Jakarta, KH. Hasyim Asy’ari memiliki nama lengkap Muhammad Hasyim
bin Asy’ari bin Abdul Wahid
bin Abdul Halim atau yang populer dengan nama Pangeran Benawa
bin Abdul Rahman yang juga dikenal dengan julukan Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya)
bin Abdullah
bin Abdul Aziz
bin Abdul Fatah
bin Maulana Ishaq
bin Ainul Yakin yang populer dengan sebutan Sunan Giri.
Sementara dari jalur ibu adalah
Muhammad Hasyim
binti Halimah
binti Layyinah
binti Sihah
bin Abdul Jabbar
bin Ahmad
bin Pangeran Sambo
bin Pangeran Benawa
bin Jaka Tingkir atau juga dikenal dengan nama Mas Karebet
bin Lembu Peteng (Prabu Brawijaya VI).
Penyebutan pertama menunjuk pada silsilah keturunan dari jalur bapak,
sedangkan yang kedua dari jalur ibu.[1]
Ditilik dari dua silsilah diatas,
Kiai Hasyim mewakili dua trah sekaligus,
yaitu bangawan jawa dan elit agama (Islam).
Dari jalur ayah,
bertemu langsung dengan bangsawan muslim Jawa (Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir)
dan sekaligus elit agama Jawa (Sunan Giri).
Sementara dari jalur ibu,
masih keturunan langsung Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng)
yang berlatar belakang bangsawan Hindu Jawa.
Kiai Hasyim dilahirkan dari pasangan Kiai Asy’ari dan Halimah
pada hari Selasa kliwon tanggal 14 Februari tahun 1871 M
atau bertepatan dengan 12 Dzulqa’dah tahun 1287 H.
Tempat kelahiran beliau berada disekitar 2 kilometer ke arah utara dari kota Jombang, tepatnya di Pesantren Gedang.
Gedang sendiri merupakan salah satu dusun yang terletak di desa Tambakrejo kecamatan Jombang.
Sejak masa kanak-kanak,
Kiai Hasyim hidup dalam lingkungan Pesantren Muslim tradisional Gedang.
Keluarga besarnya bukan saja pengelola pesantren,
tetapi juga pendiri pesantren yang masih cukup populer hingga saat ini.
Ayah Kiai Hasyim (Kiai Asy’ari) merupakan pendiri Pesantren Keras (Jombang).
Sedangkan kakeknya dari jalur ibu (Kiai Utsman)
dikenal sebagai pendiri dan pengasuh Pesantren Gedang yang pernah menjadi pusat perhatian terutama dari santri-santri Jawa pada akhir abad ke-19.
Sementara kakek ibunya yang bernama Kiai Sihah
dikenal luas sebagai pendiri dan pengasuh Pesantren Tambak Beras Jombang.
Pada umur lima tahun,
Kiai Hasyim berpindah dari Gedang ke desa Keras, sebuah desa di sebelah selatan kota Jombang karena mengikuti ayah dan ibunya yang sedang membangun pesantren baru.
Di sini, Kiai Hasyim menghabiskan masa kecilnya hingga berumur 15 tahun,
sebelum akhirnya, meninggalkan desa Keras dan menjelajahi berbagai pesantren ternama saat itu hingga ke Makkah.
Pada usianya yang ke-21,
Kiai Hasyim menikah dengan Nafisah, salah seorang putri Kiai Ya’qub
(Siwalan Panji, Sidoarjo).
Pernikahan itu dilangsungkan pada tahun 1892 M/1308 H.
Tidak lama kemudian,
Kiai Hasyim bersama istri dan mertuanya berangkat ke Makkah guna menunaikan ibadah haji.
Bersama istrinya, Nyai Nafisah,
Kiai Hasyim kemudian melanjutkan tinggal di Makkah untuk menuntut ilmu.
Tujuh bulan kemudian,
Nafisah meninggal dunia setelah melahirkan seorang putra bernama Abdullah.
Empat puluh hari kemudian,
Abdullah menyusul ibu ke alam baka.
Kematian dua orang yang sangat dicintainya itu,
membuat Kiai Hasyim sangat terpukul.
