiden sebuah negara sukses tanpa kendala serius, bukan berarti rezim di Venezuela langsung berganti sesuai maunya AS.

Jajaran pejabat dari Wapres sampai jaksa agung, semuanya masih orang lama. Kalau bukan anak buah Maduro ya pengikut Chavez.