IPM DALAM GERAKAN DAKWAH DI ERA MODERNISASI

Sudah satu abad berkiprah Muhammadiyah. Ikatan Pelajar Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi berbasis pelajar didirikan sebagai bentuk respon terhadap penjagaan ideologi pelajar dari ideologi komunisme yang berkembang pada saat itu sehingga di perlukan organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah sebagai sayap pelajar yang berpacu pada persoalan – persoalan pelajar dan dunia, serta sebagai wadah kaderisasi Muhammadiyah sehingga dapat melangsungkan dan menyempurnakan visi misi Muhammadiyah. Selain itu, Ikatan Pelajar Muhammadiyah tidak hanya berperan sebagai wadah kaderisasi tetapi juga sebagai gerak dakwah para pelajar di setiap era. Hal ini tentu berjalan selaras dengan tujuan berdirinya IPM untuk membentuk pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia,
Dakwah berasal dari Bahasa Arab, yaitu da’a, yad’u, du’a yang diartikan sebagai mengajak / menyeru, memanggil, seruan, permohonan, dan permintaan. Dakwah sendiri merupakan metode yang di gunakan agama untuk menyebarkan luaskan dan mengamalkan ajaran agama secara sadar, agar dapat membangkitkan fitri seseorang yang didakwahi hingga dapat membebaskan dan menyadarkan terhadap hal – hal yang membelenggu masyarakat, seperti kemiskinan dan kemiskinan umat – umat di zaman ini. Sebagaimana firman Allah pada surat Al-Imran ayat 104 bahwasanya kita di perintahkan untuk amar ma’ruf nahi munkar.
Di era pergerakan IPM sekarang sangat diperlukan untuk mengontrol remaja di tengah dinamika dunia yang semakin tak menentu arahnya membuat kita semua seolah-akan berada di antara garis kebajikan dan kebathilan secara beriringan. Akses informasi tanpa batas, digital yang penggunaannya tidak efisien, budaya barat juga kini menjadi kebiasaan bagi pemuda, merupakan contoh kecil yang bisa berdampak besar bagi pelajar sebagai objek berbagai kebijakan. Kerancuan – kerancuan yang begitu banyak hingga menjadi sasaran empuk untuk merusak remaja yang sedang mencari jati diri dan menghadapi problematika kehidupan di tengah kebebasan dunia hingga adanya kemerosotan aqidah dan tauhid bagi umat islam saat ini. Lalu apakah langkah yang harus diambil oleh Kader IPM?
IPM sebagai ujung tombak Muhammadiyah harus memperdalam ilmu pengetahuan, pemikiran dan kesadaran kritis transformatif juga harus dibangun dengan tujuan yang sama. Dimana setiap kader IPM mampu berpikir kritis terhadap perkembangan zaman ke masa, dan tak lupa kita harus selalu membentengi diri dengan aqidah. Kemudian mengimplementasikannya kepada sekitar dengan menyeru kepada yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar, baik itu melalui dakwah digital, maupun menyesuaikan dengan eksistensi duniawi (dakwah bil-lisan, dakwah bil-qalam, ataupun dakwah bil-hal).
Seperti hal nya di Era Modern ini sedang marak – marak nya teknologi digital yang dapat dijadikan sebagai media untuk berdakwah. Contohnya, melalui media sosial, yang saat ini penggunaannya mayoritas digunanakan sebagai sarana hiburan semata, dari hal tersebut kita bisa merubah utilitasnya sebagai wadah awal kita untuk berdakwah, kita bisa memulai dari membuat postingan seperti artikel, kutipan, animasi, kajian online, hingga bermacam-macam – macam konten yang berisi ajakan agama, ilmu pengetahuan dan sasaran dakwah – dakwah lainnya.
Maka dari itu kita sebagai kader IPM sekaligus mediator dakwah harus bisa senantiasa mengawali gerakan dakwah di mana pun itu. Melalui segala metode dan media yang sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga terwujudnya kader religius, progresif, dan moderat, salam IPM jaya!

Penulis: Azka F.