Kiai Hasyim akhirnya memutuskan tidak berlama-lama di Tanah Suci
dan kembali ke Indonesia setahun kemudian.
Setelah lama menduda,
Kiai Hasyim menikah lagi dengan seorang gadis anak Kiai Romli
dari desa Karangkates (Kediri) bernama Khadijah.
Pernikahannya dilakukan sekembalinya dari Makkah pada tahun 1899 M/1325 H.
Pernikahannya dengan istri kedua juga tidak bertahan lama,
karena dua tahun kemudian (1901),
Nyai Khadijah meninggal.
Untuk ketiga kalinya,
Kiai Hasyim menikah lagi dengan perempuan nama Nafiqah,
anak Kiai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun.
Dan mendapatkan sepuluh orang anak,
yaitu: Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hakim, Abdul Karim, Ubaidillah, Mashurah, dan Muhammad Yusuf.
Perkawinan Kiai Hasyim dengan Nafiqah juga berhenti di tengah jalan,
karena Nafiqah meninggal dunia pada tahun 1920 M.
Sepeninggal Nafiqah,
Kiai Hasyim memutuskan menikah lagi dengan Masrurah,
Putri Kiai Hasan yang juga pengasuh Pesantren Kapurejo, pagu (Kediri).
Dari hasil perkawinan keempatnya ini,
Kiai Hasyim memiliki empat orang anak:
Abdul Qadir, Fatimah, Khadijah dan Muhammad Ya’qub.
Perkawinan dengan Masrurah ini merupakan perkawinan terakhir bagi Kiai Hasyim hingga akhir hayat beliau.
▪Riwayat Pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari
Kiai Hasyim dikenal sebagai tokoh yang haus pengetahuan agama (islam).
Untuk mengobati kehausannya itu,
Kiai Hasyim pergi ke berbagai pondok pesantren terkenal di Jawa Timur saat itu.
Tidak hanya itu,
Kiai Hasyim juga menghabiskan waktu cukup lama untuk mendalami islam di tanah suci (Makkah dan Madinah).
Dapat dikatakan,
Kiai Hasyim termasuk dari sekian santri yang benar-benar secara serius menerapkan falsafah Jawa,
“LURU ILMU KANTI LELAKU”
(mencari ilmu adalah dengan berkelana atau sambil kelana)
Karena berlatar belakang keluarga pesantren,
Kiai Hasyim secara serius di didik dan dibimbing mendalami pengetahuan islam oleh ayahnya sendiri dalam jangka yang cukup lama mulai dari anak-anak hingga berumur lima belas tahun.
Melalui ayahnya,
Kiai Hasyim mulai mengenal dan mendalami Tauhid, Tafsir, Hadith, Bahasa Arab dan bidang kajian islam lainnya.
Dalam bimbingan ayahnya,
kecerdasan Kiai Hasyim cukup menonjol.
Belum genap berumur 13 tahun,
Kiai Hasyim telah mampu menguasai berbagai bidang kajian islam dan dipercaya membantu ayahnya mengajar santri yang lebih senior.
Belum puas atas pengetahuan yang didapatkan dari ayahnya,
Kiai Hasyim mulai menjelajahi beberapa pesantren.
Mula-mula, Kiai Hasyim belajar di pesantren Wonokoyo (Probolinggo),
lalu berpindah ke pesantren Langitan (Tuban).
Merasa belum cukup puas,
Kiai Hasyim melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Pesantren Tenggilis (Surabaya),
dan kemudian berpindah ke Pesantren Kademangan (Bangkalan), yang saat itu diasuh oleh Kiai Kholil.
Setelah dari pesantren Kiai Kholil,
Kiai Hasyim melanjutkan di pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo) yang diasuh oleh Kiai Ya’kub dipandang sebagai dua tokoh penting yang berkontribusi membentuk kapasitas intelektual Kiai Hasyim.
Selama tiga tahun Kiai Hasyim mendalami berbagai bidang kajian islam,
terutama tata bahasa arab, sastra, fiqh dan tasawuf kepada Kiai Kholil.
Sementara, di bawah bimbingan Kiai Ya’kub, Kiai Hasyim berhasil mendalami Tauhid, fiqh, Adab, Tafsir dan Hadits.
Atas nasihat Kiai Ya’kub,
Kiai Hasyim akhirnya meninggalkan tanah air untuk berguru pada ulama-ulama terkenal di Makkah sambil menunaikan ibadah haji untuk kali kedua.
Di Makkah, Kiai Hasyim berguru pada syaikh Ahmad Amin al-Attar,
Sayyid Sultan bin Hashim,
Sayyid Ahmad bin Hasan al-Attas,
Syaikh Sa’id al-Yamani,
Sayyid Alawi bin Ahmad al-Saqqaf,
Sayyid Abbas Maliki,
Sayyid Abdullah al-Zawawi,
Syaikh Salih Bafadal, dan
Syaikh Sultan Hasim Dagastana,
Syaikh Shuayb bin Abd al-Rahman,
Syaikh Ibrahim Arab,
Syaikh Rahmatullah,
Sayyid Alwi al-Saqqaf,
Sayyid Abu Bakr Shata al-Dimyati, dan
Sayyid Husayn al-Habshi yang saat itu menjadi multi di Makkah.
Selain itu,
Kiai Hasyim juga menimba pengetahuan dari Syaikh Ahmad Khatib Minankabawi,
Syaikh Nawawi al-Bnatani dan
Syaikh Mahfuz al-Tirmisi.
Tiga nama yang disebut terakhir (Khatib, Nawawi dan Mahfuz)
adalah guru besar di Makkah saat itu yang juga memberikan pengaruh signifikan dalam pembentukan intelektual Kiai Hasyim di masa selanjutnya.
Presatasi belajar Kiai Hasyim yang menonjol,
membuatnya kemudian juga memperoleh kepercaaan untuk mengajar di Masjid al-Haram.
Beberapa ulama terkenal dari berbagai negara tercatat pernah belajar kepadanya.
Di antaranya ialah Syaikh Sa’d Allah al-Maymani (mufti di Bombay, India),
Syaikh Umar Hamdan (ahli hadith di Makkah),
al-Shihan Ahmad bin Abdullah (Syiria),
KH. Abdul Wahhanb Chasbullah (Tambakberas, Jombang),
K. H. R Asnawi (Kudus),
KH. Dahlan (Kudus),
KH. Bisri Syansuri (Denanyar, Jombang),
dan KH. Saleh (Tayu).
Seperti disinggung di atas,
Kiai Hasyim pernah mendapatkan bimbingan langsung dari Syaikh Khatib al-Minankabawi dan mengikuti halaqah-halaqah yang di gelar oleh gurunya tersebut.
Beberapa sisi tertentu dari pandangan Kiai Hasyim,
khususnya mengenai tarekat, diduga kuat juga dipengaruhi oleh pemikiran kritisnya gurunya itu,
meskipun pada sisi yang lain Kiai Hasyim berbeda dengannya.
Dialektika intelektual antara guru dan murid (Syaikh Khatib Kiai Hasyim) ini sangat menarik.
Sejak masih di Makkah,
Kiai Hasyim sudah memiliki ketertarikan tersendiri dengan tarekat.
Bahkan , Kiai Hasyim juga sempat mempelajari dan mendapat ijazah tarekat Qadiriyah wa Naqshabandiyah melalui salah melalui salah satu gurunya (Syaikh Mahfuz).
▪Karya-Karya KH. Hasyim Asy’ari
Adapun di antara beberapa karya KH. Hasyim Asy’ari yang masih bisa ditemui
dan menjadi kitab wajib untuk dipelajari di pesantren-pesantren Nusantara sampai sekarang antara lain:[2]
》At-Tibyan fi al-Nahy’an Muqatha’at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan
Kitab ini selesai ditulis pada hari Senin, 20 Syawal 1260 H
dan kemudian diterbitkan oleh Muktabah al-Turats al-Islami, Pesantren Tebuireng.
Kitab tersebut berisi penjelasan mengenai pentingnya membangun persaudaraan di tengah perbedaan serta memberikan penjelasan akan bahayanya memutus tali persaudaraan atau silatuhrami.
》Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama
Kitab ini berisikan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari,
Terutama berkaitan dengan NU.
Dalam kitab tersebut,
KH. Hasyim Asy’ari menguntip beberapa ayat dan hadits yang menjadi landasannya dalam mendirikan NU.
Bagi penggerak-penggerak NU,
kitab tersebut barangkali dapat dikatakan sebagai bacaan wajib mereka.
》Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah
Dalam kitab ini,
KH. Hasyim Asy’ari tidak sekedar menjelaskan pemikiran empat imam madzhab, yakni Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Abu Ahmad bin Hanbal.
Namun, ia juga memaparkan alasan-alasan kenapa pemikiran di antara keempat imam itu patut kita jadikan rujukan.
》Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama
Sebagaimana judulnya,
kitab ini berisi empat puluh hadits pilihan yang sangat tepat dijadikan pedoman oleh warga NU.
Hadits yang dipilih oleh KH. Hasyim Asy’ari terutama berkaitan dengan hadits-hadits yang mejelaskan pentingnya memegang prinsip dalam kehidupan yang penuh dengan rintangan dan hambatan ini.
》Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim fi ma Yanhaju Ilaih al-Muta’allim fi Maqamati Ta’limihi
Pada dasarnya,
kitab ini merupakanresume dari kitab Adab al-Mu’allimkarya Syekh Muhamad bin Sahnun,
Ta’lim al-Muta’allim fi Thariqat al-Ta’allum
karya Syekh Burhanuddin az-Zarnuji,
dan Tadzkirat al-Syaml wa al-Mutakalli fi Adab al-Alim wa al-Muta’allim
karya Syekh Ibnu Jamaah.
Meskipun merupakan bentuk resumedari kitab-kitab tersebut,
tetapi dalam kitab tersebut kita dapat mengetahui betapa besar perhatian KH. Hasyim Asy’ari terhadap dunia pendidikan.
》Rasalah Ahl aas-Sunnah wa al-Jamaah fi Hadts al-Mauta wa Syuruth as-Sa’ah wa Bayani Mafhum as-Sunnah wa al-Bid’ah
Karya KH. Hasyim Asy’ari yang satu ini barangkali dapat dikatakan sebagai kitab yang relevan untuk dikaji saat ini.
Hal tersebut karena di dalamnya banyak membahas tentang bagaimana sebenarnya penegasan antara sunnag dan bid’ah.
Secara tidak langsung,
kitab tersebut banyak membahas persoalan-persoalan yang bakal muncul di kemudian hari. Terutama saat ini.
Dalam beberapa karya KH. Hasyim Asy’ari tersebut,
kita dapat menyimpulkan betapa besar dan luasnya perhatian KH. Hasyim Asy’ari terhadap agama serta betapa mendalamnya pengetahuannya di bidang tersebut.
Karya-karya KH. Hasyim Asy’ari itu menjadi bukti tak terbantahkan betapa ia memang merupakan seorang ulama sammujtahid yang telah banyak mengahasilkan berbagai warisan tak ternilai, baik dari segi keilmuan maupun dari segi keorganisasian seperti halnya NU.
_____________
SISI LAIN
Ini kisah yg bisa di percaya bahwasanya ada seorang Kyai yg bernama Mbah Kyai Thoyib (ada yg mengatakan beliau dari Bugul Pasuruan) beliau seorang kyai sepuh guru dari KH Abdullah Hunain Lekok, dan KH Abdul Hamid Pasuruan pun bertabarukan berguru kepada Mbah Kyai Thoyib.
Suatu ketika Mbah Kyai Thoyib bermimpi bertemu dengan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari padahal beliau sudah wafat, dalam mimpi tersebut Mbah Kyai Hasyim Asy’ari tiba² jejek (menendang) dada Mbah Thoyib dengan kerasnya.
Setelah kejadian mimpi tersebut dgn kuasa Allah ﷻ segala ilmu oleh Allah seakan akan di tuangkan kepada beliau, dan beliau diberi kemudahan memahami dan menghafal banyak kitab.
Menurut almarhum KH Ishaq Lathif beliau dari almarhum KH Shobari bahwasannya Mbah Kyai Hasyim Asy’ari beliau telah mengaji satu kitab yaitu kitab Fathul Qorib sebanyak 41 kali.
Artinya berapa banyak ulama yg telah di datangi Mbah Kyai Hasyim hanya untuk belajar satu kitab saja, mungkin 25 Ulama, 35 Ulama atau mungkin 41 ulama hanya untuk belajar satu kitab yaitu Fathul Qorib.
Sangat jarang sekali, apalagi di zaman ini orang yg mau mengkhatamkan suatu kitab sampai berkali² bahkan berpuluh² kali dengan guru yg berbeda² pula.
Padahal kita jika sudah hatam satu Kitab Pada Kyai A, B dan C, sudah khatam satu kitab tiga kali pada tiga orang ulama kita sudah merasa cukup dan selanjutnya hanya tinggal di mutholaah dan dihafalkan saja.
Hal tersebut tidak berlaku bagi Mbah Kyai Hasyim Asy’ari, beliau tidak hanya mengejar ilmu tapi juga mengejar Barokah dari banyaknya guru² beliau tersebut.
Semakin banyak belajar kepada ulama maka otomatis semakin banyak pula barokah yg Insya Allah di dapat.
Diceritakan konon bahwasanya KH Hasyim Asyari saat mengajar santri²nya di Pesantren Tebuireng sering menangis jika membaca kitab fiqih Fathul Qarib yg dikarang oleh Syaikh Nawawi.
Kenangan terhadap gurunya itu amat mendalam di hati KH Hasyim Asyari hingga haru tak kuasa ditahannya setiap kali baris Fath al-Qarib ia ajarkan pada santri²nya.
Mbah Kyai Hasyim adalah pribadi yg tekun, semangat dalam belajar, kuat dalam riyadhoh (tirakat) untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah ﷻ .
Di tengah² kesibukan menuntut ilmu, beliau menyempatkan diri berziarah ke tempat² mustajab, seperti Padang Arafah, Goa Hira, Maqam Ibrahim, juga termasuk ke makam Rasulullah ﷺ .
Setiap Sabtu pagi beliau berangkat menuju Goa Hira di Jabal Nur, kurang lebih 10 km. di luar Kota Mekkah, untuk mempelajari dan menghafalkan hadis² Nabi.
Setiap berangkat menuju Goa Hira, Kiai Hasyim selalu membawa al-Qur’an dan kitab² yang ingin dipelajarinya.
Jika hari Jumat tiba, beliau bergegas turun menuju Kota Mekkah guna menunaikan salat Jumat di sana.
Di ceritakan oleh Agus M Zaki cucu Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari, ketika selesai mengisi pengajian di Mojokerto, saya dapat kisah tentang kyai Hasyim Asy’ari.
Setelah mengkhatamkan kitab Bukhari – Muslim dan menerima sanadnya, beliau dengan berbekal segenggam beras, menyepi digua Hira dan membaca kedua kitab itu selama 41 hari.
Ternyata belum sampai 41 hari, beras sudah habis.
Akhirnya beliau mencuil sedikit lembaran² kitab Bukhari Muslim yg dibacanya sebagai ganti beras yang telah habis.
Mbah kyai Hasyim Asy’ari ketika mondok beliau makan nasi aking (karak) lalu beliau bungkus pakai kain lalu di gantung di kamarnya.
Setiap kali beliau mau masak beliau ambil lidi beliau tusuk bungkusan nasi aking tersebut , nasi aking yg keluar karena di tusuk itulah yg di masak buat makan untuk hari itu.
Seandainya tidak beruntung nasi aking yg di tusuk tidak keluar berarti hari itu tidak makan.
Nabi Khidir عليه السلام , dikisahkan pula bahwanya suatu ketika ada seseorang di jalan yang sangat yg tubuhnya kotor dan di penuhi penyakit menjijikkan meminta gendong kyai Amin Imron, minta digendong ke gerbang pondok, tapi kyai Imron menolaknya karena merasa jijik.
Akhirnya orang tersebut meminta tolong kyai Hasyim yang waktu itu kebetulan ada disitu.
Tanpa merasa jijik kyai Hasyim menggendong orang tersebut sampai ke gerbang pondok. Sesampainya digerbang pondok orang itu turun dan sebelum pergi orang itu menyatakan bahwanya jika dirinya itu adalah Nabi Khidir.
Kejadian tersebut dibenarkan oleh Mbah Kyai Kholil, jika orang tersebut memang benar Nabi Khidir.
Nabi Khidir sendiri merupakan guru spritual dari para wali²Nya Allah di muka bumi ini, biasanya orang² sholeh bertemu dengan Nabi Khidir mereka hanya bisa berjabat tangan.
Tetapi yg terjadi dengan Kyai Hasyim, Nabi Khidir sendiri yg meminta untuk di gendong, ini merupakan suatu bentuk keistimewaan/penghormatan (suatu hal yang jarang terjadi) Nabiyullah Khidir minta di gendong.
Tentunya karena adanya perhatian yg lebih dari Nabi Khidir kepada Kyai Hasyim dan juga merupakan salah satu cara Allah untuk memuliakan beliau Kyai Hasyim.
Kejadian tersebut mengisyaratkan bahwanya jika Kyai Hasyim adalah seorang pilihan yang memiliki maqom (kedukan) yg tinggi baik secara keilmuan dan spritual.
Kelak akan menggendong (menjadi bapak) pemuka (muqoddam) bagi umat Islam di Indonesia.
Dan itu pun terbukti dengan beliau mendirikan organisasi Nahdlotul Ulama (NU) pada tahun 1926 Masehi yg merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan terbesar di dunia.
Beliau pun satu²nya ulama yg mendapatkan gelar dari para ulama sebagai Raisul Akbar (Pimpinan terbesar) Nahdlotul Ulama (NU), setelah beliau tidak yg memakai gelar tersebut.
Bahkan dalam fakta sejarah tahun 1942 dari pemerintahan Jepang waktu di Indonesia, disitu tertuliskan bahwasanya ada kurang lebih 25.000 (dua puluh lima ribu) ulama atau kyai seluruh Indonesia bahkan ada yg dari luar negeri pernah berguru kepada KH Muhammad Hasyim Asy’ari.
Oleh sebab itu para ulama juga menggelari beliau dgn gelar Hadratus Syaikh (Maha Guru yg Mulia).
Mbah Kyai Kholil Bangkalan gurunya, yang dianggap sebagai pemimpin spiritual (Qutub) para kyai di tanah Jawa sangat menghormati Kyai Hasyim.
Dan setelah Kiyai Kholil wafat, banyak para ulama yg mengatakan KH. Hasyim-lah yang dianggap sebagai pemimpin spiritual (Qutub).
Maka tidaklah heran jika banyak diantara santri² yg telah belajar bertahun² kepada Mbah Kyai Kholil bahkan santri² tersebut banyak diantaranya merupakan teman dari Mbah Hasyim tidak jarang usianya lebih tua dari beliau, setelah mereka belajar dari Mbah Kholil Bangkalan banyak yg melanjutkan di makkah selama bertahun² .
Setelah mereka pulang ke Indonesia mereka masih menyempatkan diri untuk belajar lagi kepada Mbah Kyai Hasyim Asy’ari.
Hal tersebut juga di lakukan oleh ulama dan kyai² lainya setelah lama belajar di Makkah, mereka pulang ke Indonesia mereka masih belajar lagi kepada Mbah Kyai Hasyim Asy’ari.
KH Zubair Umar al Jailani Salatiga Jawa Tengah beliau adalah salah satu murid dari Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, setelah belajar kepada Mbah Kyai Hasyim Asyari, Kyai Zubair melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Makkah.
Mbah Kyai Hasyim berpesan kepada Kyai Zubair untuk mendalami hadits setibanya di Makkah tetapi beliau lebih tertarik untuk memperdalam Ilmu Falak yang telah beliau dapatkan dari Mbah Kyai Hasyim.
Keinginannya Kyai Zubair untuk mendapatkan guru Ilmu Falak seperti Mbah Kyai Hasyim Asy’ari Tebuireng di Makkah al-Mukarramah kandas.
Karena saat test berlangsung, di ketahui bahwa Ilmu beliau dalam hal falak telah jauh diatas guru yg ada di Makkah sehingga yg terjadi guru tersebut justru yg belajar kepada Kyai Zubair
Kemudian beliau meninggalkan Makkah dan menuju ke Madinah untuk menemui ahli falak disana.
Namun saat di Madinah, beliau juga tidak mendapatkan guru yg diharapkan seperti Mbah Kyai Hasyim Asyari masih belum ketemu.
Kemudian beliau di sarankan untuk pergi ke Syiria (Damaskus).
Sesampainya di Syiria, hasilnya tetap sama.
Hingga ahirnya beliau melanjutkan perjalanan ke Palestina.
Dan harapan beliau untuk bertemu ahli falak disana juga masih belum terpenuhi.
Baru kemudian beliau disarankan untuk menemui seorang guru di Al-Azhar waktu itu rektornya dipegang oleh Syekh Musthafa al-Maraghi.
Disinilah beliau bertemu dengan ulama yang beliau harapkan yaitu Syeikh Umar Hamdan al-Mahrasi (w.1949) dengan kitab kajian al-Matla’ al-Sa’id karya Husain Zaid al-Misri dan al-Manahij al-Hamidiyah karya Abdul Hamid Mursy.
Data astronomis yg digunakan kitab al-Khulasah al-Wafiyah sama dengan data yg ada pada kitab al-Matla’ al-Sa’id, tetapi menggunakan epoch (mabda’) Mekkah, karena kitab tersebut dikonsep ketika KH. Zubair bermukim di Makkah.
Menurut catatan sejarah bahwasanya Syeikh Umar Hamdan al-Mahrasi merupakan salah satu murid dari Mbah Kyai Hasyim Asy’ari, karena Mbah Kyai Hasyim Asy’ari sendiri juga pernah mengajar di masjidil harom.
Al-Habib Sayyid Muhammad Asad Syihab seorang jurnalis asing dari Timur Tengah yang masih termasuk kakek buyut Prof. Dr. Muhammad Quraisy Shihab, penulis biografi yang luar biasa.
Di tangan beliau pulalah lahir sebuah buku sangat monumental berjudul : “Allamah Muhammad Hasyim Asya’ari wadhiu Libinati Istiqlali Indonesi” (Maha guru Muhammad Hasyim Asy’ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia).
Sebuah buku berbahasa Arab yg di terbitkan di luar negri oleh Percetakan Beirut Libanon.
Hadratus Syaikh termasuk idola saya, bagi saya Hadratus Syaikh memang lain beliau betul² Maha Kyai (Al-allamah).
Menurut Sayyid Muhammad Asad Syihab “selama ini saya lebih mengenal Hadratus Syaikh lewat tulisan² beliau sendiri, dari kisah penuturan para Kyai yg menangi (sezaman) yg bertemu dan mengenal beliau.
Risalah kecil Sayyid Muhammad Asad Syihab ini bagi saya sendiri mungkin meneguhkan atau melengkapi gamabaran tentang Hadratus Syaikh : seorang Maha Kyai dalam arti yang sebenar²nya sekaligus pejuang bangsa.
Beliau tidak hanya memiliki kedalaman ilmu dan tanggung jawab pengamalan serta penyebaranya namun juga keluasan wawasan dan pandangan yg hampir tidak di miliki oleh sembarang Kyai.
Para Kyai dan ulama di Indonesia sangatlah wajar jika menghormati beliau sebagai Raisul akbar (pemimpin agung/tertinggi) mereka satu-satunya.
Hampir semua Kyai dari kalangan ahlus sunnah waljamaah terutama dari kalangan jami’iyah Nahdlotul Ulama kesawaban ilmu dan ajaranya.
Maka jika orang mengitlakkan menyebutkan “Hadratus Syikh” tiada lain yg di maksud beliau.
Dalam proses penulisan risalah tersebut Sayyid Muhammad Asad Syihab memerlukan tinggal beberapa lama di pesantren Tebuireng dan mengadakan beberapa kali wawancara baik dengan Hadratus Syaikh sendiri dan maupun dengan lainya.
(Oleh KH Mustofa Bisri Rembang Jawa Tengah)
KH Maimun Zubair bercerita : Jika kita telusuri sejarahnya, diantara pondok pesantren di Indonesia ini ada saling kait-mengait.
Dari situ kita bisa mengetahui bahwa Allah ﷻ itu ternyata mempunyai mahluq “ZAMAN” .
Jadi yg dimaksud dari maqolah “Al insan Abnau Zaman” adalah, Allah swt itu menciptakan “ZAMAN” bagi orang yg baik² .
Dan kebaikan “ZAMAN” ini harus diketahui oleh kita.
Pada zaman Mbah Hasyim Asy’ari, orang nggak bakalan bisa menjadi kyai besar tanpa adanya Mbah Hasyim Asy’ari.
Satu contoh di daerah Lasem, disana itu Kyainya besar-besar, ada :
Mbah Kyai Masduki
Mbah Kyai Kholil Harun
Mbah Kyai Ma’shum
Mbah Kyai Baidhowi malah paling alim.
Dari empat Kyai itu yg paling erat hubungannya dgn Kyai Hasyim Asy’ari adalah Mbah Kyai Ma’shum.
Maka tidak heran jika beliau santrinya paling banyak.
Tidak ada dalam sejarahnya, pondok pesantren yg diasuh Mbah Kyai Baidhowi Lasem itu santrinya banyak, paling pool hanya خمسين (50), dikarenakan hal itu memang sudah wayahe (waktunya), itu menurut saya, jelas Syikhul Islam Nusntara ini lebih lanjut.
Jadi waktu itu yg menjadi “ابناءالزمان“ nya adalah Mbah Kyai Hasyim Asy’ari.
Pondok yang ada di Sarang juga begitu, seumpama Mbah saya (KH Ahmad bin Syuaib) tidak ngaji ke Mbah Hasyim Asy’ari, yah habis pondok Sarang.
Begitu juga pondok Lirboyo, jika Mbah Kyai Manaf tidak mondok ke Tebuireng yah habis santrinya.
Pengasuh pondok Ploso (KH Jazuli Usman), pondok Rejoso Peterongan, pondok Buntet Cirebon juga mengaji pada Mbah Kyai Hasyim Asy’ari.
Lha sekarang Abna’ az-Zaman itu berada dimana??
والله أعلم
Saya sendiri tidak tahu, kata Syaikhul Islam menutup ceritanya.
Boleh jadi memang, pada zaman Hadhrotus Syaikh Hasyim Asy’ari ada Ulama ataupun Kyai yang lebih alim atupun lebih besar dan banyak keramatnya dibanding Hadhrotus Syaikh, akan tetapi hampir semua mata dan telinga Masyarakat maupun segenap para Ulama pada masa itu selalu tertuju pada dawuh, sikap, kebijakan, dan apa saja yg dilakukan Hadhrotus Syaikh, karena beliaulah “SANG ANAK EMAS ZAMAN” dimasanya.
والله أعلم .
(Sumber : Buku Pesantren Lirboyo Kediri)
والله أعلم بالصوب
===============================================
Catatan : (Kisah Kyai Hasyim dan Nabi Khidir ini sumber penulis dapatkan langsung dari Haji Qohar Rambipuji-Jember, beliau sendiri mendengarkan langsung dari gurunya Almarhum KH. Ali Wafa/KH. Abdul Aziz (Pendiri Pesantren Al Wafa) Tempurejo Jember.
Menurut KH. Ali Wafa/KH. Abdul Aziz cerita tersebut pernah di ceritakan oleh Mbah Kyai Kholil kepada santri²nya di Bangkalan dan Mbah Kyai Kholil juga membenarkan Kisah tersebut. .
(KH. Ali Wafa sendiri merupakan teman dari KH. Hasyim Asy’ari yg sama² santri dari Mbah Kyai Kholil Bangkalan).











